Uptodai.com - Kinerja ekspor nonmigas Indonesia menunjukkan tren positif pada pembukaan tahun 2026 dengan mencatatkan nilai sebesar US$ 22,16 miliar. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 3,39 persen dibandingkan capaian pada Januari 2025. Pertumbuhan ini menjadi sinyal kuat mengenai ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika pasar global yang terus berfluktuasi.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa industri pengolahan menjadi motor penggerak utama dalam kenaikan ini. Sektor manufaktur tercatat sebagai satu-satunya lapangan usaha yang mampu tumbuh positif secara signifikan pada periode laporan tersebut. Kontribusi industri pengolahan sangat dominan dalam menjaga stabilitas neraca perdagangan luar negeri Indonesia.

Realisasi ekspor dari sektor industri pengolahan menyentuh angka US$ 18,51 miliar atau melonjak hingga 8,19 persen secara tahunan. Kenaikan ini didorong oleh permintaan yang kuat terhadap sejumlah produk olahan hasil hilirisasi dalam negeri. Pemerintah terus berupaya menjaga momentum positif ini agar target pertumbuhan ekonomi tahunan tetap berada pada jalur yang tepat.

CPO dan Nikel Jadi Primadona Ekspor Awal Tahun

Beberapa komoditas unggulan kembali menunjukkan taringnya dalam menyumbang devisa negara melalui jalur perdagangan internasional. Peningkatan ekspor secara signifikan terjadi pada produk minyak kelapa sawit (CPO) serta nikel olahan yang kian diminati pasar dunia. Kedua komoditas ini tetap menjadi daya tarik utama bagi banyak negara mitra dagang, terutama untuk kebutuhan energi dan industri berat.

Selain itu, produk besi dan baja serta komponen elektronik seperti semi konduktor mencatatkan performa yang sangat memuaskan. Ekspor kendaraan roda empat pun turut menyumbang angka yang cukup besar bagi total pendapatan nonmigas di awal tahun ini. Diversifikasi produk ekspor membuktikan bahwa program hilirisasi industri mulai memberikan dampak nyata bagi penguatan ekonomi makro.

Kenaikan pada sektor manufaktur ini sekaligus menutupi kekurangan yang terjadi pada beberapa sektor lainnya yang sedang mengalami tekanan. Ateng Hartono menyebutkan bahwa keberhasilan industri pengolahan ini menjadi faktor pembeda dalam rapor perdagangan Januari 2026. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan kesiapan pelaku industri menjadi kunci utama di balik angka-angka positif tersebut.

Sektor Pertanian dan Pertambangan Mengalami Kontraksi

Berbanding terbalik dengan kegemilangan sektor manufaktur, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan justru mengalami penurunan yang cukup tajam. Nilai ekspor pada sektor ini hanya mampu menyentuh angka US$ 440 juta sepanjang Januari 2026. Penurunan tersebut mencapai 20,36 persen jika kita bandingkan dengan realisasi pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Kondisi serupa juga terlihat pada sektor pertambangan dan komoditas lainnya yang terkoreksi cukup dalam hingga menyentuh dua digit. Sektor pertambangan mencatatkan nilai ekspor sebesar US$ 2,32 miliar, yang berarti merosot sebesar 14,59 persen secara tahunan. Penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari dinamika harga komoditas mentah hingga perubahan kebijakan perdagangan di tingkat global.

Ateng Hartono menegaskan bahwa penurunan di dua sektor primer ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi kinerja perdagangan. Meskipun secara total ekspor masih tumbuh, pelemahan di sektor pertanian dan pertambangan tetap perlu diantisipasi. Langkah-langkah mitigasi diperlukan agar sektor-sektor ini tidak terus merosot pada bulan-bulan berikutnya.

Tantangan Global dan Strategi Perdagangan Mendatang

Meskipun industri pengolahan tumbuh subur, pemerintah tetap harus mewaspadai volatilitas pasar internasional yang bisa terjadi kapan saja. Fluktuasi harga komoditas global seringkali menjadi faktor penentu yang sulit diprediksi oleh para pelaku usaha di tanah air. Oleh karena itu, penguatan pasar domestik dan perluasan mitra dagang baru menjadi langkah strategis yang sangat krusial bagi Indonesia.

BPS akan terus memantau pergerakan arus barang keluar dan masuk untuk memberikan data yang akurat bagi para pengambil kebijakan. Keberhasilan industri manufaktur diharapkan mampu memberikan efek domino positif ke sektor-sektor lain agar pertumbuhan ekonomi menjadi lebih inklusif. Konsistensi dalam menjaga kualitas produk ekspor tetap menjadi modal utama dalam memenangkan persaingan di pasar global.