Uptodai.com - Dampak kenaikan harga minyak dunia kini mulai menghantui pasar energi internasional menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin memanas. Penutupan Selat Hormuz secara mendadak memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas pasokan energi global dalam jangka panjang. Kondisi ini terjadi setelah ketegangan militer yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran mencapai titik didih.

Pasar merespons cepat situasi tersebut dengan lonjakan harga yang cukup signifikan pada perdagangan awal pekan ini. Harga minyak acuan Brent Crude dilaporkan melesat hingga 10 persen hanya dalam hitungan jam. Saat ini, angka tersebut mendekati level 80 dolar AS per barel, sebuah kenaikan drastis dibandingkan posisi pekan lalu.

Padahal, pada penutupan perdagangan Jumat sebelumnya, harga minyak masih bertengger di kisaran 73 dolar AS per barel. Level tersebut sebenarnya sudah merupakan angka tertinggi sejak pertengahan tahun 2025. Namun, ancaman terhentinya distribusi di jalur laut paling vital di dunia mengubah peta kekuatan pasar secara instan.

Peran Vital Selat Hormuz dalam Ekonomi Global

Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa, melainkan urat nadi utama bagi pergerakan energi dunia. Wilayah yang memisahkan Iran dan Oman ini menjadi perlintasan bagi lebih dari 20 persen total pasokan minyak global setiap harinya. Tanpa akses melalui jalur ini, distribusi minyak mentah ke berbagai belahan dunia akan mengalami kelumpuhan total.

Pemerintah Iran secara tegas telah mengeluarkan peringatan keras kepada kapal-kapal tanker untuk tidak melintasi wilayah perairan tersebut. Langkah ini memaksa sejumlah perusahaan minyak raksasa dan rumah dagang energi internasional untuk menghentikan operasional mereka sementara waktu. Mereka memilih untuk menahan pengiriman minyak mentah dan gas alam cair demi menghindari risiko keamanan yang fatal.

Situasi ini menciptakan efek domino pada rantai pasok energi di berbagai benua, termasuk Asia dan Eropa. Para pelaku pasar kini bersiap menghadapi ketidakpastian pasokan yang bisa berlangsung selama berminggu-minggu. Jika blokade terus berlanjut, cadangan minyak strategis di banyak negara akan terkuras lebih cepat dari perkiraan semula.

Potensi Harga Menembus 100 Dolar AS per Barel

Para ahli energi memprediksi bahwa situasi ini bisa memburuk jika penutupan Selat Hormuz berlangsung dalam durasi yang lama. Direktur energi dan pemurnian ICIS, Ajay Parmar, menekankan bahwa faktor militer hanyalah pemicu awal dari krisis ini. Menurutnya, variabel paling krusial yang akan melambungkan harga adalah kepastian akses jalur distribusi tersebut.

Jika jalur ini tetap tertutup, Ajay memperkirakan harga minyak dunia bisa dibuka langsung pada angka 100 dolar AS per barel. Hilangnya pasokan sekitar 8 hingga 10 juta barel per hari menjadi alasan logis di balik prediksi tersebut. Jumlah tersebut setara dengan sepersepuluh dari total kebutuhan minyak penduduk bumi setiap harinya.

Meskipun terdapat jalur alternatif seperti pipa lintas Arab Saudi dan jaringan pipa Abu Dhabi, kapasitasnya dinilai belum memadai. Infrastruktur darat tersebut tidak dirancang untuk menampung seluruh volume minyak yang biasanya mengalir melalui Selat Hormuz. Kesenjangan antara pasokan dan permintaan inilah yang akan terus menekan harga ke level tertinggi dalam sejarah baru-baru ini.

Ancaman Lonjakan Harga BBM di Indonesia

Bagi Indonesia, fenomena krisis energi global ini merupakan alarm serius bagi ketahanan ekonomi nasional. Sebagai negara importir minyak, kenaikan harga komoditas ini akan berdampak langsung pada besaran subsidi energi di APBN. Pemerintah kemungkinan besar harus mengevaluasi kembali harga jual bahan bakar minyak (BBM) di tingkat domestik.

Jika tren kenaikan ini terus berlanjut hingga menembus angka psikologis 100 dolar AS, tekanan terhadap nilai tukar Rupiah juga akan meningkat. Masyarakat perlu bersiap menghadapi potensi lonjakan harga BBM nonsubsidi dalam waktu dekat. Sektor transportasi dan industri logistik diprediksi akan menjadi pihak pertama yang merasakan dampak kenaikan biaya operasional tersebut.

Ketegangan di Timur Tengah ini menjadi pengingat betapa rapuhnya stabilitas energi global terhadap isu geopolitik. Koordinasi antarnegara produsen minyak sangat diperlukan untuk menstabilkan pasar agar tidak terjadi krisis yang lebih luas. Semua mata kini tertuju pada perkembangan di Selat Hormuz dan langkah diplomasi internasional selanjutnya untuk meredam konflik.