Uptodai.com - Dunia seni dan budaya tanah air tengah berduka setelah kabar Pendiri Museum Musik Indonesia meninggal dunia tersiar luas pada Selasa (3/3/2026). Sosok Herwanto bin Soewarsono, atau yang lebih akrab disapa Hengki, mengembuskan napas terakhirnya dalam usia 69 tahun. Kepergian tokoh penting di balik pelestarian sejarah musik ini menyisakan kesedihan mendalam bagi para pecinta seni di tanah air.

Kabar duka tersebut dikonfirmasi langsung oleh manajemen Museum Musik Indonesia (MMI) melalui kanal media sosial resmi mereka. Hengki dinyatakan wafat saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Mayapada Hospital Surabaya tepat pada pukul 07.15 WIB. Hingga saat ini, pihak keluarga maupun manajemen belum memberikan keterangan mendalam mengenai penyebab pasti meninggalnya sang tokoh musik tersebut.

Pihak keluarga saat ini telah menyemayamkan jenazah almarhum di rumah duka yang beralamat di Jalan Citarum Nomor 17, Kota Malang. Berdasarkan informasi yang dihimpun, prosesi pemakaman akan dilangsungkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Samaan Malang. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi komunitas pelestari budaya dan sejarah musik yang ada di Indonesia.

Dedikasi Hengki Sang Penjaga Nada Indonesia

Pihak museum memberikan penghormatan terakhir dengan menyebut bahwa jiwa dan raga MMI melekat erat pada sosok almarhum selama masa hidupnya. Beliau bukan sekadar ketua organisasi, melainkan penggerak utama dalam menyelamatkan ribuan artefak musik yang terancam hilang dimakan waktu. Upaya penyelamatan ini mencakup berbagai genre musik, baik dari dalam negeri maupun kancah internasional.

Museum Musik Indonesia sendiri saat ini berlokasi di Gedung Kesenian Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur. Di tempat inilah, Hengki mengumpulkan berbagai bukti otentik perjalanan musik nusantara yang dimulai sejak era 1950-an. Koleksinya meliputi piringan hitam, kaset, majalah musik jadul, hingga instrumen langka yang menjadi saksi bisu perkembangan industri kreatif.

Manajemen MMI mengenang Hengki sebagai sosok yang tak kenal lelah dalam mencintai kepingan sejarah musik bangsa. Seluruh hidupnya ia dedikasikan untuk merawat ingatan kolektif masyarakat melalui nada dan dokumentasi fisik. Kerja kerasnya selama puluhan tahun telah membuahkan hasil berupa museum musik pertama dan terlengkap yang diakui secara nasional.

Warisan Berharga untuk Generasi Mendatang

Visi utama Hengki dalam mendirikan museum ini adalah agar masyarakat luas dapat mengapresiasi sejarah musik secara langsung dan mudah. Ia percaya bahwa musik merupakan identitas bangsa yang harus terus dirawat agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman yang serba digital. Komitmen inilah yang membuat MMI menjadi salah satu rujukan utama bagi para peneliti musik dari berbagai penjuru dunia.

Manajemen MMI berkomitmen untuk terus melanjutkan perjuangan dan visi besar yang telah diletakkan oleh sang pendiri. Mereka bertekad menjaga setiap kepingan sejarah yang telah dikumpulkan Hengki sebagai warisan abadi bagi generasi muda Indonesia. Hal ini penting agar narasi musik masa lalu tetap bisa terdengar oleh anak cucu di masa depan.

Doa dan ucapan bela sungkawa terus mengalir dari berbagai kalangan, mulai dari musisi senior hingga para kolektor musik. Mereka berharap almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa serta diampuni segala kesalahannya. Selamat jalan Sang Penjaga Nada, dedikasi dan semangatmu akan selalu menggema dalam setiap alunan musik Indonesia.