Uptodai.com - Hubungan diplomatik China dan Amerika Serikat kini berada di titik nadir menyusul kritik tajam yang dilontarkan Beijing terhadap eskalasi militer di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, secara terbuka mengecam tindakan militer Amerika Serikat dan Israel yang menyasar wilayah Iran baru-baru ini.

Dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung di Beijing, Wang Yi menegaskan bahwa konflik bersenjata tersebut seharusnya tidak perlu terjadi. Ia menilai penggunaan kekuatan militer secara ugal-ugalan hanya akan memperkeruh stabilitas keamanan internasional yang sudah rapuh.

Kritik Pedas Wang Yi Terhadap Hegemoni Militer

Diplomat senior tersebut menggunakan perumpamaan yang kuat untuk menggambarkan situasi global saat ini. Wang Yi menyatakan bahwa kekuatan fisik atau militer yang besar tidak serta-merta menunjukkan kebenaran dalam bertindak.

“Tinju yang kuat tidak berarti akal sehat yang kuat. Dunia tidak bisa kembali ke hukum rimba,” tegas Wang Yi di hadapan para jurnalis internasional. Pernyataan ini merujuk pada kekhawatiran Beijing terhadap dominasi sepihak yang sering ditunjukkan oleh Washington.

Komentar pedas ini disampaikan Wang Yi di sela-sela agenda politik tahunan China yang dikenal sebagai “Dua Sesi”. Pertemuan parlemen dan badan konsultatif politik ini memang menjadi sorotan dunia untuk melihat arah kebijakan luar negeri Negeri Tirai Bambu.

Dampak Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih

Situasi geopolitik semakin memanas mengingat hubungan diplomatik China dan Amerika Serikat terus diuji sejak Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS. Kebijakan proteksionis dan retorika keras Trump memicu babak baru dalam perang dagang kedua negara.

Beijing mencermati setiap langkah Washington, terutama terkait pemberlakuan tarif balasan yang merugikan sektor ekonomi global. Ketegangan ini tidak hanya terbatas pada urusan perdagangan, namun merembet ke isu keamanan di kawasan Timur Tengah dan Ukraina.

China secara konsisten mengutuk tindakan militer yang menargetkan kedaulatan Iran. Sebagai mitra dagang strategis, Beijing merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut dari intervensi asing.

Solidaritas China untuk Iran dan Rusia

Kecaman China semakin mengeras setelah insiden pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang memicu gelombang kemarahan di Teheran. Beijing memandang aksi tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap norma internasional dan kedaulatan sebuah negara.

Di sisi lain, Wang Yi juga menyinggung hubungan erat antara Beijing dan Moskow yang kerap mendapat kritik dari negara-negara Barat. Ia menegaskan bahwa kerja sama strategis dengan Rusia tetap kokoh meskipun tekanan internasional terus meningkat akibat perang di Ukraina.

“Di tengah lingkungan internasional yang bergejolak dan kompleks, hubungan China-Rusia tetap teguh dan tak tergoyahkan,” pungkasnya. China kini mendesak AS untuk mengelola perbedaan dengan kepala dingin dan menghilangkan campur tangan yang tidak perlu demi perdamaian dunia.