Uptodai.com - Manfaat KUR BRI bagi pengusaha genteng terbukti mampu memperkuat fondasi ekonomi para pelaku usaha mikro di berbagai daerah. Nurhasanah, seorang pengrajin genteng asal Majalengka, merasakan langsung bagaimana suntikan modal ini mengubah skala bisnis keluarganya secara signifikan. Bersama dua saudarinya, ia kini sukses meneruskan warisan usaha yang telah dirintis sang ibu sejak puluhan tahun silam.

Belakangan ini, Nurhasanah mengungkapkan bahwa permintaan pasar terhadap genteng produksinya mengalami lonjakan yang cukup pesat. Pesanan mengalir deras tidak hanya dari pasar lokal, tetapi juga merambah kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Tegal. Kondisi ini menuntut pihak pengelola untuk bekerja ekstra keras demi menjaga kepercayaan pelanggan yang terus bertambah.

Pabrik genteng milik keluarga Nurhasanah saat ini telah mempekerjakan sekitar 150 orang tenaga kerja untuk mendukung operasional harian. Meski jumlah karyawan tergolong besar, kapasitas tersebut rupanya masih belum mencukupi untuk mengejar target permintaan yang melimpah. Nurhasanah mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini bukan pada pasar, melainkan pada ketersediaan tenaga kerja produktif.

Tantangan Regenerasi dan Kapasitas Produksi Genteng

Fenomena pergeseran minat kerja generasi muda menjadi kendala tersendiri bagi keberlangsungan industri genteng tradisional di Majalengka. Sebagian besar tenaga kerja yang bertahan saat ini merupakan pekerja berusia lanjut yang telah memiliki keahlian turun-temurun. Sementara itu, anak muda di wilayah tersebut cenderung lebih memilih bekerja di sektor industri manufaktur atau perusahaan besar.

Kondisi ini membuat Nurhasanah harus memutar otak agar produktivitas tetap terjaga di tengah keterbatasan sumber daya manusia. Dalam keterangannya pada Sabtu (14/3/2026), ia menyebutkan bahwa mencari tenaga kerja baru di era sekarang bukanlah perkara mudah. Persaingan dengan sektor industri modern menjadi faktor utama yang menghambat regenerasi pengrajin genteng lokal.

Untuk menyiasati hal tersebut, penggunaan teknologi mesin menjadi solusi yang sangat krusial dalam proses produksi. Saat ini, usaha keluarga tersebut mengoperasikan 12 mesin press canggih untuk mempercepat pembuatan produk. Dengan dukungan mesin tersebut, pabrik mampu menghasilkan sedikitnya 16.000 keping genteng berkualitas setiap minggunya.

Ekspansi Pasar dan Peningkatan Omzet Bulanan

Distribusi produk genteng Majalengka ini telah menjangkau berbagai wilayah strategis di Pulau Jawa yang sedang gencar melakukan pembangunan. Tingginya aktivitas konstruksi di kota-kota besar memberikan dampak langsung pada perputaran uang di bisnis milik Nurhasanah. Berkat konsistensi kualitas, ia kini mampu mencatatkan omzet hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari manajemen keuangan yang sehat dan akses permodalan yang mudah dijangkau. Nurhasanah menegaskan bahwa dirinya tidak menemui kendala berarti dalam urusan modal usaha selama masa ekspansi. Hal ini terjadi karena usahanya telah mendapatkan dukungan penuh melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI.

Kerja sama strategis dengan bank pelat merah tersebut telah terjalin dengan baik selama empat tahun terakhir. Nurhasanah merasa sangat terbantu dengan proses yang transparan dan bunga yang kompetitif bagi pelaku UMKM. Ia menilai bahwa program ini merupakan penyelamat bagi usaha kecil yang ingin naik kelas ke level yang lebih profesional.

Dukungan BRI untuk Sektor Perumahan dan UMKM

BRI terus menunjukkan komitmen nyata dalam memperkuat ekosistem UMKM, khususnya yang berkaitan dengan rantai pasok sektor perumahan. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa pihaknya siap mengambil peran strategis dalam mendukung program “gentengisasi” nasional. Melalui pembiayaan KUR, BRI berupaya memastikan para pengrajin memiliki daya saing yang tinggi di pasar.

Selain memberikan bantuan modal, BRI juga berperan sebagai jembatan penghubung antara pengrajin genteng dengan para pengembang perumahan. Langkah ini bertujuan untuk memperpendek rantai pasok sehingga para pengrajin mendapatkan harga jual yang lebih adil. Konektivitas digital dan akses pasar yang lebih luas menjadi fokus utama BRI dalam memberdayakan pelaku usaha lokal.

Hery menjelaskan bahwa peran BRI berada di tengah-tengah sebagai fasilitator yang menjamin kelancaran transaksi antara penjual dan pembeli. Ketika kontrak kerja sama antara pengrajin dan pengembang sudah terbentuk, BRI hadir memberikan kepastian finansial bagi kedua belah pihak. Pola sinergi seperti ini diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.