Uptodai.com - Hobi trail run Lionil Hendrik kini menjadi fokus baru bagi sang aktor setelah bertahun-tahun menghabiskan waktu dengan mendaki gunung. Pria yang kerap menghiasi layar kaca melalui berbagai judul FTV ini mengaku mulai jatuh cinta pada olahraga lari lintas alam tersebut sejak setahun terakhir. Transformasi hobi ini membawa perspektif baru bagi Lionil dalam memandang keindahan alam Indonesia.

Ketertarikan Lionil pada dunia lari sebenarnya berawal dari sebuah ketidaksengajaan yang unik saat ia sedang mendaki. Ia menceritakan pengalamannya ketika masih aktif mendaki gunung dan sering berpapasan dengan para pelari di jalur pendakian yang sempit. Saat itu, ia merasa kehadiran para pelari justru cukup mengganggu ketenangan para pendaki.

Dahulu, Lionil merasa heran mengapa ada orang yang memilih untuk berlari di medan yang begitu berat dan menanjak. Ia bahkan sempat merasa kesal karena para pelari sering kali meminta jalan dengan terburu-buru di tengah hutan. Hal ini sempat membuatnya memiliki pandangan negatif terhadap komunitas lari lintas alam.

“Dulu tuh kalau lagi naik gunung kayak, ‘Ini ngapain sih orang-orang pada lari gitu?’. Kayak, ‘Misi, misi, misi,’ gitu, kayak menyebalkan ya,” ujar Lionil Hendrik saat ditemui di kawasan Tendean, Jakarta Selatan. Ia merasa aksi para pelari tersebut terkesan terlalu terburu-buru dan kurang memperhatikan kenyamanan pendaki lain yang sedang membawa beban berat.

Pentingnya Etika Berpapasan di Jalur Trail Run

Namun, rasa penasaran akhirnya membawa Lionil untuk mencoba sendiri tantangan lari di jalur pendakian tersebut. Setelah terjun langsung dan merasakannya sendiri, ia baru menyadari bahwa ada seni serta etika tersendiri di balik olahraga ekstrem ini. Lionil kini memahami mengapa para pelari harus menjaga momentum mereka saat berada di jalur.

Lionil kini aktif menekankan bahwa saling menghormati antara pendaki dan pelari adalah kunci utama keselamatan serta kenyamanan di alam bebas. Ia menyadari bahwa pendaki yang membawa beban berat sering kali merasa lelah dan butuh ruang lebih untuk melangkah. Oleh karena itu, komunikasi yang baik di jalur pendakian sangat diperlukan.

“Mungkin dari gue dan teman-teman gunung lainnya yang akhirnya trail run bisa sharing ke teman-teman lari yang lain,” jelasnya dengan antusias. Ia ingin mengedukasi komunitas lari agar tidak asal menyerobot pendaki yang sedang berjuang menapaki jalur pendakian yang curam. Menurutnya, menghargai sesama pengguna jalur adalah bagian dari profesionalisme seorang pelari.

Mitos Harus Berlari Terus di Jalur Ekstrem

Banyak orang awam mengira bahwa olahraga trail run mewajibkan pelakunya untuk berlari tanpa henti di sepanjang jalur yang ekstrem. Lionil mematahkan anggapan tersebut dengan menjelaskan bahwa berjalan kaki adalah bagian sah dan strategis dari olahraga ini. Tidak semua medan harus dilalui dengan kecepatan tinggi, terutama pada tanjakan teknis.

Menurutnya, mengatur ritme jantung dan manajemen tenaga jauh lebih penting daripada sekadar memaksakan kecepatan di awal perlombaan. Strategi berjalan cepat saat menghadapi tanjakan curam justru membantu atlet menjaga stamina untuk menempuh jarak yang lebih jauh. Hal ini menjadi ilmu baru yang ia pelajari selama setahun mendalami hobi barunya.

Sejauh ini, Lionil sudah mengikuti berbagai kegiatan latihan bersama komunitas dan brand olahraga ternama. Ia sempat mengikuti sesi latihan intensif di Bandung untuk mengasah teknik lari di medan teknis. Pengalaman-pengalaman kecil inilah yang kemudian memupuk ambisinya untuk naik ke level yang lebih profesional.

Target Ambisius Lionil Hendrik di Ajang Rinjani 100

Tidak main-main, Lionil kini mulai mempersiapkan fisik dan mentalnya untuk mengikuti kompetisi lari lintas alam yang lebih menantang. Ia membidik kategori ultra trail dengan jarak tempuh yang mencapai puluhan hingga ratusan kilometer. Target ini merupakan lompatan besar dari sekadar hobi lari biasa di akhir pekan.

Salah satu agenda terdekat yang menjadi impiannya adalah berpartisipasi dalam ajang bergengsi Rinjani 100 di Nusa Tenggara Barat. Gunung Rinjani yang dikenal dengan medannya yang sangat ikonik dan menantang menjadi ujian sesungguhnya bagi pria pecinta alam ini. Ia sadar bahwa persiapan untuk ajang tersebut membutuhkan dedikasi yang sangat tinggi.

Lionil juga terinspirasi oleh standar perlombaan internasional di luar negeri yang sering kali menempuh jarak ratusan mil. Baginya, mencapai garis finis di kategori ultra adalah sebuah pencapaian personal yang sangat luar biasa. Ia terus memotivasi dirinya untuk berlatih secara bertahap demi mencapai target jarak 100 hingga 175 kilometer di masa depan.

Selain fokus pada lari, ambisinya untuk menaklukkan gunung-gunung tertinggi di dunia tetap menyala di dalam dirinya. Ia berharap suatu saat nanti bisa membawa bendera Indonesia ke puncak-puncak dunia yang legendaris melalui ekspedisi pendakian. Bagi Lionil, baik mendaki maupun lari lintas alam adalah cara terbaik untuk merayakan kebesaran Tuhan melalui alam.