Uptodai.com - Investasi Proyek Abadi Masela senilai Rp339 triliun kini memasuki babak baru setelah pemerintah Indonesia mendesak percepatan pengerjaan fisik di lapangan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, secara langsung meminta Inpex Corporation untuk segera mengeksekusi tahapan krusial agar proyek ini tidak terus tertunda.

Langkah tegas ini diambil untuk memastikan ketahanan energi nasional sekaligus menggerakkan roda ekonomi di wilayah Timur Indonesia. Bahlil menekankan bahwa proyek strategis nasional ini harus segera memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas dan tidak sekadar menjadi rencana di atas kertas.

Percepatan Tahap FEED dan Tender EPC Secara Paralel

Dalam pertemuan resmi di Tokyo, Jepang, Bahlil mengapresiasi kemajuan pengembangan Blok Masela yang saat ini telah mencapai angka 25 persen. Namun, ia menginginkan agar tahapan Front End Engineering and Design (FEED) bisa segera dimulai pada kuartal kedua atau paling lambat kuartal ketiga tahun 2026.

Percepatan FEED ini bertujuan agar proses tender Engineering Procurement Construction (EPC) dapat berjalan secara paralel tanpa menunggu waktu lama. Strategi ini diharapkan mampu memangkas birokrasi teknis yang selama ini sering menjadi penghambat utama proyek-proyek energi skala besar di tanah air.

Bahlil mengungkapkan rasa tidak sabarnya karena proyek ini sudah mengalami dinamika panjang selama kurang lebih 27 tahun. Ia tidak ingin melihat proyek di tanah kelahiran ibundanya tersebut baru selesai saat usianya sudah memasuki masa senja dan kehilangan momentum ekonomi.

Danantara Siap Menjadi Pembeli Siaga LNG Masela

Salah satu tantangan besar dalam proyek ini adalah kepastian pembeli atau offtaker untuk hilirisasi gas alam cair yang produksinya mencapai 9 juta ton per tahun (MTPA). Untuk mengatasi keraguan investor terkait pasar, pemerintah menawarkan solusi konkret melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Bahlil memberikan tenggat waktu hingga akhir April 2026 bagi Inpex untuk mencari pembeli serius dari pihak swasta maupun pasar internasional. Jika hingga batas waktu tersebut belum ada kesepakatan, Danantara akan turun tangan untuk membeli seluruh pasokan gas tersebut guna menjamin keberlangsungan proyek.

Kehadiran negara melalui Danantara menjadi jaminan bahwa penyerapan produksi LNG tidak akan terganggu oleh fluktuasi permintaan global. Langkah berani ini menunjukkan komitmen serius Indonesia dalam mengelola sumber daya alamnya secara mandiri demi kepentingan industri dalam negeri.

Komitmen Inpex Corporation Terhadap Kedaulatan Energi RI

CEO Inpex Corporation, Takayuki Ueda, menyambut positif tawaran dan dorongan kuat dari pemerintah Indonesia tersebut. Ia mengakui bahwa dukungan moral serta kepastian skema pembelian dari Menteri ESDM memberikan suntikan semangat baru bagi seluruh jajaran manajemen Inpex.

Ueda menyebutkan bahwa dirinya telah mendedikasikan waktu selama 12 tahun untuk mengawal jalannya proyek raksasa di Maluku ini. Pihaknya berjanji akan mengerahkan segala sumber daya teknis dan finansial untuk memenuhi target waktu yang telah disepakati bersama pemerintah.

Dari sisi administratif, sejumlah perizinan penting dilaporkan telah rampung pada awal tahun ini sehingga tidak ada lagi hambatan regulasi yang berarti. Sinergi antara pemerintah Indonesia dan investor asal Jepang ini diharapkan menjadi tonggak sejarah baru bagi kebangkitan industri migas nasional.