Uptodai.com - Perhitungan biaya operasional mobil listrik kini menjadi faktor penentu utama bagi konsumen otomotif di tengah fluktuasi harga energi global yang tidak menentu. Lonjakan harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh angka USD120 per barel pada awal 2026 memaksa masyarakat mencari alternatif transportasi yang lebih ekonomis. Kondisi ini mendorong perubahan besar dalam pola konsumsi energi di sektor transportasi darat.

Fenomena pergeseran minat ini memicu lonjakan permintaan kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) secara signifikan di berbagai belahan dunia. Di pasar otomotif utama Eropa seperti Jerman, Inggris, Italia, dan Prancis, penjualan NEV mencatat kenaikan hingga 23,1 persen secara tahunan. Tren tersebut membuktikan bahwa efisiensi bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan sudah menjadi kebutuhan finansial yang mendesak.

Indonesia tidak luput dari tren global ini, di mana calon pembeli mulai sangat kritis dalam menghitung pengeluaran jangka panjang. Masyarakat kini lebih teliti membandingkan biaya pengisian daya listrik dengan anggaran rutin pembelian bahan bakar minyak (BBM). Menanggapi kebutuhan informasi tersebut, Jaecoo Indonesia merilis simulasi biaya penggunaan harian untuk lini produk unggulan mereka.

Simulasi Biaya Operasional Mobil Listrik Jaecoo J5 EV

Jaecoo Indonesia melakukan simulasi mendalam terhadap tiga model andalannya, yakni J5 EV, J7 SHS-P, dan J8 SHS-P ARDIS. Simulasi ini menggunakan parameter penggunaan kendaraan sejauh 1.500 kilometer per bulan. Angka tersebut dianggap sangat relevan karena mencerminkan rata-rata mobilitas harian masyarakat di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung.

Berdasarkan hasil pengujian, Jaecoo J5 EV muncul sebagai model dengan tingkat efisiensi paling tinggi di antara lini produk lainnya. Dengan asumsi tarif listrik PLN sebesar Rp1.700 per kWh, pemilik kendaraan hanya perlu mengeluarkan dana sekitar Rp290.760 setiap bulannya. Jika angka tersebut dibagi dalam penggunaan harian, maka biaya operasional mobil listrik ini hanya menyentuh Rp9.600 per hari.

Angka yang tidak sampai sepuluh ribu rupiah tersebut tentu sangat jauh lebih murah jika dibandingkan dengan biaya bensin motor matik sekalipun. Jaecoo J5 EV sendiri mengandalkan baterai berkapasitas 60,9 kWh yang mampu menempuh jarak maksimal hingga 420 kilometer dalam sekali pengisian penuh. Efisiensi konversi energi dari baterai ke penggerak roda menjadi kunci utama murahnya biaya harian tersebut.

Pilihan Teknologi Hybrid untuk Efisiensi Maksimal

Selain model murni listrik, Jaecoo juga memberikan gambaran biaya untuk model plug-in hybrid melalui J7 SHS-P dan J8 SHS-P ARDIS. Teknologi Super Hybrid System (SHS) yang tersemat pada kedua model ini menawarkan keseimbangan antara performa mesin pembakaran internal dan efisiensi motor listrik. Hal ini menjadi solusi bagi pengguna yang masih memiliki kekhawatiran terkait jarak tempuh (range anxiety).

Business Unit Director Jaecoo Indonesia, Jim Ma, menjelaskan bahwa perusahaan ingin memberikan edukasi transparan mengenai pengeluaran energi setiap model. Pihaknya menyadari bahwa banyak calon pembeli yang masih ragu dalam membandingkan berbagai teknologi mesin yang ada saat ini. Lewat data simulasi ini, konsumen diharapkan dapat menentukan pilihan yang paling sesuai dengan profil mobilitas mereka.

“Kami ingin membantu konsumen memahami estimasi pengeluaran energi dari setiap lini Jaecoo sehingga mereka dapat memilih model yang paling tepat,” ujar Jim Ma dalam keterangan resminya. Langkah ini sekaligus mempertegas komitmen perusahaan dalam mendukung percepatan ekosistem kendaraan ramah lingkungan di tanah air.

Keuntungan Jangka Panjang Kendaraan Listrik

Selain biaya operasional mobil listrik yang sangat rendah, konsumen juga perlu mempertimbangkan aspek biaya perawatan berkala. Kendaraan listrik memiliki komponen bergerak yang jauh lebih sedikit dibandingkan mesin konvensional, sehingga biaya servis rutin biasanya jauh lebih terjangkau. Tidak ada lagi kebutuhan rutin untuk pengganti oli mesin, busi, atau filter bahan bakar yang sering menyita anggaran.

Pemerintah Indonesia juga terus memberikan berbagai insentif untuk mendorong kepemilikan kendaraan listrik, mulai dari pajak yang lebih rendah hingga pembebasan aturan ganjil genap. Kombinasi antara biaya harian yang murah dan dukungan regulasi menjadikan mobil listrik sebagai investasi yang sangat masuk akal di masa depan. Penghematan dari sektor energi ini dapat dialokasikan untuk kebutuhan rumah tangga lainnya yang lebih produktif.