Uptodai.com - Perjalanan karier Oktovianus Maniani dalam kancah sepak bola tanah air menyisakan banyak cerita menarik yang patut untuk disimak kembali oleh para pecinta olahraga. Winger lincah yang sempat menjadi idola publik ini pernah berada di puncak popularitas sebelum akhirnya menempuh jalan hidup yang tak terduga.

Namanya mulai melambung tinggi saat ia membela panji Merah Putih di bawah arahan pelatih Alfred Riedl pada awal dekade 2010-an. Kecepatan lari dan kemampuan dribelnya yang memukau membuat pertahanan lawan sering kali kocar-kacir menghadapi aksinya di sisi sayap lapangan hijau.

Fenomena “Lionel Messi dari Papua” di Piala AFF 2010

Okto Maniani mencuri perhatian publik saat tampil sangat impresif pada ajang Piala AFF 2010 silam. Penampilannya yang enerjik di sisi sayap kiri membuat banyak pengamat sepak bola memberikan julukan “Lionel Messi dari Papua” kepadanya.

Kombinasi antara kecepatan murni dan teknik individu yang mumpuni menjadikannya salah satu pemain paling berbahaya di Asia Tenggara kala itu. Puncak prestasinya di level junior terjadi saat ia berhasil membantu Timnas Indonesia U-23 meraih medali perak pada ajang SEA Games 2011 di Jakarta.

Dukungan ribuan suporter di Stadion Utama Gelora Bung Karno kala itu seolah menjadi saksi kehebatan pemain kelahiran Jayapura tersebut. Namun, siapa sangka bahwa gemerlap karier di kasta tertinggi perlahan mulai meredup seiring dengan dinamika kompetisi sepak bola nasional.

Menjaga Sentuhan Bola di Kerasnya Liga Tarkam

Setelah sempat memperkuat sejumlah klub besar seperti Sriwijaya FC, Persiter Ternate, hingga Barito Putera, nama Okto mulai jarang terdengar di kompetisi kasta tertinggi. Kondisi ini membawanya pada sebuah keputusan yang cukup mengejutkan bagi banyak penggemar sepak bola nasional yang merindukan aksinya.

Sosok eks pemain Timnas Indonesia ini sempat tertangkap kamera sedang merumput dalam kompetisi antarkampung atau tarkam di wilayah Sulawesi Barat. Okto bergabung dengan klub lokal bernama Persekab Kabe FC untuk bertanding dalam turnamen Tammejarra yang berlangsung pada tahun 2022.

Meskipun level kompetisinya jauh berbeda dengan atmosfer laga internasional, Okto tetap menunjukkan profesionalisme dan kualitas kelas wahid di lapangan. Ia berhasil membawa timnya melaju hingga babak final dan membuktikan bahwa insting sepak bolanya belum benar-benar hilang dimakan waktu.

Kehadirannya di lapangan tarkam tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat setempat yang ingin melihat langsung aksi sang legenda dari dekat. Hal ini sekaligus menunjukkan sisi lain dari perjuangan pesepak bola profesional Indonesia dalam menjaga eksistensi dan kondisi fisik mereka.

Babak Baru Oktovianus Maniani di Dunia Politik

Memasuki tahun 2023, Oktovianus Maniani akhirnya memutuskan untuk gantung sepatu secara profesional setelah terakhir kali membela klub PSBS Biak. Keputusan besar ini menandai berakhirnya perjalanan panjang sang pemain lincah di rumput hijau kompetisi resmi tanah air.

Tidak butuh waktu lama bagi Okto untuk mencari tantangan baru di luar dunia olahraga yang telah membesarkan namanya selama belasan tahun. Ia mencoba peruntungan di dunia politik dengan mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Provinsi Papua pada Pemilu 2024 melalui Partai Golkar.

Okto maju untuk daerah pemilihan Yapen Waropen dengan visi besar untuk membawa perubahan positif bagi tanah kelahirannya di Papua. Walaupun perolehan suaranya belum mampu mengantarkannya ke kursi legislatif, semangat pengabdiannya untuk masyarakat tetap mendapatkan apresiasi yang tinggi.

Kini, Okto lebih banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga tercinta di Papua sembari tetap aktif dalam berbagai kegiatan komunitas lokal. Ia juga sering terlibat dalam pembinaan bakat-bakat muda di Papua agar kelak muncul generasi penerus yang mampu mengharumkan nama bangsa di masa depan.