Uptodai.com - Dampak konflik Iran terhadap ekonomi global kini mulai menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan di luar sektor energi fosil. Ketegangan yang memuncak di kawasan Timur Tengah tersebut tidak hanya mengancam stabilitas harga BBM, tetapi juga mengganggu rantai pasok berbagai komoditas vital lainnya. Para ahli memperingatkan bahwa blokade atau gangguan di jalur laut strategis dapat memicu efek domino pada industri manufaktur hingga ketahanan pangan dunia.

Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, menyatakan bahwa situasi saat ini merupakan fenomena luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gangguan pengapalan di Selat Hormuz menjadi ancaman nyata bagi kelancaran arus barang yang melintasi kawasan tersebut. Meskipun dunia terpaku pada angka 11 juta barel minyak per hari, terdapat risiko besar yang mengintai sektor non-migas yang jarang tersorot kamera media.

Ancaman Serius bagi Ketahanan Pangan dan Industri Pertanian

Kawasan Teluk Arab merupakan tulang punggung bagi sektor pertanian global karena menyumbang setidaknya 20 persen dari total ekspor pupuk jalur laut. Dunia memiliki ketergantungan yang sangat akut pada urea, jenis pupuk nitrogen yang paling banyak digunakan oleh petani di berbagai belahan bumi. Data menunjukkan sekitar 46 persen perdagangan urea global berasal dari wilayah yang kini tengah dilanda ketegangan tersebut.

Gangguan distribusi pupuk ini akan memukul langsung ekonomi pertanian besar seperti India, Brasil, dan China. Jika pasokan terhenti dalam waktu lama, biaya produksi pangan global dipastikan akan melambung tinggi. Kondisi ini pada akhirnya akan meningkatkan tekanan inflasi yang membebani daya beli masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia yang masih mengandalkan impor bahan baku pupuk tertentu.

Krisis Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik dan Industri Kimia

Selain pupuk, sulfur menjadi komoditas kritis yang berada di titik nadir akibat operasional kilang yang terhenti di kawasan konflik. Sulfur merupakan produk sampingan penyulingan minyak yang sangat dibutuhkan untuk memproduksi asam sulfat. Bahan kimia ini merupakan reagen utama dalam proses pemurnian nikel dan kobalt yang menjadi komponen inti baterai kendaraan listrik (EV).

Kelangkaan sulfur memaksa perlambatan industri di pusat manufaktur global, termasuk dampak potensial bagi hilirisasi nikel di Indonesia. Tanpa pasokan sulfur yang stabil, ambisi pengembangan ekosistem kendaraan listrik bisa terhambat secara signifikan. Selain itu, sekitar sepertiga perdagangan metanol dunia juga melewati Selat Hormuz, yang menjadi bahan baku penting untuk industri plastik dan pelapis kimia.

Daftar Komoditas yang Terancam Gangguan Logistik

Berikut adalah rincian barang-barang yang terdampak langsung oleh krisis di wilayah Iran dan sekitarnya:

1. Pupuk (Urea dan Amonia): Komponen kunci bagi produktivitas lahan pertanian dunia.
2. Sulfur: Bahan baku esensial untuk pemurnian mineral transisi energi dan baterai.
3. Metanol: Bahan kimia dasar untuk pembuatan resin, plastik, dan berbagai alat rumah tangga.
4. Bahan Baku Grafit: Material penting untuk anoda baterai yang banyak dipasok melalui jalur laut Timur Tengah.
5. Aluminium: Logam ringan yang sangat dibutuhkan industri otomotif dan konstruksi bangunan.
6. Helium: Gas langka yang digunakan dalam peralatan medis seperti MRI dan industri semikonduktor.
7. Glikol (MEG): Bahan baku utama untuk industri tekstil dan kemasan plastik botol.
8. Bijih Besi dan Pelet Baja: Komoditas dasar untuk pembangunan infrastruktur dan industri berat.
9. Infrastruktur Hidrogen Hijau: Proyek energi masa depan yang banyak dikembangkan di kawasan Teluk terancam terhenti.

Dampak Strategis bagi Rantai Pasok Global

Krisis di Selat Hormuz mengekspos kerentanan mendalam terkait peran Timur Tengah sebagai pemasok utama komoditas non-minyak. Selama ini, perhatian publik terlalu terfokus pada harga energi, padahal mineral transisi energi juga sangat bergantung pada stabilitas kawasan ini. Jika ketegangan terus berlanjut, peta logistik dunia harus diubah total dengan biaya yang jauh lebih mahal.

Para analis memperingatkan bahwa ketidakpastian ini akan memaksa perusahaan-perusahaan global untuk mencari sumber alternatif yang lebih aman. Namun, mencari pengganti pemasok sebesar kawasan Teluk bukanlah perkara mudah dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Oleh karena itu, dampak konflik Iran terhadap ekonomi global diprediksi akan menjadi tantangan terberat bagi pemulihan ekonomi pascapandemi di tingkat internasional.