Uptodai.com - Penutupan gerai H&M di Indonesia menjadi perbincangan hangat setelah kabar mengenai hengkangnya ritel fesyen raksasa asal Swedia ini mencuat ke publik. Banyak pihak mulai mempertanyakan bagaimana nasib lokasi-lokasi strategis yang selama ini ditempati oleh brand populer tersebut di berbagai pusat perbelanjaan besar.

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, akhirnya memberikan klarifikasi terkait dinamika ini. Ia mengakui bahwa memang ada langkah penutupan toko yang dilakukan oleh H&M di beberapa lokasi di tanah air. Namun, ia menekankan bahwa fenomena ini bukan berarti ruang belanja fisik mulai ditinggalkan oleh masyarakat.

Strategi Rebranding dan Pergantian Tenant di Pusat Perbelanjaan

Budihardjo menjelaskan bahwa fenomena penutupan gerai H&M di Indonesia sering kali diikuti dengan pergantian merek di lokasi yang sama. Menurutnya, area yang ditinggalkan oleh H&M biasanya akan langsung diisi oleh brand lain yang berada di bawah naungan operator ritel besar. Hal ini merupakan bagian dari siklus bisnis yang wajar untuk menjaga kesegaran pilihan bagi konsumen.

Dinamika seperti renovasi, pengecilan ukuran toko, hingga relokasi merupakan strategi rutin dalam industri ritel modern. Para pengelola ritel akan terus memantau daya beli dan perubahan perilaku konsumen di setiap titik lokasi. Jika sebuah lokasi dianggap sudah tidak optimal, mereka tidak ragu untuk menutupnya dan mencari peluang di tempat yang lebih menjanjikan.

Pihak Hippindo melihat bahwa pasar Indonesia sebenarnya masih memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi para pemain global. Perubahan merek di satu lokasi justru menunjukkan bahwa ekosistem ritel tetap bergerak dinamis dan kompetitif. Pengelola mal pun tetap optimis karena permintaan ruang usaha dari brand-brand baru masih tergolong tinggi.

Dampak Kesulitan Global Terhadap Operasional Lokal

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menyoroti sisi lain dari permasalahan ini. Ia menyebutkan bahwa kinerja H&M di Indonesia tidak terlepas dari kondisi perusahaan induknya secara global. Saat ini, raksasa fesyen tersebut memang dilaporkan tengah menghadapi tantangan besar di pasar internasional.

Kesulitan finansial dan penurunan laba di tingkat global memberikan tekanan yang signifikan terhadap operasional di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meskipun begitu, Alphonzus memilih untuk tidak berkomentar lebih jauh mengenai detail teknis penutupan gerai-gerai tersebut. Ia hanya memastikan bahwa pengelola mal akan selalu siap beradaptasi dengan perubahan penyewa.

Transformasi Menuju E-commerce dan Efisiensi Bisnis

Melansir data dari berbagai sumber internasional, H&M tercatat telah menutup sekitar 163 gerai di seluruh dunia pada periode sebelumnya. Tahun ini, perusahaan berencana menutup kembali sekitar 160 gerai tambahan sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran. Fokus bisnis mereka kini mulai bergeser secara agresif ke arah platform e-commerce dan investasi digital.

Langkah penutupan gerai H&M di Indonesia dan negara lainnya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. Dengan memangkas biaya sewa fisik yang tinggi, perusahaan berharap dapat mendorong margin keuntungan per meter persegi. Selain itu, mereka tengah menyesuaikan diri dengan tren belanja daring yang terus meningkat pesat pascapandemi.

Manajemen H&M mengungkapkan bahwa optimalisasi portofolio toko memang sempat memberikan dampak negatif terhadap angka penjualan di awal tahun 2026. Namun, mereka memproyeksikan efek positif akan mulai terasa pada akhir tahun seiring dengan stabilnya sistem bisnis yang baru. Perusahaan berkomitmen untuk hanya mempertahankan toko fisik di lokasi-lokasi yang paling menguntungkan dan strategis.

Fenomena ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen global yang kini lebih menyukai kemudahan berbelanja dari rumah. Meski gerai fisik tetap penting untuk pengalaman merek, ukurannya mungkin tidak lagi sebesar dulu. Transformasi digital menjadi kunci utama bagi peritel fesyen untuk tetap bertahan di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.