Uptodai.com - Sebuah kisah memilukan sekaligus kontroversial viral di China ketika seorang ibu paruh baya rutin melakukan video call dengan AI yang menyerupai mendiang putranya. Sang ibu sama sekali tidak menyadari bahwa anak tunggalnya telah meninggal dunia beberapa waktu lalu. Pihak keluarga sengaja menyembunyikan kabar duka tersebut demi menjaga kondisi kesehatan sang ibu yang memiliki riwayat penyakit jantung kronis. Keputusan ekstrem ini memicu perdebatan hangat di jagat maya mengenai batasan etika penggunaan teknologi masa kini.

Ide pembuatan replika digital ini bermula ketika sepupu dari mendiang pria tersebut menghubungi tim pengembang teknologi kecerdasan buatan. Mereka ingin menciptakan kloning visual yang sangat mirip agar sang ibu tidak syok dan mengalami serangan jantung yang fatal. Langkah ini mereka ambil sebagai jalan pintas untuk merawat kesehatan mental sang ibu yang sudah lanjut usia.

Rahasia di Balik Video Call dengan AI Kembaran

Pemimpin tim teknologi, Zhang Zewei, mengungkapkan bahwa proses pembuatan kloning ini membutuhkan banyak data pendukung yang sangat spesifik. Pihak keluarga menyerahkan dokumen berupa foto berkualitas tinggi, rekaman video, hingga sampel suara dalam dialek lokal yang biasa digunakan mendiang semasa hidup. Berkat algoritma canggih, tim berhasil meniru gestur tubuh khas sang anak, termasuk kebiasaan membungkuk ke depan saat berbicara di depan kamera.

Hasil akhir yang sangat presisi ini membuat sang ibu percaya sepenuhnya bahwa ia sedang mengobrol dengan anak kandungnya. Setiap kali panggilan tersambung, visual sang anak tampak sangat hidup dan mampu merespons ucapan sang ibu secara natural. Teknologi ini berhasil menciptakan ilusi kehadiran yang sangat kuat, menyamarkan fakta pahit bahwa sang anak telah tiada.

Alasan Pekerjaan di Luar Kota Menjadi Tameng

Untuk mendukung skenario ini, sosok virtual tersebut selalu beralasan sedang sibuk bekerja di kota lain yang sangat jauh. Alasan tersebut menjadi senjata ampuh untuk menjelaskan mengapa ia tidak bisa pulang ke rumah untuk menemui ibunya secara fisik. Sang ibu menerima alasan tersebut dengan lapang dada, meski rasa rindu kerap kali menyelimuti hatinya.

Dalam salah satu percakapan yang menyayat hati, sang ibu sempat mengungkapkan rasa rindu yang sangat mendalam kepada putranya. Ia meminta sang anak untuk lebih sering melakukan video call dengan AI tersebut agar hatinya merasa tenang. Sang ibu juga mengingatkan agar putranya selalu makan dengan teratur, memakai baju hangat, dan menjaga keselamatan selama merantau.

Respons dari program kecerdasan buatan tersebut selalu terdengar menenangkan dan penuh kasih sayang. Karakter virtual itu berjanji akan segera pulang untuk berbakti setelah berhasil mengumpulkan uang yang cukup di perantauan. Percakapan harian ini terus berlanjut, menjadi penawar rindu sekaligus bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Dilema Etika Kloning AI Orang Meninggal

Kisah tragis ini langsung memicu gelombang diskusi yang sangat masif di berbagai platform media sosial. Sebagian netizen merasa terharu dan mendukung langkah keluarga sebagai bentuk kasih sayang demi melindungi kesehatan sang ibu. Mereka menilai teknologi ini berhasil menjadi penyelamat emosional di tengah situasi yang sangat sulit.

Namun, tidak sedikit pula masyarakat yang mengecam tindakan manipulasi emosional menggunakan teknologi canggih ini. Mereka khawatir dampak psikologis yang luar biasa akan menghantam sang ibu jika suatu saat kebenaran ini terungkap secara tidak sengaja. Kebohongan yang terstruktur rapi ini dianggap dapat merusak proses berduka yang alami bagi keluarga besar.

Para ahli psikologi juga mengingatkan bahwa replika digital kecerdasan buatan tidak akan pernah bisa menggantikan kehadiran jiwa manusia yang sesungguhnya. Meskipun teknologi mampu meniru fisik dan suara dengan sempurna, hubungan batin yang tulus tetap tidak bisa direkayasa. Kasus ini menjadi bukti nyata bahwa perkembangan teknologi kini telah menyentuh wilayah sensitif dalam kehidupan sosial manusia.