Uptodai.com - Tengah bersiap memasuki masa damai, krisis ekonomi Iran pascaperang kini justru menjadi ancaman nyata yang siap meruntuhkan negara tersebut dari dalam. Setelah bertahun-tahun didera konflik bersenjata, Teheran kini harus menghadapi kenyataan pahit berupa potensi kontraksi ekonomi hingga 10 persen. Selain itu, pemadaman listrik massal dan pemblokiran internet telah memperparah kondisi sosial masyarakat. Kebijakan pembatasan digital ini bahkan dilaporkan telah merenggut mata pencaharian bagi sedikitnya dua juta warga setempat.

Kerusakan infrastruktur akibat perang yang berkepanjangan ini diperkirakan menelan kerugian fantastis hingga US$270 miliar atau setara Rp4.885,65 triliun. Angka tersebut mencakup kehancuran fasilitas energi vital, sekolah, industri baja, hingga sektor perumahan warga. Banyak pengamat menilai bahwa rekonstruksi fisik akan memakan waktu puluhan tahun tanpa adanya bantuan internasional yang masif. Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan Iran pada ekspor minyak yang jalurnya kini masih terhambat blokade laut.

Ancaman Hiperinflasi dan Krisis Pangan Akut

Inflasi sektor pangan di Iran dilaporkan telah menembus angka 130 persen secara tahunan, yang merupakan rekor tertinggi sejak era Perang Dunia II. Lonjakan paling mengerikan terjadi pada komoditas daging dan unggas yang meroket hingga 176 persen. Para ahli kesehatan kini mulai membunyikan alarm bahaya terkait ancaman malnutrisi akut dan gangguan pertumbuhan pada generasi muda. Mantan Menteri Komunikasi Iran, Mohammad Javad Azari Jahromi, memperingatkan bahwa inflasi ini bisa menjadi bom waktu sosial yang siap meledak kapan saja.

Di luar faktor perang, struktur ekonomi Iran memang sudah rapuh akibat salah urus dan sanksi internasional yang berlangsung selama beberapa dekade. Keterlibatan aktif Teheran dalam mendanai berbagai kelompok proksi di Timur Tengah juga telah menguras kas negara secara signifikan. Ketika anggaran pertahanan terus membengkak, sektor domestik seperti pertanian dan kesehatan justru terabaikan. Akibatnya, ketahanan pangan nasional runtuh seketika begitu rantai pasok global terganggu oleh konflik teranyar.

Harapan Tipis pada Pelonggaran Sanksi AS

Banyak pihak kini menggantungkan harapan pada kemungkinan pelonggaran sanksi ekonomi oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Namun, sejumlah ekonom bersikap skeptis dan menilai bantuan tersebut tidak akan mampu menutup lubang defisit yang sudah terlampau menganga. Presiden Masoud Pezeshkian sendiri telah berulang kali meminta rakyatnya untuk bersiap menghadapi masa-masa yang jauh lebih sulit ke depan. Tanpa reformasi struktural yang radikal, Iran terancam mengalami kolaps internal tanpa perlu adanya serangan militer dari luar.