Uptodai.com - Nama akademisi asal Indonesia, Yoesoep Edhie Rachmad, mendadak menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah akun Google Scholar miliknya tercatat memiliki lebih dari 5,4 juta kutipan. Akun yang terverifikasi menggunakan domain Universitas Terbuka Pamulang ini memuat ribuan karya ilmiah yang didaftarkan atas namanya. Fenomena luar biasa ini langsung menarik perhatian akademisi global karena jumlah sitasi yang tidak masuk akal untuk ukuran seorang peneliti individu. Bahkan, angka tersebut melampaui total kutipan akumulatif dari organisasi kesehatan dunia sekelas WHO.

Kejanggalan Data dan Kritik dari Akademisi Dunia

Google Scholar sendiri merupakan mesin pencari akademis bebas yang mengindeks teks lengkap atau meta data literatur ilmiah di berbagai format publikasi. Platform ini sangat diandalkan untuk mengukur reputasi seorang peneliti melalui metrik seperti H-index dan jumlah sitasi. Namun, sistem ini juga rentan terhadap manipulasi atau yang sering disebut sebagai “citation farming”, di mana artikel-artikel berkualitas rendah saling mengutip secara massal demi mendongkrak statistik. Kasus ini memicu perdebatan sengit mengenai kredibilitas sistem penilaian akademis modern.

Kejanggalan ini pertama kali diangkat ke publik oleh Misha Teplitskiy, seorang dosen dari University of Michigan, melalui akun media sosial X miliknya. Teplitskiy dengan nada sarkas menyebut peneliti asal Indonesia tersebut sebagai ilmuwan paling hebat di dunia, mengalahkan tokoh legendaris seperti Albert Einstein. Ia menyoroti betapa produktifnya akun tersebut dalam menerbitkan karya ilmiah, terutama setelah teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT resmi diluncurkan. Di platform ORCID, akun yang bersangkutan bahkan tercatat mendaftarkan hingga 2.511 artikel ilmiah.

Dampak Terhadap Kredibilitas Dunia Akademik

Salah satu artikel terbarunya yang terdaftar di ORCID untuk tahun 2025 mengulas tentang kecerdasan buatan pada Sovereign Wealth Fund Danantara. Penemuan kejanggalan ini memicu reaksi keras dari para peneliti internasional yang meragukan keabsahan data kutipan tersebut. Robert Palgrave, seorang peneliti dari University College London, menyatakan bahwa kontribusi terbesar dari kasus ini adalah membuktikan bahwa metrik H-index kini sudah tidak memiliki arti lagi. Banyak pihak menilai bahwa eksploitasi celah algoritma Google Scholar ini sangat merusak integritas dunia pendidikan tinggi.

Netizen di media sosial juga menemukan keanehan lain berupa anomali waktu publikasi yang tidak masuk akal. Beberapa artikel yang baru diterbitkan pada tahun 2025 terdeteksi telah dikutip oleh dokumen lain sejak tahun 2011 silam. Hal ini memicu komentar jenaka dari warganet yang mempertanyakan apakah sang peneliti memiliki mesin waktu untuk melakukan hal tersebut. Hingga saat ini, kasus ini terus memicu diskusi mendalam mengenai perlunya reformasi sistem indeksasi karya ilmiah global agar terhindar dari manipulasi serupa di masa depan.