Uptodai.com - Prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei yang digelar pada Minggu (5/7/2026) di Teheran menyisakan tanda tanya besar bagi publik internasional. Di tengah suasana duka nasional yang mendalam, ketidakhadiran sang putra mahkota sekaligus pemimpin tertinggi baru Iran menjadi sorotan utama. Absennya sosok penting ini memicu berbagai spekulasi liar mengenai stabilitas politik di negara tersebut.

Televisi pemerintah Iran hanya memperlihatkan tiga putra mendiang lainnya, yaitu Mostafa, Meysam, dan Masoud Khamenei. Mereka tampak khusyuk memanjatkan doa di samping peti jenazah sang ayah di kompleks Mosalla Agung Imam Khomeini. Sementara itu, sosok Mojtaba Khamenei sama sekali tidak terlihat dalam jepretan kamera maupun siaran langsung.

Hingga saat ini, belum ada foto resmi atau pernyataan publik dari pemimpin tertinggi Iran yang baru tersebut sejak penunjukannya. Beberapa sumber internal membocorkan bahwa Mojtaba mengalami luka yang sangat serius akibat serangan udara pada Februari lalu. Serangan udara mematikan dari koalisi asing tersebut dilaporkan melukai wajah serta kedua kaki sang penerus takhta.

Dampak Perang dan Ketegangan Geopolitik

Ketidakhadiran Mojtaba terjadi di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang sangat rapuh pascaperang empat bulan melawan Amerika Serikat dan Israel. Konflik bersenjata tersebut telah merenggut lebih dari 3.000 nyawa warga Iran, termasuk jajaran elite militer dan politisi senior. Kehilangan figur kepemimpinan yang solid di saat krisis seperti ini tentu menjadi ujian berat bagi ketahanan rezim Teheran.

Banyak analis menilai bahwa transisi kekuasaan di Iran kini berada di titik paling kritis dalam sejarah modern mereka. Tanpa kehadiran fisik sang pemimpin baru, publik mengkhawatirkan adanya perebutan kekuasaan di internal Garda Revolusi. Ketidakpastian ini berpotensi memperlemah posisi tawar Iran di kancah diplomasi internasional yang sedang memanas.

Penghormatan Terakhir di Kota Suci Qom

Meskipun diselimuti ketidakpastian, upacara penghormatan tetap dipimpin oleh Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf. Suasana haru membuncah ketika Masoud Khamenei berulang kali menyeka air matanya dengan kain keffiyeh tradisional. Kain tersebut selama ini dikenal luas sebagai simbol perjuangan revolusioner dan solidaritas tanpa batas terhadap Palestina.

Rangkaian prosesi duka ini dijadwalkan akan terus berlanjut hingga beberapa hari ke depan di pusat kota Teheran. Setelah itu, jenazah Ayatollah Ali Khamenei akan dibawa menuju kota suci Qom untuk prosesi pemakaman akhir. Kota Qom sendiri merupakan pusat keagamaan Syiah terbesar yang memegang peranan penting dalam legitimasi spiritual pemerintahan Iran.