Uptodai.com - Tren adopsi model AI buatan China oleh berbagai perusahaan asal Amerika Serikat kini tengah memicu ketegangan geopolitik baru. Banyak pelaku usaha di AS yang mulai beralih menggunakan teknologi dari Negeri Tirai Bambu tersebut demi menekan biaya operasional. Berdasarkan data dari OpenRouter, penggunaan token dari model-model Tiongkok ini melonjak drastis hingga mencapai pangsa pasar 46 persen. Peningkatan signifikan ini tercatat terjadi secara konsisten setiap minggunya sejak awal Februari 2026.

Perusahaan-perusahaan AS kini dilaporkan lebih realistis dan sensitif terhadap anggaran operasional mereka dalam mengadopsi teknologi kecerdasan buatan. Model seperti Zai dan DeepSeek menjadi pilihan utama karena menawarkan efisiensi biaya yang jauh lebih murah dibanding kompetitor lokal. Kyle Chan, seorang peneliti dari Brookings Institution, mengonfirmasi bahwa faktor finansial menjadi pendorong utama migrasi massal ini. Menurutnya, prioritas korporasi saat ini telah bergeser dari sekadar adopsi teknologi menuju efisiensi anggaran yang ketat.

Dampak Perang Harga dan Kesenjangan Teknologi AI

Fenomena ini memperlihatkan bahwa dominasi teknologi Silicon Valley kini mulai goyah akibat strategi harga agresif dari kompetitor Asia. Perusahaan rintisan di AS menghadapi tekanan besar dari investor untuk segera menghasilkan profitabilitas, sehingga memangkas biaya komputasi menjadi keharusan. Di sisi lain, kemampuan teknis dari model-model asal Tiongkok ini terbukti mampu menyamai performa sistem buatan AS dengan biaya yang jauh lebih rendah. Hal ini membuat keunggulan kompetitif yang selama ini dipegang oleh raksasa teknologi AS menjadi semakin menipis.

Respons Keras Pemerintah Amerika Serikat

Meningkatnya ketergantungan sektor swasta terhadap teknologi asing ini langsung memicu alarm bahaya di Washington. Dua komite Dewan Perwakilan Rakyat AS kini dilaporkan tengah melakukan penyelidikan intensif terkait tren migrasi teknologi tersebut. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan kekhawatiran mendalam bahwa teknologi ini membawa risiko keamanan yang signifikan. Pemerintah AS menilai sistem kecerdasan buatan tersebut dirancang untuk menyensor perbedaan pendapat dan mempromosikan ideologi Beijing.

Langkah Tegas Pemerintahan Donald Trump

Pemerintahan Donald Trump sendiri telah mengambil sikap agresif dengan menuduh entitas Tiongkok melakukan kampanye industri untuk meniru sistem AI milik AS. Washington kini tengah merumuskan regulasi baru yang ketat untuk membatasi akses perusahaan domestik terhadap infrastruktur digital asing. Langkah ini diprediksi akan memperluas sanksi teknologi yang sebelumnya hanya menyasar sektor perangkat keras seperti cip semikonduktor. Para analis memperkirakan bahwa perang dingin teknologi ini akan semakin memanas dan memaksa pelaku bisnis global untuk memilih kubu.

Di pihak lain, juru bicara Kedutaan Besar China di Inggris dengan tegas membantah tudingan miring dari pihak Amerika Serikat tersebut. Mereka menyatakan bahwa tuduhan tersebut merupakan fitnah tidak berdasar yang bertujuan untuk menjatuhkan reputasi teknologi mereka. Pihak Beijing menegaskan bahwa kemajuan pesat sektor kecerdasan buatan mereka dibangun atas dasar kemandirian riset ilmiah nasional. Ketegangan ini memastikan bahwa perlombaan supremasi teknologi global antara kedua negara adidaya akan terus berlanjut tanpa akhir yang pasti.