Uptodai.com - Ketegangan geopolitik yang terus memanas antara Washington dan Teheran memicu lonjakan hebat pada harga bensin di AS hingga menyentuh angka Rp72.000 per galon. Berdasarkan laporan terbaru, harga bahan bakar di tingkat konsumen tersebut kini bertengger di level US$4 per galon, naik dari US$3,87 pada pekan sebelumnya. Kenaikan yang terjadi selama dua pekan berturut-turut ini merefleksikan kecemasan pasar global terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Runtuhnya kesepakatan gencatan senjata menjadi pemantik utama melesatnya harga minyak mentah acuan internasional secara signifikan. Minyak mentah jenis Brent sempat meroket hingga menyentuh level US$91,42 per barel sebelum akhirnya sedikit melandai di kisaran US$88,04 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga mencatatkan rekor tertinggi baru sejak pertengahan Juni dengan bertengger di posisi US$85,39 per barel.

Ancaman Krisis Energi Global dan Dampak Sistemik

Kondisi ini diperparah oleh kebijakan pemangkasan produksi minyak oleh negara-negara OPEC+ yang membatasi ruang gerak pasokan global. Para analis memperingatkan bahwa jika eskalasi militer terus berlanjut, harga minyak mentah bukan tidak mungkin menembus angka psikologis US$100 per barel dalam waktu dekat. Situasi tersebut tentu akan memicu efek domino berupa lonjakan inflasi global yang menekan daya beli masyarakat di berbagai belahan dunia.

Faktor utama di balik kepanikan pasar ini adalah penurunan drastis lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, yang biasanya menyalurkan seperlima pasokan minyak dunia. Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan hanya ada 30 armada tangker yang berani melintasi jalur sempit tersebut sepanjang pertengahan Juli. Angka ini kian menyusut drastis pada akhir pekan dengan hanya menyisakan segelintir kapal yang beroperasi akibat tingginya risiko keamanan.

Blokade Jalur Laut dan Ancaman Keamanan Maritim

Kondisi di lapangan semakin mencekam setelah Iran mendesak kelompok Houthi di Yaman untuk memblokade rute pelayaran Laut Merah secara total. Langkah ekstrem ini direncanakan sebagai balasan jika militer Amerika Serikat terus melancarkan serangan udara terhadap infrastruktur energi strategis milik Iran. Ketakutan para pelaku industri pelayaran terbukti nyata setelah dua kapal tanker milik perusahaan Yunani, Dynacom Tankers, dilaporkan terkena hantaman proyektil misterius di lepas pantai Oman.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, lonjakan harga minyak dunia ini menjadi alarm bahaya bagi anggaran subsidi energi domestik. Kenaikan harga minyak mentah yang berkepanjangan berpotensi memperlebar defisit APBN akibat membengkaknya subsidi BBM jenis Pertalite dan Solar. Jika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga melemah, tekanan terhadap stabilitas moneter dalam negeri dipastikan akan semakin berat.

Dilema Kebijakan Moneter The Fed

Di sektor keuangan, ketidakpastian ini memicu kekhawatiran baru bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada akhir tahun. Direktur High Ridge Futures, David Meger, menyatakan bahwa lonjakan harga energi ini dapat mengaburkan sinyal positif dari data inflasi pekan lalu yang sebenarnya mulai mendingin. Dinamika ini langsung direspons beragam oleh bursa saham Wall Street, di mana indeks Nasdaq dan S&P 500 menguat tipis, sementara Dow Jones justru tergelincir ke zona merah.