Kisah Eli Cohen Mata-Mata Israel Nyaris Jadi Wakil Menteri Suriah
Uptodai.com - Dunia intelijen selalu menyimpan kisah-kisah yang melampaui batas fiksi, dan salah satu yang paling legendaris melibatkan sosok yang hampir menduduki jabatan tinggi di pemerintahan musuh bebuyutan negaranya. Sosok itu adalah Eli Cohen mata-mata Israel, seorang agen yang berhasil menyusup ke jantung kekuasaan Suriah dengan identitas palsu yang sempurna.
Cohen, yang lahir dan tumbuh besar di Mesir, merupakan sosok di balik nama samaran Kamel Amin Thaabet. Ia direkrut oleh Mossad, badan intelijen Israel, dan ditugaskan menjalankan misi yang sangat berbahaya: menyusup dan membangun jaringan di Suriah pada awal tahun 1960-an.
Identitas Kamel Amin Thaabet: Pengusaha Kaya dari Argentina
Mossad merancang skenario intelijen yang sangat detail bagi Cohen. Ia diperkenalkan sebagai Kamel Amin Thaabet, seorang pengusaha tekstil sukses yang lahir dan besar di Suriah, namun harus pindah ke Argentina bersama keluarganya pada tahun 1949.
Melalui identitas barunya, Kamel bertugas membangun koneksi dengan para petinggi Suriah. Tujuannya sangat jelas, yakni mendapatkan informasi-informasi rahasia yang krusial bagi keamanan Israel. Data intelijen yang dikirimkannya menjadi bahan vital untuk mencegah langkah agresif Suriah dan negara-negara Arab lain yang berpotensi mengancam eksistensi Israel.
Langkah Awal Memasuki Lingkaran Kekuasaan Suriah
Langkah pertama Kamel untuk menancapkan kuku di Damaskus dimulai di Buenos Aires, Argentina. Ia sengaja mendekati atase militer Suriah di sana, Jenderal Amin al-Hafez, yang dikenal memiliki pengaruh besar.
Kepada al-Hafez, Kamel mengungkapkan kerinduan mendalam untuk kembali ke tanah airnya. Ia mengaku sebagai pengusaha kaya yang ingin menggunakan hartanya untuk membantu membangun Suriah yang saat itu sedang dilanda krisis dan korupsi yang merajalela.
Jenderal al-Hafez, yang dikenal sangat nasionalis dan muak dengan kondisi negaranya, merasa tersentuh oleh pengakuan Kamel. Keinginan Kamel untuk pulang dan berinvestasi dianggap sebagai angin segar di tengah situasi politik yang keruh.
Al-Hafez kemudian membawa Kamel ke Suriah dan memperkenalkannya kepada kolega-kolega militernya sebagai seorang pengusaha baik hati yang dermawan. Kepercayaan yang didapatkan Kamel dari al-Hafez adalah kunci utama yang membuka pintu masuk ke elite Suriah.
Jaringan Pesta dan Informasi Rahasia
Pertemanan Kamel berkembang pesat, dari hanya satu orang penting menjadi jaringan luas yang mencakup pejabat tinggi militer dan sipil. Lewat jaringan kekuasaan inilah, Kamel menjalankan bisnis tekstilnya sambil secara intensif mengumpulkan data.
Menurut Samantha Wilson dalam bukunya Israel (2011), elite Suriah pada masa itu dikenal memiliki gaya hidup mewah dan hobi berpesta. Kamel memanfaatkan kebiasaan ini dengan sangat cerdik.
Kamel seringkali mengadakan pesta mewah di rumahnya, mengundang para elite Suriah untuk berdansa, minum, dan bersenang-senang. Dalam suasana yang santai dan seringkali di bawah pengaruh alkohol, pertukaran informasi sensitif seringkali terjadi tanpa disadari oleh para pejabat tersebut.
Melalui metode ini, Kamel berhasil mendapatkan akses ke informasi militer penting, termasuk rencana pertahanan, posisi artileri, hingga strategi politik dalam negeri. Kepercayaan yang dibangunnya begitu kokoh, sehingga tidak ada satu pun orang yang mencurigai bahwa Kamel Amin Thaabet adalah agen intelijen Israel.
Nyaris Menjadi Wakil Menteri
Puncak keberhasilan Kamel terjadi pada tahun 1963, ketika kawan baiknya, Amin al-Hafez, berhasil merebut kekuasaan dan menjadi Presiden Suriah. Al-Hafez sangat memercayai Kamel sebagai seorang pengusaha yang setia dan akan membantunya menata ulang negara.
Kedekatan ini membuat posisi Kamel semakin tak tersentuh, bahkan ia dikabarkan nyaris menduduki posisi Wakil Menteri Pertahanan atau Wakil Menteri Luar Negeri. Apabila hal ini terjadi, Israel akan memiliki mata-mata yang duduk langsung di kabinet musuh bebuyutannya.
Informasi yang dikirimkan Cohen selama bertahun-tahun sangat berharga, termasuk rincian tentang proyek militer Suriah di Dataran Tinggi Golan. Informasi ini terbukti krusial dan memberikan keuntungan strategis besar bagi Israel dalam Perang Enam Hari pada tahun 1967.
Sayangnya, operasi Cohen harus berakhir tragis pada tahun 1965. Ia tertangkap basah saat sedang mengirimkan pesan radio rahasia ke Tel Aviv. Meskipun menghadapi penyiksaan, Cohen tetap setia pada negaranya hingga akhirnya dieksekusi di depan umum di Damaskus, mengakhiri kisah salah satu mata-mata paling berani dan sukses dalam sejarah Mossad.