Uptodai.com - Dinamika perdagangan internasional Indonesia terus menunjukkan pergerakan yang signifikan menjelang penutupan tahun fiskal. Sektor otomotif menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam pergerakan ini.

Data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Impor Kendaraan Naik 2025 secara drastis, baik dilihat dari sisi nilai maupun volume dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini menjadi indikator penting terkait kebutuhan domestik terhadap barang-barang modal dan komponen otomotif.

Impor Kendaraan Tembus US$9,96 Miliar

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, memaparkan bahwa komoditas kendaraan dan bagiannya berhasil menyentuh angka fantastis. Nilai impor tersebut tercatat sebesar US$9,96 miliar dengan total volume mencapai 1,51 juta ton hingga periode Januari—November 2025.

Angka ini menunjukkan kontribusi yang tidak kecil, sebab impor kendaraan menyumbang porsi sebesar 5,28% dari keseluruhan impor nonmigas dalam periode tersebut. Kenaikan nilai impor kendaraan tercatat melonjak 12,89% dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Sebagai perbandingan, pada Januari—November 2024, nilai impor kendaraan hanya berada di level US$8,82 miliar. Sementara itu, peningkatan volume juga sangat impresif, naik 18,45% dari 1,27 juta ton menjadi 1,51 juta ton pada periode yang sama.

Mesin dan Perlengkapan Elektrik Ikut Melonjak

Peningkatan impor tidak hanya terjadi pada sektor otomotif. Data BPS menunjukkan bahwa kenaikan serupa juga dialami oleh komoditas mesin dan peralatan lainnya.

Nilai impor mesin atau peralatan mekanis (HS84) naik 6,22% menjadi US$32,84 miliar sepanjang Januari—November 2025. Komoditas ini memiliki volume mencapai 4,25 juta ton dan menyumbang 17,41% dari total impor nonmigas.

Selanjutnya, nilai impor mesin perlengkapan elektrik (HS85) juga menunjukkan tren positif. Nilainya melonjak 14,84% menjadi US$28,60 miliar dengan volume 1,99 juta ton. Komoditas ini memberikan kontribusi sebesar 15,17%.

Secara kolektif, ketiga komoditas utama ini—kendaraan, mesin mekanis, dan mesin elektrik—menyumbang hampir 38% (tepatnya 37,86%) terhadap total impor nonmigas Indonesia.

Impor Barang Modal Jadi Pendorong Utama

Kenaikan impor kendaraan dan mesin ini didorong kuat oleh peningkatan permintaan terhadap barang modal. Menurut Pudji Ismartini, secara kumulatif, nilai impor barang modal mencapai US$44,81 miliar.

Angka tersebut menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 18,54% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan impor barang modal memberikan andil peningkatan total impor sebesar 3,28%.

Impor barang modal yang mengalami lonjakan besar meliputi mesin peralatan mekanis dan bagiannya (HS84), mesin perlengkapan elektrik dan bagiannya (HS85), serta kendaraan udara dan bagiannya (HS88). Hal ini mengindikasikan bahwa investasi dan pengembangan industri di dalam negeri sedang berjalan masif.

Kontras dengan Bahan Baku dan Konsumsi

Menariknya, tren peningkatan pada barang modal ini berbanding terbalik dengan impor bahan baku penolong dan barang konsumsi. Impor bahan baku penolong justru mengalami penurunan 1,46%, menjadi US$153,20 miliar.

Begitu pula pada impor barang konsumsi yang terkoreksi 2,02% menjadi US$20,01 miliar. Kontras ini menunjukkan adanya pergeseran prioritas impor yang lebih fokus pada investasi jangka panjang.

Pudji juga menambahkan bahwa mayoritas barang impor nonmigas Indonesia berasal dari tiga negara utama. China, Jepang, dan Amerika Serikat menjadi pemasok terbesar, menyumbang 52,87% dari total impor nonmigas selama periode Januari hingga November 2025. Secara keseluruhan, total impor Indonesia mencapai US$218,02 miliar, meningkat 2,03% dari periode sebelumnya.