Uptodai.com - Dunia teknologi diprediksi akan kembali menghadapi tantangan besar. Berdasarkan analisis terbaru, krisis kelangkaan chip 2026 dipastikan menghantam pasar global, terutama pada segmen chip memori konvensional.

Ironisnya, di tengah kelangkaan yang berpotensi melumpuhkan produksi perangkat elektronik konsumen, sejumlah produsen besar justru diperkirakan akan panen cuan. Salah satu yang paling diuntungkan dari dinamika pasar ini adalah raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung Electronics.

Mengapa Krisis Chip Konvensional Terjadi?

Kenaikan harga dan kelangkaan chip ini bukan terjadi tanpa sebab. Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap manufaktur semikonduktor mengalami pergeseran prioritas yang sangat drastis.

Produsen chip global kini memfokuskan hampir seluruh kapasitas produksi mereka untuk memenuhi permintaan yang masif dari chip terkait Kecerdasan Buatan (AI). Chip-chip berdaya tinggi ini dibutuhkan untuk melatih model AI yang semakin kompleks.

Konsekuensinya, produksi untuk chip memori tradisional, seperti DRAM (Dynamic Random-Access Memory) dan NAND, yang merupakan jantung dari komputer, server, dan smartphone, menjadi terabaikan. Padahal, permintaan untuk chip konvensional ini tetap tinggi, bahkan meningkat seiring dengan kebutuhan infrastruktur digital.

Lonjakan Harga Chip Memori

Ketidakseimbangan antara pasokan yang seret dan permintaan yang terus menanjak akhirnya memicu lonjakan harga yang tak terkendali. Data menunjukkan bahwa harga chip konvensional naik secara gila-gilaan menjelang akhir tahun 2025.

Menurut laporan dari TrendForce, harga untuk chip tipe DDR5 RAM, yang merupakan jenis DRAM konvensional dengan kecepatan dan efisiensi tinggi, melonjak tajam. Lonjakan harganya tercatat mencapai 314% pada kuartal IV (Q4) 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Para analis memperkirakan bahwa harga kontrak DRAM konvensional akan terus meroket, dengan kenaikan sekitar 55 hingga 60% pada kuartal berjalan Oktober hingga Desember 2025. Situasi ini menciptakan badai sempurna bagi perusahaan yang memiliki stok dan kapasitas produksi chip memori yang besar.

Samsung Menjadi Pemenang di Tengah Kelangkaan

Di tengah pusaran krisis dan kenaikan harga yang ekstrem, Samsung Electronics diprediksi menjadi pemain utama yang meraup keuntungan signifikan. Samsung, sebagai salah satu produsen chip memori terbesar di dunia, memiliki kapasitas produksi yang terkonsentrasi pada segmen ini.

TrendForce memperkirakan bahwa Samsung akan mencatat pertumbuhan profit operasional yang fantastis. Pertumbuhan profit perusahaan diperkirakan mencapai 160% pada Q4 2025.

Berdasarkan LSEG SmartEstimate dari 31 analis, Samsung diestimasikan akan mendulang profit operasional sebesar 16,9 triliun won, atau setara dengan Rp195 triliun, pada periode tersebut. Angka ini menunjukkan pertumbuhan luar biasa jika dibandingkan dengan profit operasional sebesar 6,49 triliun won pada tahun sebelumnya.

Profit Kuartalan Tertinggi Sejak 2018

Apabila estimasi tersebut terwujud, profit kuartalan Samsung ini akan menjadi yang tertinggi sejak Q3 2018, di mana perusahaan mencatatkan profit sebesar 17,6 triliun won. Beberapa analis bahkan telah meningkatkan estimasi mereka, memprediksi profit operasional Q4 Samsung bisa melampaui 20 triliun won.

Avril Wu, seorang analis dari TrendForce, menjelaskan bahwa Samsung berada di posisi yang sangat menguntungkan. “Seiring kelanjutan kenaikan harga DRAM konvensional, Samsung yang kapasitas produksinya terkonsentrasi pada segmen ini berpotensi mendapatkan keuntungan yang relatif lebih besar dari siklus kenaikan harga saat ini,” ujar Wu.

Meskipun kelangkaan chip ini membawa dampak buruk bagi rantai pasok global dan konsumen, bagi para pemain besar yang menguasai produksi chip memori, tahun 2026 justru menjadi momentum emas untuk memaksimalkan keuntungan finansial.

Dampak pada Industri Elektronik Konsumen

Kenaikan harga chip memori secara langsung akan berdampak pada harga jual perangkat elektronik di pasaran. Chip DRAM sangat krusial karena berfungsi sebagai penyimpanan data sementara yang membantu server, komputer, dan HP menjalankan program dan aplikasi secara lancar.

Dengan melonjaknya biaya komponen utama, konsumen harus bersiap menghadapi kenaikan harga yang signifikan untuk smartphone premium, laptop terbaru, hingga server data. Krisis ini sekaligus menjadi pengingat bahwa dominasi teknologi AI tidak hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi juga secara fundamental membentuk ulang ekonomi semikonduktor global.