Uptodai.com - Meskipun akses internet diputus total, gelombang protes anti-pemerintah Iran terus mengguncang ibu kota dan kota-kota besar lainnya. Pemadaman ini secara efektif memutus komunikasi demonstran dari dunia luar, tetapi rekaman yang berhasil bocor menunjukkan skala kemarahan publik yang luar biasa.

Ribuan warga turun ke jalan di Teheran sepanjang malam hingga Sabtu pagi waktu setempat. Mereka tidak hanya menuntut perubahan, namun secara terang-terangan menyerukan kejatuhan rezim saat ini.

Puncak Pembangkangan dan Seruan “Matilah Khamenei”

Video yang beredar luas memperlihatkan massa meneriakkan slogan-slogan yang sangat provokatif. Slogan utama yang terdengar adalah: “Matilah Khamenei,” sebuah kecaman langsung terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Selain itu, muncul seruan nostalgia yang mengejutkan, yakni: “Hidup Shah.” Slogan ini merujuk pada dukungan untuk dinasti Pahlavi, penguasa Iran yang digulingkan setelah Revolusi Islam pada tahun 1979.

Pada Sabtu malam, protes kembali meletus, dengan warga berkumpul di distrik utara Teheran. Dalam rekaman yang diverifikasi oleh AFP, kembang api dinyalakan di atas Lapangan Punak Teheran. Para demonstran juga memukul panci, menciptakan kebisingan sebagai bentuk dukungan terhadap penguasa Pahlavi yang telah lama diasingkan.

Intensitas kekacauan ini mencapai puncaknya ketika salah satu masjid di Iran dilaporkan dilalap api. Tayangan yang disiarkan oleh TRT World memperlihatkan bangunan ibadah tersebut terbakar, menggarisbawahi betapa panasnya suhu politik dan emosi di jalanan.

Ancaman Hukuman Mati dan Pembakaran Masjid di Teheran

Tindakan pembangkangan tidak hanya terjadi di ibu kota. Kerumunan demonstran juga berpawai di jalan-jalan Mashhad, kota kelahiran Ayatollah Ali Khamenei, sementara api berkobar di beberapa titik. Ini menjadi sebuah pertunjukan penentangan yang sangat berani di wilayah yang seharusnya menjadi basis kekuatan rezim.

Khamenei sendiri telah mengutuk para demonstran sebagai “perusak” dan menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang mengipasi api perbedaan pendapat. Namun, ancaman yang paling mengerikan datang dari otoritas hukum.

Jaksa Agung Iran, Mohammad Mahvadi Azad, memperingatkan masyarakat agar tidak berpartisipasi dalam protes. Siapa pun yang melakukannya akan dianggap sebagai “musuh Tuhan.” Ini adalah tuduhan serius yang secara hukum dapat dihukum mati.

Belakangan, televisi pemerintah mengklarifikasi bahwa bahkan mereka yang hanya membantu para pengunjuk rasa pun dapat menghadapi tuduhan serupa. Ancaman ini merupakan upaya nyata dari rezim untuk membungkam oposisi dengan menggunakan hukuman terberat yang tersedia.

Donald Trump Siap Membantu Protes Anti-Pemerintah Iran

Di tengah penindakan yang semakin intensif oleh otoritas Republik Islam, Amerika Serikat menyatakan kesiapan untuk campur tangan. Donald Trump telah berulang kali mengancam akan bertindak jika otoritas Iran membunuh para demonstran.

Pada hari Jumat (9/1/2026), Trump mengatakan bahwa otoritas Iran “dalam masalah besar,” dan secara tegas menambahkan: “Lebih baik kalian jangan mulai menembak, karena kami juga akan mulai menembak.”

Keesokan harinya, Sabtu malam, Trump kembali menegaskan sikapnya melalui unggahan di media sosial Truth Social. Ia mengatakan AS “siap membantu” para demonstran yang sedang menghadapi penindakan keras.

“Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!” tulis Trump, meskipun ia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai bentuk bantuan yang dimaksud.

Sementara itu, Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran yang kini diasingkan, menyerukan para pengunjuk rasa untuk terus turun ke jalan pada hari Sabtu dan Minggu. Pahlavi, yang muncul sebagai tokoh sentral dalam gelombang protes saat ini, secara terbuka meminta warga untuk merebut kendali kota mereka. Seruan ini semakin memperkeruh situasi, menunjukkan bahwa krisis politik di Iran jauh dari kata usai.