Uptodai.com - Di tengah krisis pasokan komponen global yang dipicu oleh ledakan permintaan Artificial Intelligence (AI), fenomena unik terjadi di Jepang: harga PC bekas gaming melonjak signifikan. Kenaikan harga ini bukan hanya terjadi pada komponen baru, melainkan juga merambah ke perangkat komputasi yang sudah terpakai.

Situasi ini menunjukkan betapa parahnya kelangkaan chip memori yang tengah melanda industri teknologi saat ini. Bahkan, salah satu toko komputer ikonik di kawasan Akihabara, Softmap, secara terbuka meminta bantuan publik untuk menjual PC lama mereka.

Softmap Rela Beli PC Bekas dengan Harga Tinggi

Melalui akun resmi di media sosial X, Softmap membagikan foto rak-rak yang hampir kosong, menandakan minimnya stok barang yang bisa mereka tawarkan kepada konsumen. Kondisi ini memaksa mereka mengambil langkah ekstrem demi mengisi kembali inventaris toko.

“Sebagai bentuk bantuan, jika Anda membeli yang baru, mohon jual PC gaming Anda ke perusahaan kami,” tulis Softmap dalam unggahan tersebut, sebagaimana dikutip dari Toms Hardware. Mereka menjanjikan penawaran harga yang sangat kompetitif, jauh di atas harga pasar normal untuk barang bekas.

Pihak toko menegaskan bahwa mereka siap menerima semua jenis komputer tanpa pandang bulu. Softmap memastikan akan membeli apapun, mulai dari desktop gaming kelas atas, laptop, hingga komputer non-gaming biasa yang sudah tidak terpakai.

Softmap secara eksplisit menyatakan, “Kami membelinya dengan harga yang cukup tinggi,” demi mengisi kembali inventaris mereka yang kian menipis. Permintaan ini menjadi indikasi kuat bahwa pasar PC bekas telah bergeser menjadi pasar penjual (seller’s market) akibat tekanan pasokan global.

Dampak Krisis Memori Global Akibat Ledakan AI

Permintaan agresif dari sektor AI telah menyebabkan krisis memori global yang dampaknya terasa hingga ke pasar ritel PC konsumen. Lonjakan kebutuhan chip memori performa tinggi, terutama untuk melatih model bahasa besar, menggeser prioritas produksi pabrikan.

Akibatnya, pasokan komponen untuk PC biasa menjadi terganggu, dan kelangkaan ini diperparah dengan spekulasi pasar. Sebelumnya, kelangkaan ini telah memaksa sejumlah toko di Jepang membatasi pembelian kartu grafis (GPU).

Salah satunya adalah Tsukomo eX, yang juga bertempat di Akihabara, hanya mengizinkan pelanggan membeli satu unit kartu grafis kelas atas per transaksi. Pembatasan ini berlaku untuk model seperti GeForce RTX 5060 Ti 16 GB atau seri Radeon RX 9000 atau yang lebih tinggi.

Harga RAM DDR5 Meroket 3,5 Kali Lipat

Dampak paling nyata dari krisis ini terlihat pada harga memori DDR5 modern yang kini melambung tinggi. Beberapa kit DDR5, seperti Corsair Vengeance RGB DDR5-200 16GB (2x8GB), dilaporkan melonjak drastis di pasar global.

Harga jualnya di platform seperti Amazon kini dipatok mencapai US$235 atau setara dengan Rp 3,9 juta. Kenaikan ini sangat mencolok, mengingat harga kit serupa pada Oktober tahun lalu hanya berkisar US$66 atau sekitar Rp 1,1 juta.

Artinya, harga memori telah melompat hingga 3,5 kali lipat dalam kurun waktu kurang dari setahun. Peningkatan harga ini tentu saja memukul konsumen yang sedang berencana merakit atau meningkatkan spesifikasi PC mereka.

Ancaman Kenaikan Harga GPU dan Penundaan Generasi Baru

Analisis dari pakar industri memperkirakan bahwa PC rakitan secara keseluruhan akan menjadi korban berikutnya dari krisis ini. Kartu grafis dengan kuota VRAM (Video RAM) yang besar, yang sangat dibutuhkan untuk game modern dan tugas berat, menghadapi masalah pasokan serius.

Laporan tersebut juga memprediksi adanya kenaikan harga yang signifikan untuk GPU, termasuk unit generasi berikutnya yang mungkin mengalami penundaan peluncuran. Kelangkaan chip RAM ini terjadi jauh lebih cepat dari perkiraan industri, sepenuhnya didorong oleh kebutuhan mendesak dari infrastruktur AI global yang haus akan memori berkecepatan tinggi.