Uptodai.com - Fenomena ketergantungan pada perangkat seluler semakin mengkhawatirkan. Data terbaru dari lembaga riset pasar Sensor Tower menunjukkan bahwa warga dunia kecanduan aplikasi secara masif, menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari hanya untuk menatap layar ponsel.

Laporan bertajuk “State of Mobile 2026” ini mengungkap betapa intensnya penggunaan aplikasi, yang kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian miliaran orang. Penggunaan yang signifikan ini tidak hanya tercermin dari durasi waktu yang dihabiskan, tetapi juga dari volume unduhan dan nilai transaksi yang fantastis.

Angka-angka ini mempertegas pergeseran fundamental dalam cara masyarakat global berinteraksi, berbelanja, dan mencari hiburan. Dunia digital kini menuntut perhatian yang lebih besar, bahkan mengalahkan aktivitas fisik dan sosial di dunia nyata.

Durasi Penggunaan Global Melebihi Batas Wajar

Secara kolektif, masyarakat global (tidak termasuk pengguna di China) menghabiskan total 5,3 triliun jam untuk menjelajahi aplikasi di platform iOS dan Android sepanjang tahun 2025. Angka yang mencengangkan ini mengalami kenaikan sebesar 3,8% dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan peningkatan adiksi yang berkelanjutan.

Jika dihitung rata-rata, setiap individu di Bumi menghabiskan waktu setara 600 jam setahun hanya untuk mengakses berbagai aplikasi. Dalam skala harian, rata-rata pengguna menghabiskan 3,6 jam per hari di depan layar ponsel mereka, yang merupakan kenaikan 1,1% dari tahun 2024.

Peningkatan durasi ini menunjukkan bahwa batas antara waktu luang dan waktu yang dihabiskan di dunia digital semakin kabur. Selain durasi, pengguna juga semakin aktif mencoba hal baru. Rata-rata pengguna mengakses setidaknya 34 aplikasi berbeda setiap bulannya, naik 5,4% secara tahunan.

Aplikasi yang paling banyak menyita durasi pengguna, sekaligus menjadi pemicu utama kenaikan waktu, adalah TikTok. Platform video pendek asal China tersebut mencatat pertumbuhan durasi penggunaan sebesar 5% secara tahun-ke-tahun.

TikTok Masih Jadi Raja, ChatGPT Meroket Tajam

Meskipun intensitas penggunaan meningkat, volume unduhan aplikasi baru juga tetap tinggi. Sepanjang tahun 2025, sebanyak 149 miliar aplikasi telah diunduh di seluruh dunia, mencatat kenaikan tipis 0,8% dibandingkan tahun 2024. Angka ini setara dengan 284.000 aplikasi yang diunduh setiap menitnya.

Di tengah persaingan ketat, TikTok tetap mempertahankan posisinya sebagai aplikasi yang paling banyak diunduh, meskipun pertumbuhannya melambat -11% YoY. Namun, kejutan terbesar datang dari ChatGPT, yang melesat ke peringkat kedua dengan pertumbuhan unduhan tertinggi, mencapai 148%.

Lonjakan ChatGPT ini menandakan dominasi kecerdasan buatan (AI) yang mulai merambah ke perangkat seluler, menawarkan layanan produktivitas dan informasi yang masif. Posisi ketiga ditempati oleh TickTock-TikTok Live Wallpaper, yang juga mengalami penurunan 11%.

Aplikasi belanja Temu dan platform streaming Netflix masing-masing berada di posisi keempat dan kelima. Menariknya, WhatsApp, yang merupakan aplikasi komunikasi esensial, harus puas di peringkat ketujuh, dikalahkan oleh Remini, aplikasi pengeditan foto berbasis AI, yang menduduki peringkat keenam.

Transaksi Aplikasi Tembus Triliunan Rupiah

Kecanduan penggunaan ini berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi digital. Pendapatan dari pembelian di dalam aplikasi (in-app purchase/IAP) juga mengalami lonjakan signifikan, tumbuh 10,6% pada tahun 2025. Total transaksi aplikasi tembus triliunan, mencapai US$167 miliar atau setara dengan Rp2.820 triliun.

TikTok sekali lagi membuktikan posisinya sebagai mesin uang digital, menempati peringkat pertama aplikasi dengan IAP terbesar, dengan pertumbuhan 17% YoY. Platform streaming Disney+ berada di posisi kedua, diikuti oleh aplikasi kencan Tinder Dating, dan layanan berlangganan Google One.

Sama seperti di kategori unduhan, ChatGPT menunjukkan potensi pendapatan yang luar biasa, menduduki posisi kelima dalam IAP terbesar. Pertumbuhan transaksi ChatGPT bahkan melampaui semua pesaing, tembus 254% secara tahunan. Data ini menegaskan bahwa pengguna tidak hanya menghabiskan waktu, tetapi juga rela mengeluarkan uang untuk layanan digital yang dirasa memberikan nilai tambah, terutama yang berbasis AI.