Uptodai.com - Viral di media sosial, kabar mengenai pencairan dana rapel pensiunan telah menimbulkan kehebohan di kalangan masyarakat luas. Namun, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bergerak cepat menanggapi isu tersebut, memastikan bahwa narasi hoaks dana rapel pensiunan yang beredar luas adalah berita palsu. Kemenkeu menegaskan bahwa konten video tersebut diproduksi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) jenis deepfake yang sangat menyesatkan.

Pemerintah meminta masyarakat agar tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang tidak berdasar. Penyebaran hoaks semacam ini sering kali bertujuan untuk menciptakan kepanikan atau bahkan digunakan sebagai modus penipuan. Oleh karena itu, verifikasi informasi menjadi langkah krusial yang harus dilakukan oleh setiap warga negara.

Modus Operandi Hoaks Dana Rapel Pensiunan dan Deepfake

Video yang menjadi sumber keresahan publik tersebut disebarkan melalui salah satu kanal YouTube dengan klaim yang sangat meyakinkan. Konten itu secara eksplisit mengklaim bahwa dana rapel pensiunan telah resmi dicairkan dan sudah mulai masuk ke rekening para penerima di seluruh Indonesia. Parahnya, video tersebut menampilkan sosok yang sangat mirip dengan pejabat tinggi Kemenkeu, sehingga sulit dibedakan dengan aslinya.

PPID Kemenkeu menjelaskan bahwa tokoh yang ditampilkan dalam video tersebut adalah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Penggunaan citra pejabat negara ini bertujuan untuk memberikan kesan kredibilitas dan urgensi pada informasi palsu tersebut. Teknik manipulasi canggih ini memanfaatkan AI untuk meniru gerakan bibir, ekspresi wajah, bahkan suara, menjadikannya ancaman serius di era digital.

Melalui unggahan resmi di akun Instagram, PPID Kemenkeu secara tegas membantah seluruh narasi yang terkandung dalam video viral tersebut. Mereka memastikan bahwa informasi mengenai pencairan dana rapel pensiunan yang diumumkan di kanal tersebut adalah tidak benar atau hoaks. Pernyataan resmi ini dikutip pada Sabtu (24/1/2026).

Waspada Terhadap Video Deepfake Kemenkeu dan Penyesatan Informasi

Kemenkeu menekankan bahwa teknologi deepfake memungkinkan pelaku kejahatan siber untuk memanipulasi video dan audio dengan tingkat akurasi yang tinggi. Manipulasi ini menghasilkan konten yang sangat meyakinkan, padahal isinya 100% fiktif dan bertujuan untuk menipu. Fenomena ini menjadi peringatan keras tentang bahaya kecerdasan buatan yang disalahgunakan untuk tujuan penipuan dan penyebaran disinformasi publik.

PPID Kemenkeu meminta masyarakat untuk selalu waspada dan tidak mudah mempercayai konten yang mengatasnamakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Mereka juga mengimbau agar masyarakat selalu memverifikasi informasi melalui sumber resmi Kemenkeu. Verifikasi ini penting agar publik tidak menjadi korban penyesatan informasi yang merugikan.

Masyarakat disarankan untuk menjadikan saluran resmi Kemenkeu, seperti situs web dan akun media sosial terverifikasi, sebagai rujukan utama. Langkah verifikasi ini krusial, terutama untuk informasi sensitif yang berkaitan dengan kebijakan publik dan keuangan pribadi. Dengan demikian, potensi kerugian finansial akibat termakan berita bohong dapat dihindari.