Waspada! Gula Darah Tak Terkontrol Picu Koma, Ini Saran Dokter
Uptodai.com - Kondisi medis yang sangat serius dan sering kali terabaikan adalah ketika gula darah tak terkontrol picu koma, sebuah keadaan darurat yang dikenal sebagai Ketoasidosis Diabetik (DKA). Komplikasi akut ini merupakan ancaman fatal bagi penderita diabetes jika penanganannya terlambat, bahkan bisa berujung pada kematian.
DKA terjadi bukan hanya karena kadar gula yang tinggi, melainkan juga karena tubuh gagal menggunakan glukosa sebagai sumber energi utama. Akibatnya, mekanisme darurat tubuh mengambil alih, memicu serangkaian reaksi kimia berbahaya yang mengubah keseimbangan pH darah secara drastis.
Mekanisme Gula Darah Tak Terkontrol Picu Koma
Dokter Herry Nursetiyanto, Sp.PD-KEMD, FINASIM, seorang spesialis penyakit dalam, menjelaskan bahwa DKA adalah hasil dari defisiensi insulin yang parah. Ketika insulin tidak cukup, sel-sel tubuh tidak bisa menyerap gula, sehingga energi harus dicari dari sumber lain.
Tubuh kemudian mulai memecah simpanan lemak, atau trigliserida, menjadi asam lemak bebas. Proses katabolik ini terjadi di organ hati dan menghasilkan senyawa yang disebut keton.
Keton memiliki sifat asam. Penumpukan keton dalam jumlah besar di aliran darah inilah yang membuat darah menjadi sangat asam, kondisi yang sangat berbahaya bagi organ vital seperti ginjal dan otak, dan pada akhirnya dapat berujung pada koma.
Kenali Gejala Ketoasidosis Diabetik yang Sering Diabaikan
Banyak penderita diabetes sering mengabaikan gejala awal DKA, padahal ini adalah kunci penyelamatan nyawa. Gejala ketoasidosis diabetik seringkali dimulai dengan keluhan ringan yang progresif, namun cepat memburuk.
Beberapa tanda klasik yang harus diwaspadai termasuk rasa haus yang ekstrem (polidipsi) dan frekuensi buang air kecil yang meningkat drastis (poliuria). Pasien juga sering mengeluhkan mual, muntah, serta sakit perut yang persisten.
Tanda yang paling khas dan tidak boleh terlewatkan adalah napas yang cepat dan dalam (pernapasan Kussmaul), serta aroma mulut yang berbau seperti aseton atau buah yang terlalu matang. Hal ini menandakan tingginya kadar keton yang dikeluarkan melalui pernapasan.
Selain itu, pasien mungkin merasakan lemas ekstrem, sulit berkonsentrasi, kulit kering, dan mengalami dehidrasi berat. Dr. Herry menegaskan, jika penderita diabetes tiba-tiba kehilangan kesadaran atau pingsan, itu sudah merupakan sinyal darurat medis yang tidak bisa ditunda.
Protokol Penanganan Darurat Komplikasi Diabetes Akut
Ketika komplikasi diabetes akut seperti DKA terjadi, penanganan di fasilitas kesehatan yang memadai adalah mutlak. Pasien tidak bisa hanya menunggu sadar dengan sendirinya di rumah karena risiko kerusakan organ sangat tinggi.
Menurut protokol medis, langkah pertama yang diambil tim medis adalah memberikan cairan infus secara agresif untuk mengatasi dehidrasi parah yang dialami pasien. Selanjutnya, pasien akan menerima suntikan insulin untuk perlahan menurunkan kadar gula darah yang melonjak.
Koreksi keseimbangan elektrolit atau garam mineral tubuh juga sangat penting, mengingat kondisi asam darah yang telah mengganggu fungsi organ. Seluruh proses ini harus dilakukan di bawah pemantauan ketat dokter untuk mencari penyebab mendasar yang memicu DKA tersebut, misalnya infeksi.
Dr. Fiktorius Kuludong, Hospital Director Mayapada Hospital Jakarta Selatan, menekankan pentingnya kesiapan layanan darurat 24 jam bagi pasien diabetes. Ketersediaan dokter spesialis penyakit dalam sepanjang waktu sangat krusial dalam menangani kasus DKA yang bersifat mendadak dan membutuhkan respons cepat.
Perawatan lanjutan mungkin memerlukan keterlibatan Dokter Spesialis Anestesi jika dibutuhkan tindakan bedah atau perawatan intensif di ruang ICU. Kesiapan tim dokter spesialis dan subspesialis 24 jam ini berguna untuk selalu memastikan keselamatan (patient safety) dan kenyamanan pasien selama masa kritis.