Uptodai.com - Kinerja penjualan mobil domestik sepanjang tahun 2025 kembali menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan. Situasi ini bukan sekadar stagnasi pasar yang telah terjadi lebih dari satu dekade, melainkan sinyal awal dari keruntuhan perlahan industri otomotif nasional.

Data terbaru menunjukkan bahwa penjualan ritel seluruh merek pada tahun lalu hanya mencapai 833.712 unit. Angka tersebut turun signifikan sebesar 6,3% dibandingkan capaian 889.680 unit pada tahun 2024. Ironisnya, di saat pasar domestik lesu, kinerja ekspor mobil utuh (CBU) justru mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Ancaman Ganda bagi Industri Otomotif Nasional

Volume ekspor mobil utuh berhasil menembus 518.212 unit, naik hampir 10% dibandingkan 472.194 unit pada periode sebelumnya. Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, menyebut bahwa volume ekspor menjadi penopang utama kinerja industri tahun lalu.

Namun, kenaikan ekspor tidak mampu menutupi luka parah akibat pelemahan pasar domestik yang diperparah oleh banjir impor. Pada saat yang sama, volume impor mobil utuh meningkat drastis, terutama didorong oleh insentif yang diberikan kepada mobil listrik impor.

Lonjakan impor mobil utuh mencapai 176.593 unit sepanjang 2025. Angka ini melonjak 82% dibandingkan 97.010 unit pada tahun 2024. Kombinasi pelemahan pasar dan lonjakan impor ini secara langsung menghantam produksi dalam negeri.

Total produksi kendaraan di Indonesia selama 2025 hanya mencapai 1,14 juta unit, turun 4,1% dari 1,19 juta unit tahun sebelumnya. Praktis, utilisasi pabrik pun tertekan hebat. Dengan volume produksi tersebut, tingkat utilisasi produksi nyaris tersisa 50% dari total kapasitas terpasang yang mencapai 2,3 juta unit.

Jeritan IKM Otomotif Tertekan Mobil Listrik

Dampak paling telak dari kelesuan pasar dan lonjakan impor ini dirasakan oleh produsen komponen, khususnya dari kelas Industri Kecil Menengah (IKM). Para produsen kecil yang telah eksis puluhan tahun dan menjadi tulang punggung program lokalisasi komponen domestik kini berada di ujung tanduk.

Ketua Perkumpulan Industri Kecil Menengah Komponen Otomotif Indonesia (PIKKO), Rosalina Faried, mengungkapkan bahwa pelaku IKM komponen terdampak paling awal. Ketika penjualan domestik menurun dan produksi pabrikan berkurang, permintaan terhadap komponen lokal langsung menyusut.

Anggota PIKKO selama ini berperan penting sebagai pemasok komponen berbasis metal, plastik, dan karet. Mereka juga menyediakan komponen tekstil yang krusial untuk interior otomotif. Sayangnya, mobil listrik impor yang membanjiri pasar belum sepenuhnya menggandeng komponen lokal, sehingga membuat IKM komponen kian semaput.

Mendorong Lokalisasi Komponen Mobil Listrik

Meskipun kondisi saat ini berat, Gaikindo berharap ada perbaikan di masa depan. Kukuh Kumara berharap penghentian insentif mobil listrik impor dapat menjadi katalis positif. Kebijakan ini diharapkan memaksa penerima insentif untuk segera memproduksi kendaraan secara lokal.

Langkah ini menjadi kunci utama untuk menyelamatkan rantai pasok domestik. Kewajiban lokalisasi komponen mobil listrik tanpa mengubah harga jual diharapkan mampu mendongkrak kembali pasar dan industri komponen dalam negeri.

Pemerintah perlu memastikan bahwa program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) benar-benar membawa manfaat bagi industri komponen lokal. Jika tidak, insentif yang diberikan hanya akan memindahkan penderitaan dari industri konvensional ke sektor IKM komponen yang selama ini telah berjuang keras.

Oleh karena itu, pengetatan regulasi dan pengawasan terhadap tingkat kandungan lokal (TKDN) pada kendaraan listrik menjadi sangat mendesak. Tanpa komitmen kuat dari pabrikan global untuk menggandeng IKM, industri komponen otomotif nasional akan terus terancam gulung tikar.