Uptodai.com - Selama bertahun-tahun, mitos mengenai daya tahan burger cepat saji, khususnya McDonald’s, terus menjadi perdebatan publik. Banyak orang percaya bahwa alasan burger McD lebih tahan lama adalah karena penggunaan bahan pengawet kimia yang berlebihan.

Namun, klaim ini telah berulang kali dibantah, baik oleh pihak McDonald’s sendiri maupun melalui serangkaian eksperimen ilmiah. Seorang koki dan penulis kuliner, J. Kenji Lopez-Alt dari blog Serious Eats, memutuskan untuk menguji hipotesis ini secara langsung demi mencari tahu penyebab sebenarnya.

Mengurai Lima Hipotesis di Balik Daya Tahan Burger

Lopez-Alt memulai studinya dengan lima dugaan utama yang mungkin menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri pada makanan. Dugaan pertamanya tentu saja adalah kandungan bahan pengawet pada daging dan roti. Selain itu, ia juga mencurigai kadar garam yang tinggi, serta tingkat kelembaban yang sangat rendah pada produk akhir.

Dua hipotesis lain yang ia ajukan adalah proses penyajian daging yang steril tanpa kontak organisme, serta tidak adanya udara selama persiapan burger. Kedua hipotesis terakhir ini segera ia kesampingkan. Mustahil bagi restoran cepat saji untuk menyiapkan makanan dalam kondisi steril total atau kedap udara.

Pihak McDonald’s juga telah menegaskan bahwa daging burger mereka 100% terbuat dari daging sapi murni. Pernyataan ini secara tidak langsung menolak anggapan adanya bahan pengawet kimia yang spesifik untuk mencegah pembusukan jamur, yang biasanya membutuhkan air untuk tumbuh.

Eksperimen Keawetan Burger McDonald’s: Garam Bukan Kunci Utama

Untuk memverifikasi faktor-faktor lain, Lopez-Alt membuat serangkaian kontrol yang cermat. Ia mengkombinasikan roti dan daging McD dengan roti dan daging buatannya sendiri. Beberapa sampel ia tambahkan garam ekstra, sementara yang lain dibuat tanpa garam sama sekali.

Ia juga memastikan bahwa tangannya tidak menyentuh langsung bahan baku, dan seluruh proses pembuatan dilakukan di ruangan terbuka, layaknya kondisi dapur biasa. Hal ini dilakukan untuk meniru proses produksi yang tidak steril. Setelah tiga pekan berlalu, hasil yang didapat cukup mengejutkan.

Burger McDonald’s dan burger buatannya sendiri—termasuk yang dibuat tanpa garam—sama-sama belum menunjukkan tanda-tanda pembusukan signifikan. Fakta ini membuktikan bahwa kadar garam, baik tinggi maupun rendah, bukanlah faktor penentu utama keawetan daging burger tersebut.

Rahasia Keawetan: Proses Dehidrasi Alami

Sumber ilmiah seperti IFL Science menyimpulkan bahwa kunci utama dari fenomena ini terletak pada tingkat kelembaban. Dalam waktu sekitar satu minggu, setiap burger yang diuji kehilangan hingga seperempat dari massa aslinya. Angka ini mengindikasikan proses pengeringan atau dehidrasi yang sangat cepat.

Prinsipnya sangat sederhana: tanpa kelembaban yang cukup, jamur dan bakteri pembusuk tidak dapat tumbuh dan berkembang biak. Daging burger McDonald’s yang terkenal sangat tipis memiliki area permukaan yang luas. Karakteristik ini mempercepat proses pengeringan sebelum pembusukan sempat dimulai.

Proses pengeringan cepat ini serupa dengan teknik tradisional yang digunakan dalam pembuatan dendeng atau ikan asin. Ketika kelembaban hilang, makanan menjadi awet secara alami.

Menariknya, ketika burger McDonald’s dibungkus rapat dalam kantong plastik yang kedap udara, kelembaban terperangkap di dalamnya. Dalam kondisi tersebut, burger tersebut justru membusuk dalam waktu kurang dari satu minggu, sama seperti makanan rumahan lainnya.

Studi lain yang ditampilkan dalam video Buzzfeed juga menunjukkan bahwa burger McD tampak paling tidak berubah setelah 30 hari dibandingkan burger dari restoran cepat saji lainnya. Perbedaan ini timbul karena perbedaan bahan baku dan metode memasak yang menghasilkan kadar air awal yang berbeda. Pada akhirnya, faktor kunci yang membuat burger McD bertahan lama adalah fisika dan kelembaban, bukan bahan pengawet.