Uptodai.com - Dolar Amerika Serikat (AS) yang selama ini dominan sebagai mata uang cadangan global, kini harus mengakui kekuatan pesaingnya. Sepanjang awal tahun 2026, franc Swiss mata uang terkuat di dunia, melanjutkan tren penguatan signifikan yang telah terjadi setahun sebelumnya.

Mata uang Swiss ini telah menguat sekitar 3,5% terhadap dolar AS sejak awal tahun, melengkapi kenaikan impresif sebesar 12,7% sepanjang tahun 2025. Bahkan, pada Selasa waktu setempat, franc Swiss sempat menyentuh posisi tertinggi dalam lebih dari satu dekade dan masih bertahan di dekat level tersebut hingga Rabu pagi.

Kenaikan Franc Swiss di Tengah Ketidakpastian Global

Penguatan tajam franc Swiss didorong oleh kombinasi faktor domestik dan global yang kompleks. Kekhawatiran terhadap kebijakan perdagangan AS yang tidak menentu menjadi salah satu pemicu utama investor beralih ke aset yang lebih aman.

Selain itu, meningkatnya tensi geopolitik global turut memperkuat status franc Swiss sebagai aset safe haven. Ketidakpastian mengenai independensi Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan kebijakan moneter juga menambah tekanan pada dolar AS, membuat investor mencari alternatif yang lebih stabil.

Ketua Bank Nasional Swiss (Swiss National Bank/SNB), Martin Schlegel, menjelaskan situasi ini di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos. Menurutnya, eskalasi geopolitik selalu berarti peningkatan ketidakpastian yang secara langsung menguntungkan mata uang mereka.

“Setiap kali ketidakpastian global meningkat, franc Swiss menguat,” kata Schlegel, seperti dimuat Kamis (29/1/2026). “Ini bukanlah hal yang baik bagi Swiss karena membuat kebijakan moneter menjadi jauh lebih rumit.”

Dilema SNB: Menjaga Stabilitas di Tengah Disinflasi

Kekuatan franc Swiss yang luar biasa ini justru menimbulkan dilema besar bagi SNB. Di satu sisi, mata uang yang kuat mencerminkan kepercayaan pasar, tetapi di sisi lain, Swiss menghadapi tekanan disinflasi yang serius.

Data terbaru menunjukkan bahwa inflasi di Swiss tercatat hanya 0,1%, sementara suku bunga acuan SNB berada di level 0%. Franc yang terlalu kuat berisiko menekan sektor ekonomi yang berbasis ekspor, karena harga produk Swiss menjadi lebih mahal di pasar internasional.

Namun, tekanan terhadap ekspor tidak semudah yang dibayangkan. Giuliano Bianchi, salah satu pendiri Quantitas Institute di EHL Hospitality Business School, menjelaskan bahwa permintaan terhadap banyak ekspor Swiss relatif tidak elastis terhadap harga.

“Penguatan mata uang tidak banyak mengurangi permintaan,” ujar Bianchi. Artinya, meskipun franc mahal, permintaan terhadap barang-barang mewah, farmasi, atau jam tangan Swiss tetap tinggi, sehingga SNB tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pelemahan permintaan untuk meredam apresiasi mata uang.

Ancaman Intervensi dan Risiko Dagang

Kondisi ini memaksa SNB berada dalam posisi yang sangat sulit. Mereka harus memilih antara dua opsi kebijakan yang sama-sama berisiko. Opsi pertama adalah kembali menurunkan suku bunga hingga kembali ke wilayah negatif, sementara opsi kedua adalah melakukan intervensi pasar valuta asing secara langsung.

Intervensi pasar valuta asing membawa risiko geopolitik yang signifikan. Pilihan ini akan sangat sensitif, terutama setelah Swiss baru saja berhasil mengamankan penurunan tarif impor AS dari 39% menjadi 15%.

Selain itu, Swiss juga masuk dalam daftar pemantauan kebijakan mata uang Gedung Putih. Intervensi besar-besaran untuk melemahkan franc berpotensi memicu ketegangan perdagangan baru dengan AS, sehingga SNB harus bergerak sangat hati-hati.

Proyeksi Jangka Panjang Mata Uang Paling Tangguh

Meskipun SNB menghadapi dilema dan tantangan domestik, pelaku pasar menilai franc Swiss akan tetap mempertahankan kekuatannya dalam jangka waktu yang cukup lama. Statusnya sebagai tempat berlindung yang aman (safe haven) sulit digantikan oleh mata uang utama lainnya.

Lloyd Harris, kepala divisi pendapatan tetap Premier Miton Investors, menegaskan pandangan tersebut. Menurutnya, franc Swiss telah membuktikan diri sebagai mata uang terkuat di dunia dalam jangka panjang.

Franc Swiss mata uang terkuat di dunia dalam jangka panjang dan kemungkinan tetap tangguh tahun ini,” pungkas Harris, memberikan sinyal bahwa dominasi dolar AS akan terus tergerus oleh stabilitas dan kepercayaan yang dimiliki oleh mata uang Swiss.