Uptodai.com - Republik Rakyat China, negara dengan populasi terbesar di dunia, kini menghadapi kenyataan pahit berupa penyusutan jumlah penduduk yang semakin cepat. Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2024, Populasi China Menurun Drastis hingga sekitar 2 juta jiwa. Ini merupakan kelanjutan tren yang mengkhawatirkan bagi masa depan ekonomi dan sosial negara Tirai Bambu tersebut.

Penurunan ini terjadi lantaran angka kelahiran yang tercatat tidak mampu lagi menandingi angka kematian. Situasi ini menandai pergeseran demografi yang signifikan setelah lebih dari enam dekade China menikmati pertumbuhan populasi yang stabil.

Hilangnya 2 Juta Jiwa dan Tren Krisis Kelahiran

Laporan resmi yang dirilis menunjukkan bahwa populasi China mencapai 1,408 miliar pada akhir tahun 2024. Angka ini turun tajam dari 1,410 miliar yang tercatat pada tahun 2023.

Penurunan yang terjadi pada 2024 ini bahkan lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada tahun 2023, jumlah penduduk China sudah tercatat turun sebanyak 2,8 juta jiwa, sementara pada 2022 penurunannya masih di angka 850 ribu.

Kepala Risiko Negara Asia di BMI, Darren Tay, menegaskan bahwa tren ini menimbulkan ancaman serius bagi pasar tenaga kerja di China. Ia memprediksi bahwa penyusutan ini juga akan menekan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) China dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.

Proyeksi Suram Populasi Jangka Panjang

Situasi ini bukan hanya fenomena sesaat, melainkan krisis struktural yang akan berlangsung lama. Lembaga riset terkemuka, Economist Intelligence Unit (EIU), telah membuat perkiraan yang jauh lebih suram mengenai masa depan demografi China.

EIU memperkirakan populasi China akan menyusut drastis menjadi hanya 1,317 miliar pada tahun 2050. Bahkan, jika tren ini terus berlanjut tanpa intervensi efektif, jumlah penduduk pada tahun 2100 diproyeksikan tinggal setengahnya, yakni sekitar 732 juta jiwa.

Ekonom senior EIU, Tianchen Xu, menyoroti kecepatan penurunan tingkat kesuburan di China. Menurutnya, tingkat kesuburan di negara tersebut menurun jauh lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara maju lain yang juga menghadapi masalah serupa, seperti Korea Selatan dan Jepang.

Resesi Seks: Ketika Biaya Hidup Mengalahkan Keinginan

Salah satu akar utama yang memicu krisis demografi ini adalah fenomena yang dikenal sebagai resesi seks. Resesi seks merujuk pada penurunan signifikan dalam aktivitas seksual, pernikahan, dan terutama angka kelahiran.

Fenomena sosial yang kompleks ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekonomi, budaya, dan struktural. Di China, biaya hidup yang terus melonjak, ditambah dengan mahalnya biaya membesarkan anak, menjadi hambatan terbesar bagi keluarga muda untuk memiliki keturunan.

Darren Tay menambahkan bahwa keengganan keluarga China untuk memiliki anak banyak merupakan fenomena khas negara maju. Semakin maju suatu perekonomian, semakin banyak keterampilan yang dituntut dari tenaga kerja, sehingga investasi yang diperlukan untuk membesarkan anak pun ikut melonjak drastis.

Selain biaya, faktor-faktor lain seperti stres akibat tuntutan karir, tekanan sosial, perubahan pandangan terhadap institusi pernikahan, serta ketimpangan gender dan krisis jodoh juga menjadi penyebab utama resesi seks di negara tersebut.

Tekanan Fiskal dan Solusi Usia Pensiun

Di samping ancaman terhadap pasar tenaga kerja, China juga mulai menghadapi tekanan fiskal yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah lansia dan pensiunan yang memerlukan dukungan finansial dari pemerintah.

Rasio ketergantungan (jumlah lansia terhadap usia produktif) terus memburuk, menempatkan beban berat pada anggaran negara. Oleh karena itu, reformasi sistem pensiun menjadi sangat mendesak.

Laporan EIU menyarankan agar usia pensiun dinaikkan menjadi 65 tahun pada tahun 2035. Jika kebijakan ini diterapkan, defisit anggaran pensiun diperkirakan bisa ditekan hingga 20 persen. Peningkatan usia pensiun juga dapat meningkatkan penerimaan bersih pensiunan hingga 30 persen, yang pada akhirnya akan meringankan beban finansial baik bagi negara maupun rumah tangga.