Serangan Rudal Rusia di Ukraina: 520 Proyektil Ditembakkan Saat Bos NATO Tiba
Uptodai.com - Moskow melancarkan Serangan Rudal Rusia di Ukraina secara besar-besaran, menembakkan lebih dari 520 proyektil hanya dalam satu malam, bertepatan dengan kedatangan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, di Kyiv. Intensitas gempuran ini menunjukkan eskalasi signifikan dalam strategi militer Rusia, terutama menargetkan infrastruktur sipil dan energi Ukraina.
Peristiwa ini juga terjadi menjelang perundingan damai tiga pihak yang dijadwalkan berlangsung di Uni Emirat Arab (UEA) pada minggu yang sama. Waktu serangan yang sangat terencana ini menggarisbawahi upaya Kremlin untuk memberikan tekanan maksimal, baik di medan perang maupun di meja diplomasi.
Analisis Taktik Rusia dan Dampak Kelumpuhan Energi
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, segera mengonfirmasi skala serangan tersebut. Ia menyebutkan bahwa Moskow melepaskan sekitar 450 drone jarak jauh dan 70 rudal, yang secara khusus menyasar jaringan listrik nasional dan fasilitas vital lainnya.
Zelensky menuduh Rusia sengaja memanfaatkan kondisi cuaca ekstrem, yakni hari-hari terdingin di musim dingin, untuk meneror penduduk sipil. Menurutnya, tindakan ini membuktikan bahwa meneror masyarakat jauh lebih penting bagi Kremlin ketimbang upaya diplomasi atau negosiasi.
Senada dengan Zelensky, Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menilai tindakan ini sudah direncanakan matang. Sybiha menyebut Presiden Vladimir Putin menunggu suhu anjlok drastis sambil menimbun drone serta rudal untuk melanjutkan apa yang ia sebut sebagai “serangan genosida” terhadap rakyat Ukraina.
Dampak dari gempuran yang terkonsentrasi ini sangat melumpuhkan sistem energi Ukraina. DTEK, perusahaan energi swasta terbesar di negara itu, menyatakan bahwa situs-situs energi di seluruh negeri mengalami “pukulan paling kuat” sepanjang tahun ini, menyebabkan kerusakan yang meluas dan mendalam.
Akibatnya, pemadaman listrik terjadi secara luas, memaksa jutaan warga menghadapi suhu dingin tanpa pemanas. Di ibu kota Kyiv, banyak blok apartemen kehilangan akses pemanas, sementara sebuah pembangkit listrik vital di Kharkiv dilaporkan mengalami kerusakan permanen yang parah.
Jenis Rudal dan Tingkat Intersepsi Pertahanan Udara
Angkatan Udara Ukraina merinci berbagai jenis proyektil yang diluncurkan Moskow dalam Serangan Rudal Rusia di Ukraina kali ini. Serangan tersebut mencakup empat rudal anti-kapal Zircon/Onix, 32 rudal balistik Iskander-M/S-300, serta puluhan rudal jelajah canggih jenis Kh-22 dan Kh-101.
Meskipun sistem pertahanan udara Ukraina bekerja keras, jumlah proyektil yang diluncurkan sangat masif. Data menunjukkan bahwa 38 rudal dan 412 drone berhasil dicegat oleh pertahanan udara Kyiv.
Namun, sebanyak 27 rudal dan 31 drone berhasil lolos dari pertahanan, menghantam 27 lokasi berbeda dan melukai sedikitnya 10 orang warga sipil. Keberhasilan ini menunjukkan tantangan besar yang dihadapi Ukraina dalam melindungi infrastruktur sipilnya dari serangan rudal balistik berkecepatan tinggi.
Kunjungan Mark Rutte ke Kyiv: Janji Dukungan NATO
Di tengah situasi darurat akibat gempuran yang intens, Sekjen NATO Mark Rutte tetap melanjutkan agendanya. Ia memberikan pidato di hadapan parlemen Ukraina, Verkhovna Rada, sebagai simbol dukungan aliansi.
Rutte menegaskan bahwa dukungan aliansi Atlantik Utara terhadap Kyiv tidak akan goyah sedikit pun. Ia menjamin bahwa NATO akan terus memberikan bantuan militer dan kemanusiaan yang diperlukan.
“Kami ingin memastikan bahwa perdamaian bertahan lama, sehingga anak-anak dapat menatap masa depan tanpa rasa takut dan membantu membangun bangsa yang besar,” ujar Rutte. Ia menekankan bahwa Ukraina adalah dan akan tetap menjadi hal yang esensial bagi keamanan kolektif NATO, terlepas dari tekanan militer yang dilancarkan Moskow.
Rebecca Bakos Blumenthal dari Global Rights Compliance menilai bahwa waktu serangan ini sangat strategis dan sinis. Serangan ini membuktikan strategi militer Rusia tidak berubah, bahkan di tengah upaya negosiasi yang dipimpin Amerika Serikat.
Untuk keempat kalinya berturut-turut di musim dingin, taktik Rusia tetap fokus pada serangan sistematis terhadap energi dan infrastruktur sipil. Tujuannya jelas, yakni menghancurkan moral dan kemampuan operasional negara di saat yang paling rentan.