Uptodai.com - Kekalahan tipis 1-2 yang diderita PSIM Yogyakarta saat bertandang ke markas Borneo FC tidak lantas membuat sang pelatih, Jean Paul van Gastel, kecewa. Performa PSIM Yogyakarta dipuji oleh juru taktik asal Belanda tersebut, yang menilai timnya sudah menunjukkan peningkatan signifikan.

Duel sengit antara Pesut Etam melawan Laskar Mataram ini tersaji dalam lanjutan Super League 2025-2026 di Stadion Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur, pada Minggu, 1 Februari 2026. Meskipun hasil akhir tidak berpihak, Van Gastel menegaskan bahwa timnya hanya kurang dinaungi keberuntungan.

Pertandingan Terbuka dan Drama Penalti

Laga antara dua tim yang memperebutkan posisi atas klasemen ini berjalan sangat terbuka dan intens sejak peluit pertama dibunyikan. Tuan rumah Borneo FC berhasil memecah kebuntuan terlebih dahulu melalui aksi Kaio Nunes pada menit ke-29, yang membuat skor bertahan 1-0 hingga jeda.

PSIM Yogyakarta tidak menyerah dan terus menekan pertahanan lawan di babak kedua. Upaya keras tersebut membuahkan hasil pada menit ke-82, ketika wasit memberikan hadiah penalti setelah Ghulam Fatkur dijatuhkan oleh Dika Kuswardana di area terlarang.

Ze Valente yang dipercaya sebagai algojo sukses menjalankan tugasnya dengan sempurna, menyamakan kedudukan menjadi 1-1 dan memberikan asa besar bagi tim tamu. Sayangnya, momentum tersebut tidak bertahan lama.

Di masa injury time, tepatnya menit ke-90+2, Koldo Obieta muncul sebagai pahlawan bagi Borneo FC setelah mencetak gol penentu kemenangan. Gol dramatis tersebut memastikan tiga poin bagi Pesut Etam, sekaligus menahan PSIM untuk menambah koleksi angka mereka di klasemen.

Analisis Van Gastel: Hanya Kurang Beruntung

Usai pertandingan, Jean Paul van Gastel mengakui bahwa kekalahan ini bukanlah hasil yang diharapkan, tetapi ia tetap melihat sisi positif dari penampilan anak asuhnya. Menurutnya, kualitas permainan yang ditampilkan Laskar Mataram jauh lebih baik dibandingkan laga sebelumnya.

Pelatih asal Belanda itu menganggap pertandingan tersebut sangat menghibur karena kedua tim saling menciptakan peluang. Ia menekankan bahwa PSIM hanya kalah tipis dalam hal efektivitas penyelesaian akhir.

“Saya rasa jika Anda melihat pertandingannya, saya pikir itu adalah permainan yang terbuka. Ada peluang di kedua sisi dan itu sangat menyenangkan untuk ditonton,” ujar Van Gastel.

Ia menambahkan bahwa secara keseluruhan, timnya bermain cukup bagus, mirip seperti saat melawan Persebaya, namun kali ini mereka berada di sisi skor yang kurang beruntung. Van Gastel menilai cara timnya menampilkan performa di lapangan merupakan indikasi yang sangat positif untuk masa depan.

Dampak Klasemen dan Fokus ke Derby Mataram

Hasil negatif ini membuat PSIM Yogyakarta tertahan di posisi ketujuh klasemen sementara dengan koleksi 30 poin. Di sisi lain, kemenangan krusial ini mendongkrak posisi Borneo FC ke peringkat kedua dengan 43 poin, hanya terpaut satu angka dari Persib Bandung yang masih memimpin liga.

Kapten PSIM, Reva Adi Utama, turut menyampaikan kekecewaan karena gagal membawa pulang poin dari Samarinda. Meskipun demikian, ia sependapat dengan pelatih bahwa timnya tidak boleh larut dalam kesedihan.

“Mungkin ini bukan hasil yang kami inginkan karena kami datang ke sini bermain untuk menang. Tetapi di momen ini, kami sedang membangun sistem dan pelatih sedang membangun identitas cara kami bermain,” kata Reva Adi.

Reva Adi Utama meminta rekan-rekannya untuk segera mengalihkan fokus dan menjaga motivasi tetap tinggi. Pertandingan selanjutnya akan menjadi ujian besar, yaitu Derby Mataram melawan Persis Solo, di mana PSIM wajib meraih poin penuh untuk memperbaiki posisi mereka di tabel klasemen Super League.