Mengenang Insiden Kelam Persib vs Persija 2017: Gol Dianulir Berujung WO
Uptodai.com - Atmosfer panas El Clasico Indonesia mulai memanas seiring mendekatnya jadwal pertemuan dua raksasa, Persib Bandung dan Persija Jakarta. Pertarungan abadi ini bukan sekadar perebutan tiga poin di klasemen, melainkan pertaruhan gengsi yang selalu diwarnai tensi tinggi, baik di dalam maupun luar lapangan.
Persib Bandung dijadwalkan menjamu rivalnya, Persija Jakarta, dalam lanjutan pekan ke-17 BRI Super League 2025/2026. Publik sepak bola nasional tentu berharap duel di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) kali ini berjalan lancar, tanpa mengulang kembali drama atau kontroversi masa lalu.
Mengingat Kembali Insiden Kelam Persib vs Persija 2017
Menjelang laga krusial tersebut, memori kolektif suporter kedua tim kembali ditarik mundur ke salah satu episode paling kontroversial dalam sejarah pertemuan mereka. Peristiwa tersebut adalah Insiden Kelam Persib vs Persija 2017 yang berakhir dengan kemenangan walk out (WO) untuk Macan Kemayoran.
Laga yang digelar pada 3 November 2017 itu sejatinya merupakan pertandingan tandang bagi Persib. Namun, demi alasan keamanan dan rekomendasi dari PT Liga Indonesia Baru (LIB), lokasi pertandingan dipindahkan dari Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, ke Stadion Manahan, Solo.
Meskipun diguyur hujan deras, tensi pertandingan tetap membara sejak peluit awal dibunyikan. Persija, yang tampil di depan ribuan pendukungnya di Solo, langsung mengambil inisiatif serangan, mendominasi lini tengah, dan terus menekan pertahanan Maung Bandung.
Gol Ezechiel N’Douassel yang Dianulir Wasit Shaun Evans
Di tengah tekanan yang dilancarkan Persija, Persib justru berhasil mengejutkan publik pada menit ke-28. Penyerang andalan mereka saat itu, Ezechiel N’Douassel, melepaskan sundulan keras yang tampak jelas melewati garis gawang Andritany Ardhiyasa.
Tayangan ulang memperlihatkan bola memantul keras ke tanah dan masuk ke jaring bagian dalam gawang sebelum dihalau oleh bek Persija. Namun demikian, wasit asal Australia, Shaun Evans, secara mengejutkan menganulir gol tersebut.
Keputusan kontroversial ini langsung memicu protes keras dari seluruh pemain dan ofisial Persib Bandung. Mereka merasa dirugikan secara terang-terangan, tetapi Evans tetap bergeming pada keputusannya. Skor 0-0 pun bertahan hingga jeda turun minum.
Protes Keras dan Keputusan Walk Out Maung Bandung
Ketegangan tidak mereda saat jeda. Sebagai bentuk protes atas dianulirnya gol Ezechiel, para pemain Persib menunda masuk ke lapangan saat babak kedua akan dimulai. Setelah melalui negosiasi yang alot, pertandingan akhirnya dilanjutkan, tetapi suasana sudah terlanjur keruh.
Situasi makin memanas ketika Persija mendapatkan hadiah penalti pada menit ke-76. Wasit menilai Bruno Lopes dilanggar di kotak terlarang oleh salah satu bek Persib. Bruno Lopes sendiri yang maju sebagai algojo dan sukses menunaikan tugasnya, membawa Persija unggul 1-0.
Lima menit berselang, petaka kembali menghantam Persib. Bek tengah andalan mereka, Vladimir Vujovic, diganjar kartu kuning kedua alias kartu merah karena memprotes keputusan wasit. Bermain dengan sepuluh orang dan dalam posisi tertinggal, Persib mengambil keputusan drastis.
Para pemain Persib memilih untuk tidak melanjutkan pertandingan, meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes puncak terhadap kepemimpinan wasit. Tak pelak, Shaun Evans kemudian meniup peluit panjang, menandakan laga dihentikan dan Persija diputuskan menang walk out (WO).
Dampak dan Konsekuensi Laga Kontroversial 2017
Keputusan WO ini membawa konsekuensi serius bagi Persib Bandung. Komisi Disiplin (Komdis) PSSI kemudian menjatuhkan sanksi berat atas tindakan tersebut. Persib dinyatakan kalah 0-3 dari Persija.
Selain kekalahan, Komdis juga menjatuhkan denda sebesar Rp 50 juta kepada Persib karena dianggap melanggar regulasi dan tidak menghormati keputusan pertandingan. Lebih lanjut, Vladimir Vujovic juga mendapatkan sanksi tambahan berupa larangan bermain sebanyak dua kali akibat kartu merah yang ia terima.
Insiden Kelam Persib vs Persija 2017 ini menjadi pengingat pahit bahwa rivalitas kedua tim seringkali melampaui batas-batas teknis sepak bola. Diharapkan, duel yang akan datang di BRI Super League 2025/2026 dapat menyajikan pertandingan yang adil dan menjunjung tinggi sportivitas, tanpa diwarnai keputusan kontroversial yang merusak citra El Clasico Indonesia.