Uptodai.com - Pelatih kepala Tim Nasional Indonesia, John Herdman, mungkin baru berusia 50 tahun. Namun, jika dihitung berdasarkan jam terbang, pengalamannya di dunia kepelatihan sudah melampaui dua dekade, sebuah rekor yang jarang dimiliki pelatih seusianya.

Karier kepelatihan Herdman dimulai sangat dini, jauh sebelum banyak pemain profesional mencapai puncak karier mereka. John Herdman ungkap alasan melatih Timnas Indonesia, yang ternyata didorong oleh semangat petualangan dan komitmen yang sudah ia pupuk sejak remaja.

Mengapa John Herdman Tertarik Melatih Timnas Indonesia?

Pria kelahiran Newcastle, Inggris, ini memulai kiprahnya di pinggir lapangan pada usia 17 tahun. Dalam waktu singkat, dedikasinya yang tinggi membuahkan hasil signifikan. Ketika usianya baru menginjak 20 tahun, Herdman sudah mengantongi lisensi kepelatihan paling bergengsi di Eropa.

“Saya mulai melatih pada usia 17 tahun. Saya mendapatkan tim pertama saya pada usia 18 tahun, dan lisensi UEFA saya pada usia 20 tahun,” ujar Herdman, seperti dikutip dari kanal resmi PSSI.

Herdman mengakui bahwa pencapaian luar biasa ini berasal dari sifat pribadinya yang obsesif. Ia menjelaskan bahwa ketika sudah tertarik pada suatu hal, ia akan mengerahkan seluruh kemampuan, energi, dan fokusnya tanpa batas. Sikap ini, menurutnya, adalah pedang bermata dua.

“Saya memiliki kepribadian obsesif. Ketika saya berkomitmen pada sesuatu, saya akan mengerahkan seluruh kemampuan saya. Itu adalah kekuatan sekaligus kelemahan saya,” jelas mantan pelatih Timnas Kanada tersebut.

Namun, justru sifat obsesif untuk terus berkomitmen dan mencari tantangan baru inilah yang membawa Herdman melanglang buana. Catatan kariernya sangat mentereng, mencakup perjalanan dari Inggris, Selandia Baru, hingga Kanada, di mana ia sukses memimpin tim putra dan putri ke ajang Piala Dunia.

Lisensi UEFA John Herdman dan Ambisi Warisan

Kini, semangat dan gairah melatih itu sepenuhnya ia curahkan untuk Indonesia. Herdman melihat Indonesia sebagai tantangan baru yang sangat menarik, bukan hanya karena potensi pemainnya, tetapi juga karena atmosfer sepak bola yang ia rasakan sudah matang untuk naik ke level yang lebih tinggi.

“Saya rasa komitmen dan semangat untuk melatih telah membawa saya dari Inggris ke Selandia Baru, Kanada, dan sekarang ke Indonesia untuk merasakan berbagai budaya,” katanya.

Herdman melihat adanya energi nyata di Indonesia. Ia merasa bahwa negara ini siap untuk melangkah ke level selanjutnya, dan ia ingin menjadi bagian integral dari proses tersebut. Ambisinya tidak hanya terbatas pada hasil pertandingan.

Lebih dari sekadar membawa Timnas Indonesia meraih kemenangan instan, Herdman bertekad menerapkan filosofi kepelatihan yang dapat menjadi warisan jangka panjang. Ia ingin meninggalkan struktur dan fondasi yang kuat bagi perkembangan sepak bola Indonesia di masa depan.

“Menurut saya Indonesia sangat menarik karena Anda bisa merasakannya secara nyata. Negara ini siap melangkah ke level selanjutnya. Mudah-mudahan warisan saya adalah saya dapat membantu proses itu,” tutup pelatih yang dikenal tegas ini.