Uptodai.com - Skandal pengurangan poin Liga Super Cina mengguncang jagat sepak bola Asia menjelang bergulirnya musim kompetisi 2026. Sebanyak sembilan klub di kasta tertinggi Tiongkok harus menerima kenyataan pahit memulai liga dengan defisit angka yang signifikan. Fenomena ini menjadi salah satu sejarah kelam dalam industri olahraga di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Asosiasi Sepak Bola China (CFA) mengambil langkah drastis ini setelah melakukan penyelidikan panjang selama berbulan-bulan. Mereka menemukan bukti kuat adanya praktik pengaturan skor, suap, hingga perjudian yang melibatkan banyak pihak internal klub. Langkah tegas ini diambil demi memulihkan integritas kompetisi yang selama ini tercoreng oleh tangan-tangan kotor.

Akar Masalah: Investigasi Match-Fixing dan Perjudian

Pihak berwenang di Tiongkok melakukan operasi besar-besaran untuk memberantas korupsi yang telah mengakar di sistem sepak bola mereka. Investigasi ini tidak hanya menyasar manajemen klub, tetapi juga pemain, wasit, hingga pejabat tinggi federasi. Hasilnya, CFA menjatuhkan sanksi kepada 13 klub secara total, dengan sembilan di antaranya berasal dari kasta tertinggi.

Selain hukuman bagi klub, sebanyak 73 individu kini menerima larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup. Keputusan ini mencerminkan keseriusan pemerintah Tiongkok dalam membersihkan ekosistem olahraga dari pengaruh mafia judi. Efek domino dari sanksi ini diprediksi akan mengubah peta persaingan perebutan gelar juara musim depan.

CFA menegaskan bahwa besaran pengurangan poin ini tidak diputuskan secara sembarangan oleh tim investigasi. Mereka menimbang sifat pelanggaran, tingkat keseriusan kasus, hingga dampak sosial yang ditimbulkan dari setiap transaksi ilegal tersebut. Oleh karena itu, setiap klub menerima hukuman yang bervariasi sesuai dengan tingkat keterlibatan mereka.

Daftar Klub yang Terkena Sanksi Berat

Shanghai Shenhua dan Tianjin Jinmen Tiger menjadi dua tim yang menerima hukuman paling menyakitkan pada musim ini. Kedua klub tersebut harus memulai kompetisi dengan minus 10 poin di papan klasemen sementara. Kondisi ini tentu menjadi beban mental yang sangat berat bagi para pemain sebelum laga perdana dimulai.

Qingdao Hainiu juga tidak luput dari jeratan sanksi tegas dengan pengurangan tujuh poin dari total perolehan mereka nanti. Sementara itu, dua klub mapan lainnya, Shandong Taishan dan Henan, masing-masing dijatuhi sanksi pengurangan enam poin. Persaingan di papan tengah dipastikan akan semakin sengit karena tim-tim ini harus bekerja ekstra keras.

Empat klub besar lainnya, yakni Shanghai Port, Beijing Guoan, Zhejiang, dan Wuhan Three Towns, memulai musim dengan minus lima poin. Kehadiran nama-nama besar seperti Shanghai Port dalam daftar ini mengejutkan banyak pihak mengingat reputasi mereka di level internasional. Publik kini meragukan kredibilitas prestasi yang pernah diraih klub-klub tersebut di masa lalu.

Kejatuhan Li Tie dan Pembersihan Total CFA

Salah satu sosok yang paling menjadi sorotan dalam skandal besar ini adalah mantan pelatih Timnas China, Li Tie. Mantan gelandang yang pernah merumput bersama Everton di Liga Inggris ini terlibat jauh dalam jaringan korupsi tersebut. Li Tie kini masuk dalam daftar hitam individu yang dilarang menyentuh dunia sepak bola selamanya.

Kasus Li Tie menjadi simbol betapa rusaknya sistem pembinaan dan kompetisi di Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir. Ia terbukti melakukan praktik suap untuk mendapatkan posisi pelatih tim nasional serta mengatur hasil pertandingan di level klub. Kejatuhannya diharapkan menjadi peringatan keras bagi seluruh pelaku sepak bola di Asia.

Situasi ini memaksa klub-klub peserta skandal pengurangan poin Liga Super Cina untuk melakukan evaluasi manajemen secara menyeluruh. Banyak sponsor mulai mempertimbangkan kembali kontrak kerja sama mereka karena khawatir dengan citra buruk yang melekat. Pemulihan kepercayaan publik menjadi tantangan terbesar bagi sepak bola Tiongkok di tahun 2026 ini.

Meskipun penuh kontroversi, langkah CFA ini mendapatkan dukungan dari sebagian besar penggemar sepak bola yang menginginkan transparansi. Mereka berharap liga musim 2026 menjadi titik balik bagi kebangkitan prestasi tim nasional Tiongkok yang sempat merosot. Pembersihan total ini dianggap sebagai obat pahit yang harus ditelan demi kesehatan sepak bola jangka panjang.