Uptodai.com - Aplikasi AI Claude Anthropic secara mengejutkan berhasil meroket ke posisi puncak dalam daftar aplikasi gratis paling populer saat ini. Pencapaian ini tergolong fenomenal mengingat posisi aplikasi tersebut masih tertahan di peringkat 131 pada akhir Januari 2026 lalu. Hanya dalam waktu singkat, Claude mampu membalikkan keadaan dan menggeser dominasi para pesaing beratnya di pasar teknologi global.

Pergerakan peringkat Claude terpantau sangat fluktuatif sepanjang bulan Februari sebelum akhirnya mengunci posisi pertama. Keberhasilan ini sekaligus melengserkan ChatGPT yang selama ini kokoh memimpin daftar aplikasi gratis di berbagai platform. Sementara itu, aplikasi kecerdasan buatan milik Google, Gemini, harus puas membuntuti di peringkat keempat dalam persaingan yang kian sengit ini.

Pertumbuhan Pengguna Aplikasi AI Claude Anthropic yang Masif

Anthropic selaku pengembang melaporkan lonjakan minat masyarakat yang luar biasa terhadap teknologi mereka. Data internal menunjukkan bahwa jumlah pengguna layanan gratis meningkat lebih dari 60 persen hanya dalam kurun waktu satu bulan. Selain itu, angka pendaftaran harian pengguna baru tercatat melompat hingga tiga kali lipat dibandingkan periode November tahun sebelumnya.

Tidak hanya pada sektor pengguna gratis, pertumbuhan signifikan juga terjadi pada segmen pelanggan berbayar. Jumlah pelanggan premium Anthropic mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun berjalan ini. Tren positif ini membuktikan bahwa aplikasi AI Claude Anthropic mulai mendapatkan kepercayaan besar dari publik sebagai alat produktivitas utama.

Tekanan Politik dari Pemerintahan Donald Trump

Namun, di tengah kesuksesan tersebut, Anthropic justru menghadapi tantangan besar dari sisi regulasi dan politik Amerika Serikat. Pemerintahan Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan perusahaan yang dinilai terlalu kaku. Trump bahkan sempat mengecam manajemen Anthropic melalui unggahan di media sosial Truth Social baru-baru ini.

Kritik tersebut muncul setelah Anthropic secara tegas menolak penggunaan model AI mereka untuk keperluan pengawasan domestik massal. Perusahaan juga membatasi penggunaan teknologi mereka untuk pengembangan senjata otonom sepenuhnya demi alasan etika. Sikap ini memicu kemarahan pihak Gedung Putih yang menginginkan fleksibilitas lebih besar untuk kepentingan pertahanan.

Donald Trump menyebut para pengembang di balik Claude sebagai kelompok fanatik yang mencoba memaksakan ketentuan layanan mereka sendiri. Menurutnya, perusahaan seharusnya lebih patuh pada visi pemerintah daripada aturan internal yang mereka buat. Ketegangan ini menambah daftar panjang konflik antara perusahaan teknologi Silicon Valley dengan otoritas negara.

Risiko Rantai Pasokan dan Masa Depan Kontrak Pertahanan

Menteri Pertahanan Pete Hegseth turut memberikan pernyataan keras terkait posisi Anthropic dalam ekosistem keamanan nasional. Ia meminta agar perusahaan tersebut diberi label sebagai risiko rantai pasokan bagi keamanan sosial Amerika Serikat. Jika label ini resmi disematkan, maka seluruh kontraktor pertahanan dilarang menggunakan alat atau teknologi dari Anthropic.

Langkah ini tentu dapat menghambat ekspansi bisnis Anthropic di sektor pemerintahan dan militer yang sangat menguntungkan. Pemerintah khawatir bahwa batasan etika yang diterapkan perusahaan justru akan memperlambat inovasi pertahanan nasional. Meski demikian, tekanan ini tampaknya belum menyurutkan minat pengguna sipil untuk terus mengunduh aplikasi tersebut.

CEO Anthropic, Dario Amodei, akhirnya angkat bicara untuk menanggapi berbagai tudingan miring dari pihak pemerintah. Ia menegaskan bahwa setiap departemen memiliki hak prerogatif untuk memilih mitra atau kontraktor yang sejalan dengan visi mereka. Namun, Amodei tetap berharap pemerintah mau mempertimbangkan kembali nilai substansial yang ditawarkan teknologinya.

Ia meyakini bahwa aplikasi AI Claude Anthropic membawa manfaat besar bagi efisiensi kerja, termasuk bagi angkatan bersenjata. Anthropic berkomitmen untuk terus mengembangkan kecerdasan buatan yang aman dan bermanfaat bagi kemanusiaan tanpa melanggar prinsip dasar perusahaan. Persaingan di industri AI kini tidak lagi sekadar soal kecanggihan fitur, melainkan juga pertarungan nilai dan pengaruh politik.