Uptodai.com - Konstelasi persaingan di pasar ponsel pintar terbesar dunia mengalami pergeseran signifikan. Data terbaru menunjukkan bahwa HP China rebut sumber duit iPhone, menyusul keberhasilan Huawei merebut takhta sebagai produsen nomor satu di Tiongkok.

Kemenangan ini bukan sekadar pergantian posisi biasa, melainkan penanda kebangkitan kembali raksasa teknologi yang sempat terpuruk akibat sanksi AS. Pencapaian ini menjadi pukulan telak bagi dominasi Apple, terutama di segmen premium yang selama ini menjadi lumbung uang perusahaan asal Cupertino tersebut.

Huawei Kembali Jadi Raja, Unggul Tipis dari Apple

Berdasarkan laporan yang dirilis oleh International Data Corporation (IDC), Huawei kini berhasil menguasai 16,4% pangsa pasar smartphone di China. Mereka sukses mengirimkan 46,7 juta unit perangkat, sebuah angka yang menempatkan mereka unggul tipis di atas pesaing utamanya.

Apple, yang selama ini dikenal superior, harus puas di posisi kedua dengan pangsa 16,2%. Padahal, pada kuartal sebelumnya, tepatnya kuartal IV 2025, Apple sempat menikmati posisi puncak. Kala itu, mereka menguasai 21% pasar berkat dorongan penjualan kuat dari seri iPhone 17.

Rahasia Kebangkitan Huawei 5G dan Chip Kirin Domestik

Analisis pasar menunjukkan bahwa kebangkitan dramatis Huawei didorong oleh beberapa faktor kunci yang saling mendukung. Yang paling utama adalah kembalinya teknologi 5G Huawei pada perangkat-perangkat terbarunya, sebuah fitur penting yang sempat hilang akibat pembatasan ekspor chip.

Selain itu, penggunaan chip Kirin yang diproduksi secara mandiri di dalam negeri juga memperkuat posisi mereka. Strategi ini memungkinkan Huawei mengurangi ketergantungan pada pemasok luar, sekaligus menunjukkan kemajuan signifikan dalam kapasitas produksi semikonduktor Tiongkok.

Huawei juga secara agresif memperkuat lini produk kelas atas melalui peluncuran seri Mate dan Pura. Langkah ini secara langsung menantang iPhone di segmen yang paling menguntungkan, yaitu pasar smartphone premium, yang menjadi sumber utama pendapatan bagi Apple.

Persaingan Ketat di Tengah Pasar yang Menyusut

Meskipun terjadi perebutan posisi puncak yang sengit, realitas pasar smartphone China secara keseluruhan justru menunjukkan tren penurunan. Sepanjang tahun 2025, total pengapalan perangkat tercatat turun 0,6% secara tahunan, hanya mencapai sekitar 285 juta unit.

Di bawah Huawei dan Apple, persaingan juga berlangsung sangat ketat dan dinamis. Vivo berhasil menempati posisi ketiga, diikuti oleh Xiaomi dan Oppo. Menariknya, Honor, yang sebelumnya sering masuk lima besar, kini harus terlempar dari jajaran elit tersebut.

Ancaman Biaya Produksi dan Tantangan 2026

Tantangan bagi para produsen tidak hanya datang dari sisi kompetisi, tetapi juga dari tekanan biaya produksi yang semakin meningkat. Kenaikan harga chip memori dan ongkos manufaktur memaksa sejumlah merek melakukan penyesuaian harga atau menunda peluncuran produk baru.

Para analis industri memperkirakan bahwa tantangan yang akan dihadapi pada tahun 2026 justru akan lebih berat. Siklus pembaruan perangkat (upgrade cycle) yang melambat di kalangan konsumen menjadi salah satu pemicu utama menurunnya permintaan.

Ditambah lagi, biaya yang lebih tinggi serta intensitas kompetisi yang makin menggila berpotensi membuat posisi baru Huawei di puncak klasemen menjadi sangat sulit untuk dipertahankan dalam jangka panjang. Mereka harus bekerja keras untuk memastikan kebangkitan Huawei 5G ini berkelanjutan.