AS dan China Tolak Pengaturan AI Militer Global, 35 Negara Kompak
Uptodai.com - Keputusan dua kekuatan super dunia mengenai regulasi Kecerdasan Buatan (AI) di medan perang kembali menjadi perhatian serius komunitas internasional. Penolakan Amerika Serikat dan China terhadap pengaturan AI militer global menjadi sorotan utama dalam pertemuan puncak internasional pekan ini.
Dua negara yang paling dominan dalam pengembangan AI tersebut secara kompak memilih untuk tidak menandatangani deklarasi yang bertujuan mengatur implementasi teknologi tersebut di medan perang. Sikap abstain ini kontras tajam dengan sepertiga negara di dunia yang hadir dalam KTT, yang justru mendesak adanya kerangka kerja regulasi yang signifikan dan mengikat.
Dualisme Sikap AS-China dalam Regulasi Kecerdasan Buatan Perang
KTT yang membahas etika dan risiko penggunaan AI militer tersebut dikenal sebagai Responsible AI in the Military Domain (REAIM). Pertemuan ini diselenggarakan di A Coruña, Spanyol, dan dihadiri oleh 85 negara dari berbagai belahan dunia. Namun, laporan menunjukkan bahwa hanya 35 delegasi yang bersedia berkomitmen pada 20 prinsip panduan penggunaan AI militer yang bertanggung jawab.
Ironisnya, AS dan China selama ini merupakan motor utama di balik percepatan implementasi AI untuk memperkuat kemampuan militer mereka, mulai dari sistem senjata otonom hingga peralatan pengawasan canggih. Keengganan mereka untuk terikat pada aturan global menimbulkan kekhawatiran serius mengenai potensi perlombaan senjata tanpa batas yang sulit dikendalikan.
Dua puluh prinsip yang disepakati oleh 35 negara tersebut mencakup penegasan tanggung jawab manusia atas keputusan yang diambil oleh senjata bertenaga AI. Prinsip-prinsip ini juga mendorong pentingnya rantai komando dan kendali yang jelas dalam penggunaan sistem otonom.
Selain itu, dokumen komitmen tersebut menekankan perlunya berbagi informasi mengenai pengaturan pengawasan nasional, sepanjang hal tersebut sesuai dengan keamanan masing-masing negara penandatangan. Dokumen ini juga menguraikan pentingnya penilaian risiko yang komprehensif dan pengujian yang kuat sebelum sistem AI militer dioperasikan.
Dilema Global dan Risiko Kecelakaan Senjata AI
Negara-negara dunia kini menghadapi dilema yang sulit, yang digambarkan sebagai situasi “maju kena, mundur kena”. Mereka harus menyeimbangkan antara menerapkan pembatasan yang bertanggung jawab dan risiko membatasi diri dibandingkan dengan musuh yang tidak terikat oleh aturan apa pun.
Menteri Pertahanan Belanda, Ruben Brekelmans, menyoroti bahwa kecepatan pergerakan Rusia dan China dalam pengembangan AI menciptakan urgensi untuk membuat kemajuan teknologi yang cepat. Namun, kecepatan yang sama juga meningkatkan urgensi untuk terus berupaya pada penggunaannya yang bertanggung jawab.
Menurut Brekelmans, kedua aspek tersebut harus berjalan beriringan untuk memastikan stabilitas global. Jika tidak, teknologi AI berpotensi menciptakan dampak teknologi AI militer yang destruktif dan tidak terduga.
Di sisi lain, beberapa delegasi yang hadir dalam KTT juga mencatat adanya ketegangan geopolitik yang memengaruhi keputusan negara-negara. Ketegangan yang muncul antara Eropa dan AS, ditambah ketidakpastian mengenai hubungan transatlantik, turut memengaruhi keraguan beberapa negara untuk menandatangani perjanjian bersama. Ketidakpastian ini diperkirakan akan terlihat dampaknya dalam beberapa bulan dan tahun mendatang.
Kesepakatan yang hanya didukung 35 negara ini menggarisbawahi kekhawatiran yang berkembang pesat di banyak negara. Mereka takut bahwa perkembangan pesat teknologi AI akan melampaui kemampuan aturan seputar penggunaan militernya. Jika hal ini terjadi, risiko kecelakaan senjata AI, kesalahan perhitungan, atau eskalasi konflik yang tidak disengaja akan meningkat secara signifikan, mengancam keamanan global.