Uptodai.com - Harga laptop naik drastis di berbagai pusat perbelanjaan elektronik di Indonesia, membuat konsumen dan pedagang sama-sama terpukul. Kondisi ini terlihat jelas di ITC Kuningan, Jakarta Selatan, di mana aktivitas transaksi tampak jauh lebih sepi dibandingkan periode sebelumnya. Lonjakan harga yang terjadi sejak awal tahun 2026 ini memaksa calon pembeli berpikir dua kali sebelum membawa pulang perangkat baru.

Para pedagang di pusat elektronik tersebut melaporkan bahwa kenaikan harga terjadi secara merata di hampir semua segmen produk. Berdasarkan pantauan di lapangan, kenaikan harga laptop bervariasi mulai dari Rp2 juta hingga menyentuh angka Rp4 juta per unit. Produk laptop yang memiliki spesifikasi tinggi menjadi yang paling terdampak oleh fenomena lonjakan harga ini.

Laptop Gaming dan Komponen RAM Alami Lonjakan Tertinggi

Segmen laptop gaming menjadi kategori yang mengalami kenaikan paling signifikan dibandingkan laptop standar untuk kebutuhan kantor. Salah satu penjual di ITC Kuningan mengungkapkan bahwa setiap unit laptop yang dilengkapi dengan kartu grafis (graphic card) mengalami kenaikan rata-rata Rp4 juta. Hal ini membuat perangkat yang dulunya dibanderol belasan juta kini merangkak naik ke angka yang jauh lebih tinggi.

Kenaikan ini ternyata tidak hanya menyasar pada unit laptop utuh, tetapi juga pada komponen pendukung seperti memori RAM. Komponen RAM tipe DDR5 yang merupakan standar terbaru kini harganya sudah menembus angka Rp2,5 juta dari harga awal sekitar Rp800 ribu. Bahkan, untuk kapasitas 32GB, harga di pasar sudah mencapai kisaran Rp7 juta hingga Rp8 juta per keping.

Lonjakan harga komponen ini sudah terjadi secara bertahap sejak akhir tahun 2025 dan terus memburuk memasuki kuartal pertama 2026. Para pedagang mengaku kesulitan menjelaskan alasan kenaikan yang begitu cepat kepada pelanggan setia mereka. Akibatnya, banyak konsumen yang akhirnya membatalkan niat untuk melakukan upgrade perangkat atau sekadar menambah kapasitas memori.

Dampak Penurunan Penjualan Hingga 50 Persen

Situasi pasar yang tidak menentu ini berdampak langsung pada arus kas para pemilik toko ritel di pusat perbelanjaan. Beberapa pedagang mengeluhkan penurunan angka penjualan yang sangat drastis, bahkan mencapai 50 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Stok barang yang sudah dibeli dengan harga tinggi pun menjadi tantangan tersendiri karena sulit terserap oleh pasar yang daya belinya sedang menurun.

Masyarakat kini cenderung lebih memilih untuk memperbaiki laptop lama mereka daripada membeli unit baru yang harganya melambung tinggi. Jasa servis laptop di area ITC justru terlihat lebih sibuk melayani pelanggan yang ingin memperpanjang usia pakai perangkat mereka. Tren ini memperlihatkan adanya pergeseran perilaku konsumen akibat tekanan ekonomi di sektor teknologi.

Penyebab Utama: Krisis Rantai Pasok dan Kelangkaan Chip

Fenomena harga laptop naik drastis ini sebenarnya merupakan dampak dari krisis rantai pasok komponen global yang belum pulih sepenuhnya. Perusahaan riset IDC memprediksi pengiriman pasar PC secara global akan terus mengalami penurunan sepanjang tahun 2026. Masalah utama terletak pada kelangkaan chip memori yang menjadi otak dari setiap perangkat elektronik modern.

Kekurangan pasokan semikonduktor ini menyebabkan biaya produksi di tingkat pabrikan melonjak tajam secara otomatis. Selain laptop, pasar tablet global juga diprediksi akan mengalami penurunan pengiriman hingga 7,6 persen akibat kendala yang sama. Kondisi ini diperparah dengan biaya logistik internasional yang belum stabil, sehingga harga jual di tingkat ritel Indonesia menjadi sangat mahal.

Salah satu produsen laptop terbesar, ASUS, telah mengonfirmasi adanya penyesuaian harga untuk produk-produk mereka di pasar Indonesia. Manajemen ASUS Indonesia menyatakan bahwa dinamika rantai pasok komponen global memaksa mereka untuk mengambil langkah pahit ini. Penyesuaian harga dilakukan agar perusahaan tetap bisa menjaga kualitas layanan dan ketersediaan stok di tengah krisis global.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda harga perangkat teknologi akan kembali normal dalam waktu dekat. Para pengamat industri menyarankan konsumen untuk lebih bijak dalam memilih perangkat sesuai kebutuhan mendesak saja. Jika tidak ada intervensi signifikan dalam rantai pasok global, tren kenaikan harga ini diprediksi masih akan berlanjut hingga akhir tahun 2026.