Prabowo Siapkan Rp 2,1 T: Indonesia Investasi Semikonduktor ARM
Uptodai.com - Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis yang sangat krusial dalam peta jalan teknologi nasional. Untuk mempercepat pembangunan ekosistem chip di dalam negeri, Indonesia investasi semikonduktor ARM, perusahaan desain chip raksasa asal Inggris.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya besar untuk mencapai kemandirian teknologi dan memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok global. Komitmen anggaran awal yang disiapkan oleh pemerintah mencapai US$125 juta, atau setara dengan Rp 2,1 triliun.
Dana Rp 2,1 Triliun untuk Kemitraan Chip Strategis
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, membeberkan rencana ambisius ini. Menurutnya, kerja sama dengan ARM Holding adalah langkah maju yang sangat penting dan bersifat forward looking.
Presiden telah menyetujui alokasi dana awal sebesar US$125 juta untuk memulai kemitraan ini. Airlangga juga menegaskan bahwa anggaran tersebut sangat mungkin ditingkatkan seiring berjalannya proyek pengembangan ekosistem semikonduktor di masa depan.
Kerja sama ini berfokus pada pembangunan infrastruktur dan penguasaan desain chip. Penguasaan hak atas karya intelektual (HAKI) dari ARM menjadi target utama, termasuk akses terhadap cetak biru desain yang sangat vital dalam industri.
Mengapa ARM Menjadi Kunci bagi Indonesia?
ARM Holding dikenal sebagai perusahaan yang tidak memproduksi chip secara fisik, melainkan merancang arsitektur dasar yang digunakan oleh hampir semua produsen chip besar di dunia, mulai dari Apple hingga Qualcomm. Dengan bekerja sama dengan ARM, Indonesia tidak hanya membeli produk, tetapi juga mengakuisisi pengetahuan dan hak desain inti.
Penguasaan desain ini memungkinkan Indonesia menciptakan chip “buatan asli” yang sesuai dengan kebutuhan spesifik industri dalam negeri. Ini adalah fondasi yang kokoh untuk hilirisasi digital dan pengembangan Kecerdasan Buatan (AI) lokal.
Perbandingan Investasi dengan Malaysia
Langkah Indonesia ini muncul tak lama setelah negara tetangga, Malaysia, juga mengumumkan kerja sama serupa dengan ARM. Namun, Malaysia bergerak dengan alokasi dana yang jauh lebih besar, mencapai US$250 juta (sekitar Rp 4 triliun), yang akan dikucurkan secara bertahap dalam 10 tahun ke depan.
Malaysia secara eksplisit menyatakan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk membeli desain, teknologi, dan tujuh cetak biru desain utama milik ARM. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyebut kerja sama ini akan menghasilkan chip yang sepenuhnya dirancang dan dibuat di Malaysia.
Ambisi Semikonduktor Nasional Malaysia
Malaysia memang memiliki sejarah panjang dalam industri semikonduktor, telah menjadi lokasi penting dalam rantai pasok global selama 50 tahun terakhir. Negeri Jiran saat ini menguasai sekitar 13% kebutuhan layanan global, terutama pada sektor pengujian, perakitan, dan pengemasan chip.
Sebagai upaya memperkuat dominasi tersebut, Malaysia telah meluncurkan Strategi Semikonduktor Nasional (NSS). Strategi ini didukung oleh anggaran besar senilai US$5,3 miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk dukungan finansial, pengembangan infrastruktur, dan pelatihan bagi 6.000 insinyur baru yang akan mengisi rantai pasok chip global.
Meskipun investasi awal Indonesia lebih kecil, langkah ini menandakan keseriusan pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto untuk segera mengejar ketertinggalan. Investasi di bidang teknologi semikonduktor menjadi prasyarat mutlak agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain kunci dalam ekonomi digital global.