Uptodai.com - Pemerintah terus berupaya memperkuat investasi ekosistem semikonduktor Intel di tanah air melalui berbagai langkah strategis. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa perusahaan raksasa asal Amerika Serikat tersebut sedang menjajaki potensi pengembangan industri chip secara mendalam.

Langkah awal ini tidak langsung menyasar pada pembangunan pabrik fisik berskala besar dalam waktu dekat. Fokus utama pemerintah dan Intel saat ini justru terletak pada penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar siap menghadapi standar industri teknologi global.

Airlangga menjelaskan bahwa Intel memiliki komitmen kuat untuk mendorong pengembangan talenta digital di Indonesia. Hal ini menjadi krusial mengingat persaingan global di sektor teknologi semakin ketat, terutama di kawasan Asia Tenggara.

Strategi Investasi Ekosistem Semikonduktor Intel Lewat Jalur Pendidikan

Pemerintah menyadari bahwa ketersediaan tenaga ahli merupakan kunci utama untuk menarik minat investor teknologi dunia. Oleh karena itu, Indonesia akan mendorong pengadaan SDM yang kompeten untuk mendukung investasi ekosistem semikonduktor Intel di masa depan.

Airlangga menyebutkan bahwa selama ini banyak talenta lokal yang justru memilih berkarier di luar negeri, seperti di Penang, Malaysia. Fenomena ini menyebabkan industri semikonduktor di negara tetangga berkembang jauh lebih dalam dan matang dibandingkan di dalam negeri.

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Intel menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi langsung dalam dunia pendidikan Indonesia. Program ini mencakup penyusunan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri chip modern saat ini.

Pemerintah juga berencana menggandeng sejumlah perguruan tinggi ternama untuk menjalankan program kolaborasi ini. Nama-nama besar seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), hingga Universitas Gadjah Mada (UGM) akan dilibatkan secara aktif.

Pengembangan Industri Chip Intel dan Tantangan Regional

Proses pembicaraan mengenai kurikulum pendidikan ini sudah mulai memasuki tahap teknis yang cukup serius. Selain penyesuaian materi pembelajaran, pemerintah juga mewacanakan program double degree untuk mempercepat pengembangan industri chip Intel di tanah air.

Melalui skema ini, mahasiswa diharapkan mendapatkan paparan langsung terhadap teknologi terbaru yang dimiliki oleh Intel. Langkah ini menjadi bagian dari kerja sama SDM teknologi yang diharapkan mampu mencetak tenaga ahli siap pakai dalam waktu singkat.

Namun, Indonesia harus menghadapi fakta bahwa Intel telah lebih dulu menanamkan modal besar di Malaysia. Pada tahun lalu, Intel berkomitmen menambah investasi sebesar 860 juta ringgit atau sekitar US$208 juta di Negeri Jiran.

Investasi tersebut memperkokoh posisi Malaysia sebagai pusat operasi perakitan dan pengujian chip global milik Intel. CEO Intel, Lip-Bu Tan, bahkan telah menyampaikan komitmen ini secara langsung kepada Perdana Menteri Anwar Ibrahim pada akhir 2025.

Upaya Indonesia Menyaingi Dominasi Teknologi Malaysia

Malaysia memang tengah gencar menarik investasi bernilai tinggi di sektor teknologi masa depan, termasuk kecerdasan buatan (AI). Keberhasilan mereka membangun ekosistem di Penang menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi Indonesia untuk berbenah.

Airlangga menegaskan bahwa Indonesia tidak ingin hanya menjadi penonton dalam rantai pasok semikonduktor global. Dengan kolaborasi talenta digital yang kuat, Indonesia optimis bisa membangun fondasi industri yang kompetitif.

Pengembangan SDM ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi investasi yang lebih besar di sektor manufaktur chip nantinya. Pemerintah terus menjalin komunikasi intensif dengan Intel agar rencana jangka panjang ini dapat segera terealisasi demi kemajuan ekonomi digital nasional.