Uptodai.com - Isu demografi global kembali menjadi sorotan tajam setelah CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, memberikan peringatan yang sangat ekstrem mengenai masa depan Korea Selatan. Menurut Musk, laju anjloknya populasi di Negeri Ginseng itu sudah mencapai titik kritis, bahkan berpotensi mengubah peta geopolitik Semenanjung Korea secara dramatis.

Peringatan keras tersebut dilontarkan Musk dalam sebuah episode podcast “Moonshots” yang dipandu oleh Peter Diamandis. Diskusi yang awalnya membahas masa depan umat manusia, Kecerdasan Buatan (AI), dan pergeseran demografis, tiba-tiba menempatkan Korea Selatan sebagai studi kasus paling mengerikan.

Krisis Bayi Korea Selatan Elon Musk: Prediksi Tiga Generasi

Saat menyoroti keruntuhan populasi, Musk secara spesifik menyebut Korea Selatan. Ia menggarisbawahi betapa rendahnya angka kelahiran di negara tersebut, yang kini hanya mencapai sepertiga dari tingkat penggantian populasi yang dibutuhkan agar stabil. Angka ini dinilai Musk sebagai kondisi yang “gila” dan tidak berkelanjutan.

Musk lantas membuat prediksi yang menggemparkan. Jika tren saat ini terus berlanjut tanpa intervensi signifikan, populasi Korea Selatan diperkirakan dapat menyusut hingga hanya tersisa 3% dari jumlah penduduknya saat ini dalam rentang waktu tiga generasi ke depan. Ini berarti, dalam waktu sekitar 60 hingga 90 tahun, negara tersebut akan mengalami depopulasi masif.

“Jadi dalam tiga generasi, jumlah mereka akan menjadi seperdua puluh tujuh. Maksud saya, Korea Utara tidak akan perlu menginvasi. Mereka bisa melenggang masuk begitu saja,” tegas Musk, mengaitkan krisis demografi dengan ancaman keamanan nasional. Kekurangan penduduk yang parah secara otomatis akan melumpuhkan kekuatan ekonomi dan militer negara.

Tingkat Kelahiran Terendah Dunia dan Angka 0,75

Kekhawatiran yang disampaikan oleh Musk bukanlah tanpa dasar. Data statistik menunjukkan bahwa Korea Selatan saat ini memegang rekor sebagai negara dengan tingkat kesuburan total (Total Fertility Rate/TFR) terendah di dunia. TFR adalah rata-rata jumlah anak yang diharapkan dimiliki seorang wanita sepanjang hidupnya.

Pada tahun 2024, tingkat kesuburan total Korea Selatan hanya berada di angka 0,75. Angka ini jauh di bawah batas tingkat kesuburan pengganti yang idealnya adalah 2,1. Angka 2,1 dibutuhkan untuk memastikan populasi suatu negara dapat mempertahankan jumlahnya saat ini tanpa bergantung pada imigrasi.

Musk sendiri sudah berulang kali menyinggung masalah ini. Dalam wawancara dengan Fox News pada Maret 2023, ia juga menunjuk Korsel sebagai salah satu kasus paling ekstrem, memperingatkan bahwa tren ini sangat sulit, bahkan mustahil, untuk dibalikkan dalam jangka pendek.

Indikator Popok Dewasa: Tanda Bahaya Demografi

Dalam diskusi yang sama, Elon Musk juga menyinggung salah satu indikator paling mencolok dari masyarakat yang menua dan berada di jalur yang salah: penjualan popok dewasa. Ia menyebut fenomena ini sebagai salah satu tanda yang nyata dari keruntuhan demografi.

“Popok dewasa itu nyata. Itu seperti salah satu tanda bahwa sebuah negara tidak berada di jalur yang benar. Yaitu ketika jumlah popok dewasa melebihi popok bayi,” jelas Musk, menekankan bahwa pergeseran fokus pasar dari kebutuhan bayi ke kebutuhan lansia adalah alarm keras.

Pembawa acara podcast sempat menimpali bahwa Korea Selatan akan segera mencapai tahap tersebut. Namun, Musk dengan cepat mengoreksi. “Tidak, mereka sudah melewati titik itu. Sudah bertahun-tahun yang lalu,” jawabnya, menggarisbawahi betapa parahnya struktur usia penduduk di sana.

Krisis demografi ini bukan hanya masalah sosial, tetapi juga ekonomi dan militer. Dengan menyusutnya populasi usia kerja dan meningkatnya beban pensiun, Korea Selatan menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan, yang lebih krusial, menjaga pertahanan di perbatasan yang sangat sensitif dengan Korea Utara.