Uptodai.com - Merek smartphone paling susah diperbaiki kini menjadi sorotan tajam seiring dengan tren desain perangkat yang semakin tertutup dan sulit dibongkar secara mandiri. Berbeda dengan ponsel era awal 2000-an yang tangguh, perangkat modern seperti iPhone atau Samsung Galaxy cenderung memiliki siklus pakai yang singkat. Fenomena ini memicu kekhawatiran konsumen terkait keberlanjutan perangkat yang mereka beli dengan harga mahal.

Pengguna sering kali merasa terjebak ketika menghadapi kerusakan layar atau baterai yang mulai menurun performanya. Biaya servis smartphone mahal bahkan terkadang hampir menyamai harga unit baru, sehingga banyak orang terpaksa membeli perangkat anyar. Desain yang sangat terintegrasi membuat teknisi independen kesulitan melakukan penggantian komponen tanpa merusak bagian lainnya.

Meskipun teknologi memori dan penyimpanan semakin canggih, aplikasi modern justru membutuhkan daya pemrosesan yang jauh lebih besar. Hal ini memberikan beban kerja ekstra pada komponen internal yang sulit diakses oleh pengguna biasa. Belum lagi penggunaan material kaca pada bodi ponsel yang membuatnya semakin rawan pecah saat terjatuh.

Standar Right to Repair dan Transparansi Produsen

Kecenderungan produsen untuk menciptakan produk yang sulit diperbaiki telah mendorong pemerintah di berbagai belahan dunia untuk bertindak. Uni Eropa kini memperketat aturan mengenai “right to repair” atau hak konsumen untuk memperbaiki barang miliknya sendiri. Aturan ini mewajibkan perusahaan teknologi untuk memberikan informasi teknis yang mendalam kepada publik.

Perusahaan kini harus mendaftarkan spesifikasi detail produk mereka dalam European Union’s European Product Registry for Energy Labelling. Data transparan ini menjadi senjata bagi organisasi perlindungan konsumen untuk menilai kejujuran produsen. Tanpa adanya akses informasi ini, konsumen akan terus bergantung pada pusat servis resmi yang harganya selangit.

Memanfaatkan data dari Eropa tersebut, US PIRG Education Fund merilis laporan bertajuk Failing the Fix yang menguliti kebobrokan desain gadget masa kini. Laporan ini menyusun peringkat merek smartphone paling susah diperbaiki berdasarkan enam kategori penilaian yang sangat ketat. Skor tersebut menjadi panduan bagi calon pembeli agar tidak terjebak pada produk yang sekali rusak langsung menjadi sampah elektronik.

Peringkat Merek Smartphone Paling Susah Diperbaiki

Berdasarkan laporan tersebut, terdapat perbedaan mencolok antara kemudahan servis satu merek dengan merek lainnya. Motorola secara mengejutkan memimpin sebagai merek yang paling bersahabat dengan teknisi dengan meraih skor B+. Desain mereka dianggap lebih logis dan memungkinkan akses ke komponen vital tanpa peralatan yang terlalu rumit.

Di sisi lain, Google harus puas berada di posisi tengah dengan nilai C- karena beberapa hambatan teknis pada lini Pixel mereka. Sementara itu, dua raksasa teknologi dunia justru menempati posisi terbawah dalam daftar ini. Samsung mendapatkan skor D, sedangkan Apple berada di posisi juru kunci dengan predikat D- yang sangat mengecewakan.

Skor buruk yang diterima Apple dan Samsung mencerminkan betapa sulitnya HP yang sulit diservis ini untuk ditangani di luar ekosistem resmi mereka. Hal ini tentu menjadi catatan merah bagi konsumen yang menginginkan perangkat dengan masa pakai jangka panjang. Dominasi pasar ternyata tidak berbanding lurus dengan kemudahan perawatan perangkat tersebut.

Mengapa Apple Mendapat Skor Terburuk?

Penulis laporan Failing the Fix mengungkapkan bahwa masalah utama Apple bukan hanya terletak pada desain fisik perangkatnya. Faktor terbesar yang membuat iPhone menjadi merek smartphone paling susah diperbaiki adalah batasan perangkat lunak. Apple menerapkan kebijakan “parts pairing” atau pemasangan komponen yang dikunci secara digital melalui sistem operasi.

Praktik ini membuat komponen asli sekalipun tidak akan berfungsi normal jika dipasang oleh pihak ketiga tanpa validasi dari server Apple. Misalnya, penggantian layar atau baterai bisa memicu munculnya pesan peringatan yang mengganggu pada layar ponsel. Langkah proteksionis ini dianggap sangat merugikan konsumen dan mematikan usaha bengkel servis independen.

Selain masalah perangkat lunak, ketersediaan suku cadang asli di pasar bebas juga masih sangat terbatas dan dikontrol ketat. Kondisi ini memperparah tingginya harga perbaikan gadget premium yang harus ditanggung oleh pemilik iPhone. Tanpa adanya perubahan kebijakan dari pihak produsen, konsumen akan terus terjebak dalam siklus konsumerisme yang boros.