Uptodai.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengeluarkan Peringatan hujan ekstrem BMKG yang berpotensi menghantam sejumlah wilayah di Indonesia, dengan fokus utama di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ancaman cuaca buruk ini diperkirakan berlangsung selama tiga hari ke depan dan dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi.

Peningkatan intensitas curah hujan hingga kategori ekstrem ini dipicu oleh keberadaan Bibit Siklon Tropis yang saat ini tengah bergerak di sekitar Laut Timor. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat potensi dampak yang ditimbulkan tidak hanya berupa banjir, tetapi juga angin kencang dan gelombang laut yang sangat tinggi.

NTT Berstatus ‘Awas’, Curah Hujan Capai 150mm/Hari

BMKG menempatkan beberapa area di NTT dalam status ‘Awas’ karena berpotensi mengalami hujan sangat lebat hingga ekstrem dalam periode 19 hingga 21 Januari 2026. Status ‘Awas’ menandakan curah hujan diprediksi mencapai lebih dari 150 milimeter per hari, sebuah angka yang sangat berbahaya.

Pada Senin (19/1), Kota Kupang, Kabupaten Kupang, dan Rote Ndao menjadi wilayah yang paling diwaspadai. Potensi hujan lebat-ekstrem masih akan berlanjut di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang pada Selasa (20/1).

Sementara itu, pada Rabu (21/1), cakupan wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat-ekstrem semakin meluas. Area yang diwaspadai mencakup Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote, Sabu, Flores Timur, Lembata, Belu, dan Alor.

Penyebab Utama: Bibit Siklon Tropis 97S

Pemicu utama dari kondisi cuaca ekstrem ini adalah Bibit Siklon Tropis 97S yang telah terbentuk sejak 16 Januari 2026. Saat ini, bibit siklon tersebut terpantau berada di sekitar Laut Timor, tepatnya di sebelah utara Australia.

Meskipun peluangnya untuk berkembang menjadi siklon tropis penuh masih tergolong ‘Rendah’, pergerakannya yang perlahan ke arah barat dalam 24 jam ke depan sudah memberikan dampak signifikan. Dampak tidak langsung inilah yang menarik massa udara basah dan menyebabkan hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di NTT.

Selain curah hujan yang tinggi, pergerakan Bibit Siklon 97S juga membawa ancaman angin kencang yang dapat merobohkan pohon atau merusak infrastruktur ringan. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) juga tidak luput dari dampak ini, dengan potensi hujan intensitas sedang hingga lebat.

Ancaman Ganda: Gelombang Laut Tinggi di Perairan Selatan

Dampak buruk dari Dampak Bibit Siklon 97S tidak hanya terasa di daratan, tetapi juga meluas ke perairan Indonesia bagian selatan. Masyarakat maritim dan nelayan diimbau untuk sangat berhati-hati karena potensi peningkatan tinggi gelombang laut.

Gelombang Laut Tinggi dengan kisaran 1,25 hingga 2,5 meter diprediksi terjadi di Laut Banda, Laut Flores, Perairan Kepulauan Kei hingga Kepulauan Aru, Perairan Kepulauan Babar dan Kepulauan Tanimbar, serta Laut Arafuru bagian utara, tengah, dan timur.

Kondisi yang jauh lebih berbahaya terjadi di beberapa titik perairan lain, di mana Gelombang Laut Tinggi bahkan dapat mencapai 2,5 hingga 4 meter. Area ini meliputi Perairan Kupang, Laut Sawu, Samudra Hindia selatan NTT, dan Laut Arafuru bagian barat. Gelombang setinggi ini sangat berisiko bagi pelayaran kecil dan menengah.

Peringatan Dini Hujan Lebat di Sejumlah Provinsi

BMKG juga merilis peringatan dini untuk sejumlah wilayah lain di luar NTT yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat dalam tiga hari ke depan. Peringatan ini dibagi berdasarkan tingkat kewaspadaan: Waspada, Siaga, dan Awas.

Peringatan Dini 19 Januari 2026:

Status ‘Siaga Hujan Lebat-Sangat Lebat’ diberikan kepada wilayah Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan. Wilayah ini harus bersiap menghadapi potensi banjir dan longsor akibat curah hujan yang tinggi.

Sementara itu, status ‘Waspada Hujan Sedang-Lebat’ berlaku untuk Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

Peringatan Dini 20 Januari 2026:

Potensi hujan dengan intensitas ‘Siaga Lebat-Sangat Lebat’ masih mengancam Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Masyarakat di area metropolitan harus mewaspadai potensi genangan air dan gangguan transportasi.

Adapun status ‘Waspada Hujan Sedang-Lebat’ berlaku di Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, serta seluruh wilayah Papua.

Mengingat potensi bencana yang luas, pemerintah daerah dan masyarakat di seluruh wilayah yang disebutkan di atas diimbau untuk memantau informasi terkini dari BMKG dan mempersiapkan langkah mitigasi. Kesiapsiagaan adalah kunci untuk meminimalisir risiko akibat ancaman cuaca ekstrem ini.