Uptodai.com - Kabar mengejutkan datang dari arena industri teknologi global. Setelah sempat berdiri independen selama tujuh tahun, Realme gabung lagi ke Oppo. Langkah strategis ini dikonfirmasi pada Kamis (8/1/2026), menandai berakhirnya masa kemandirian Realme sebagai entitas yang terpisah.

Keputusan besar ini diambil oleh BKK Electronics, raksasa hardware konsumen yang menaungi kedua merek tersebut. Penyatuan ini bertujuan utama untuk mengonsolidasikan sumber daya internal dan memangkas biaya operasional yang selama ini berjalan ganda.

Strategi Efisiensi dan Konsolidasi Sumber Daya

Penggabungan kembali Realme ke dalam struktur Oppo merupakan respons langsung terhadap kondisi pasar ponsel pintar yang semakin kompetitif dan menantang. Dengan menyatukan tim riset, pengembangan, dan rantai pasok, kedua merek ini diharapkan mampu mencapai efisiensi skala yang lebih besar.

Realme sendiri dikenal memiliki basis pasar yang kuat di beberapa wilayah kunci, termasuk India, Asia Tenggara (khususnya Indonesia), dan beberapa negara di Eropa. Kekuatan distribusi dan portofolio produk Realme di segmen menengah ke bawah akan menjadi aset penting bagi Oppo.

Mengapa Oppo Membutuhkan Realme? Kinerja yang Lesu

Meskipun Oppo secara historis dikenal sebagai salah satu ‘raja’ HP dunia yang langganan masuk jajaran ‘Top 5’ produsen terbesar, kinerja mereka belakangan terpantau lesu. Laporan dari IDC menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam pangsa pasar Oppo.

Pada kuartal ketiga (Q3) tahun 2025, Oppo bahkan terlempar dari daftar ‘Top 5’ produsen ponsel pintar global. Posisi yang ditinggalkan Oppo kini diisi oleh Transsion, induk dari merek-merek seperti Tecno, Itel, dan Infinix.

Transsion berhasil menunjukkan pertumbuhan konsisten, menanjak dari urutan kelima pada Q2 2025 menjadi urutan keempat di Q3 2025. Kondisi ini jelas memicu alarm bagi BKK Electronics untuk segera mengambil tindakan restrukturisasi guna mempertahankan dominasi mereka di pasar.

Sejarah Singkat Keterikatan Dua Raksasa

Sejarah antara Realme dan Oppo sebetulnya sangat erat. Realme pertama kali didirikan pada tahun 2018 dan awalnya beroperasi sebagai sub-merek (sub-brand) dari Oppo.

Pada tahun yang sama, Realme memutuskan untuk melepaskan diri dan menjadi perusahaan independen. Meskipun berstatus independen, keduanya tetap berada di bawah payung kepemilikan yang sama, yakni BKK Electronics. Induk perusahaan ini juga menaungi merek ponsel populer lainnya, yaitu Vivo, yang hingga kini masih bertahan dalam jajaran ‘Top 5’ raja HP dunia.

Dampak Realme Gabung Lagi ke Oppo Bagi Pasar Global

Keputusan Realme untuk kembali bergabung ke Oppo diprediksi akan membawa dampak signifikan terhadap portofolio produk keduanya. Penyatuan ini memungkinkan kedua tim untuk menghilangkan duplikasi produk dan fokus pada segmen pasar yang berbeda secara lebih tajam.

Oppo kemungkinan akan memperkuat posisinya di segmen flagship dan premium, sementara Realme akan difokuskan untuk mendominasi pasar menengah dan menengah ke bawah yang sensitif terhadap harga. Strategi ini diharapkan mampu menciptakan kekuatan gabungan yang lebih solid.

Dengan demikian, kembalinya Realme ke pangkuan Oppo dipandang sebagai upaya vital untuk memperkaya penawaran produk dan meningkatkan daya saing mereka. Tujuannya adalah untuk menghadapi persaingan ketat, terutama dari rival besar seperti Samsung, Xiaomi, dan Transsion, di tengah perlambatan pertumbuhan pasar ponsel global.