Uptodai.com - Pajak kekayaan Jensen Huang menjadi sorotan publik setelah bos Nvidia tersebut memberikan respons yang sangat santai terkait potensi tagihan bernilai fantastis. Di saat banyak miliarder teknologi lain mulai melirik opsi untuk hengkang dari California, Huang justru memilih jalan yang berbeda.

Sikap ini sangat kontras dengan langkah yang kabarnya tengah dipertimbangkan oleh sejumlah tokoh besar di Silicon Valley. Nama-nama beken seperti pendiri Google, Sergey Brin dan Larry Page, dilaporkan mulai berpikir untuk memindahkan entitas bisnis mereka demi menghindari beban pajak tambahan yang mencekik.

Namun, Jensen Huang menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa keberatan dengan rencana kebijakan baru tersebut. Ia bahkan mengaku tidak pernah menghitung secara rinci berapa besar dana yang harus ia keluarkan untuk memenuhi kewajiban pajaknya nanti.

Potensi Pajak Fantastis Mencapai Rp 135 Triliun

Berdasarkan data terbaru per Januari 2026, kekayaan bersih Jensen Huang tercatat menyentuh angka US$161 miliar atau setara dengan Rp 2.720 triliun. Angka ini menempatkan pria di balik kesuksesan chip AI tersebut sebagai orang terkaya ke-8 di dunia versi Forbes.

Jika kebijakan pajak California yang baru resmi berlaku, Huang berpotensi terkena pajak kekayaan satu kali sebesar 5 persen dari total asetnya. Nilai tersebut diprediksi mencapai US$8 miliar, yang jika dikonversi ke rupiah menembus angka Rp 135 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.900 per dolar AS.

Menanggapi angka yang sangat besar tersebut, Huang memberikan jawaban yang cukup mengejutkan banyak pihak. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Bloomberg TV, ia menyatakan kesiapannya untuk mematuhi regulasi apa pun yang ditetapkan oleh pemerintah setempat.

Komitmen Jensen Huang Tetap di Silicon Valley

“Saya bahkan tidak pernah benar-benar memikirkannya,” ujar Huang dengan nada tenang saat ditanya mengenai beban tagihan pajak bos Nvidia tersebut. Ia menegaskan bahwa keberadaan Nvidia di California bukan sekadar urusan bisnis, melainkan pilihan tempat tinggal yang ia cintai.

Huang menambahkan bahwa dirinya akan membayar berapapun nominal yang diwajibkan oleh aturan hukum yang berlaku. Baginya, kontribusi melalui pajak merupakan bagian dari konsekuensi tinggal dan berkembang di pusat teknologi dunia tersebut.

“Kami memilih untuk tetap tinggal di Silicon Valley, dan berapa pun pajak yang ingin mereka terapkan, itu bukan masalah besar bagi saya,” tegasnya. Pernyataan ini sekaligus meredam spekulasi mengenai kemungkinan Nvidia memindahkan markas besarnya ke negara bagian lain yang lebih rendah pajaknya.

Tujuan Penggunaan Dana Pajak Miliarder

Usulan mengenai pajak kekayaan ini sebenarnya telah bergulir sejak November 2025 lalu. Inisiatif ini dipelopori oleh serikat pekerja sektor kesehatan dan mendapatkan dukungan penuh dari sejumlah legislator progresif di Amerika Serikat.

Tokoh-tokoh politik seperti Rep Ro Khanna dan Senator Bernie Sanders menjadi garda terdepan yang memperjuangkan skema pajak ini. Target utamanya adalah sekitar 200 orang terkaya yang berdomisili di California, dengan target penerimaan negara mencapai US$100 miliar.

Pemerintah berencana mengalokasikan dana segar tersebut untuk menutup defisit anggaran kesehatan California yang terus membengkak. Selain itu, dana ini akan digunakan untuk membiayai sektor pendidikan publik serta berbagai program bantuan pangan bagi warga yang membutuhkan.

Agar kebijakan ini bisa masuk ke tahap pemungutan suara pada November 2026, penyelenggara membutuhkan setidaknya 870.000 tanda tangan warga. Jika berhasil lolos, para miliarder akan tetap dikenai pajak atas seluruh aset mereka, meskipun mereka memutuskan pindah ke luar California setelah tahun 2026.