Eksklusif: Di Balik Sesi Board of Peace WEF 2026 untuk Gaza
Uptodai.com - Aura ketegangan bercampur optimisme terasa kuat Di Balik Sesi Board of Peace WEF 2026 yang digelar tertutup di Davos, Swiss. Pertemuan ini menjadi panggung utama bagi administrasi Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald J. Trump untuk secara resmi memamerkan visi mereka mengenai solusi konflik di Gaza.
Fokus utama acara tersebut adalah presentasi yang disampaikan oleh Jared Kushner, menantu Presiden Trump, yang juga dikenal sebagai arsitek di balik 20 Rencana Trump untuk perdamaian. Kehadiran Kushner di Congress Hall, lokasi utama Forum Ekonomi Dunia (WEF), menarik perhatian 1.300 peserta undangan, termasuk delegasi tingkat tinggi dari berbagai negara.
New Gaza Plan: Visi Properti atau Diplomasi Komprehensif?
Dengan percaya diri, Kushner berdiri di podium, menyampaikan detail “New Gaza Plan” selama kurang lebih 20 menit. Gaya presentasinya yang khas, lebih menyerupai seorang pengusaha properti di hadapan calon investor, menimbulkan perbincangan di kalangan peserta.
“Kami punya rencana induknya. Tidak ada plan B,” ujar Kushner dengan tegas, menekankan bahwa solusi yang ditawarkan adalah final dan komprehensif. Pernyataan ini menunjukkan keyakinan penuh AS terhadap cetak biru perdamaian yang mereka susun, yang diklaim mampu mengatasi kompleksitas masalah Gaza.
Sebelum Kushner tampil, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, telah lebih dahulu menyampaikan pidato panjang yang memuji inisiatif perdamaian yang digagas oleh bosnya. Sesi ini secara eksplisit dirancang untuk menunjukkan keseriusan AS dalam memimpin upaya resolusi konflik Timur Tengah, meskipun banyak pihak masih skeptis terhadap pendekatan yang sangat berorientasi pada bisnis dan investasi.
Sesi Tertutup yang Penuh Misteri
Meskipun WEF dikenal sebagai forum yang transparan dengan hampir 300 sesi disiarkan langsung melalui platform Forum Live, sesi “Board of Peace” (BOP) ini justru menjadi pengecualian. Pihak penyelenggara WEF sendiri mengakui adanya format yang tidak biasa untuk pertemuan yang dipimpin AS ini.
Dalam jadwal resmi, sesi BOP memang tercantum pada 22 Januari 2026, hari keempat WEF, dengan Presiden Trump, Kushner, dan Utusan Khusus Steve Witkoff sebagai pembicara utama. Namun, tidak ada informasi yang mengindikasikan bahwa di acara ini akan dilakukan pengumuman resmi mengenai anggota pendiri BOP, apalagi mengundang level kepala pemerintahan secara terbuka.
Hal ini berbeda jauh dengan sesi utama lainnya di Congress Hall, di mana kepala pemerintahan yang hadir biasanya hanya disaksikan oleh menteri atau delegasi tingkat rendah dari negara lain. Para pemimpin negara umumnya memilih memonitor pidato mitra mereka melalui siaran langsung, menjadikan tertutupnya sesi BOP sebagai indikasi pentingnya agenda tersebut bagi AS.
Kehadiran Indonesia di Meja Perundingan Rahasia
Indikasi bahwa sesi ini memiliki bobot istimewa mulai terdeteksi ketika Menteri Luar Negeri RI, Soegiono, diketahui tiba lebih awal di Davos. Setelah mendampingi acara Presiden di London, Menlu Soegiono secara khusus menghadiri pertemuan BOP atas undangan khusus dari pihak AS pada malam 20 Januari.
Kehadiran diplomat senior Indonesia dalam pertemuan yang sangat eksklusif ini menunjukkan peran strategis Jakarta dalam isu perdamaian global, khususnya di Timur Tengah. Indonesia dipandang sebagai pemain kunci yang pandangannya perlu didengar oleh inisiator perdamaian tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, mengonfirmasi kehadiran tersebut, namun menekankan bahwa pertemuan berlangsung sangat tertutup dan tanpa dokumentasi visual. “Pertemuan tertutup, tidak ada foto,” jelas Yvonne melalui pesan singkat, menunjukkan sensitivitas tinggi dari diskusi yang berlangsung mengenai masa depan Gaza.
Meskipun detailnya tidak diungkap, partisipasi Indonesia dalam forum AS yang eksklusif ini menggarisbawahi upaya diplomasi aktif RI di tengah dinamika geopolitik yang kompleks. Sementara Presiden Prabowo tiba di Davos pada 21 Januari sore, kehadiran Menlu Soegiono sehari sebelumnya memastikan suara Indonesia telah terdengar dalam diskusi paling krusial di WEF 2026.