Uptodai.com - Desakan keras datang dari regulator global menuntut Tanggung Jawab Elon Musk AI Grok setelah fitur kecerdasan buatan tersebut dituding menyebarkan konten eksplisit dan pornografi di platform media sosial X.

Isu ini mencuat ke permukaan menyusul adanya laporan mengenai kemampuan Grok menghasilkan gambar yang melanggar hukum dan norma kesusilaan, khususnya yang melibatkan anak di bawah umur. Situasi ini menciptakan badai regulasi yang memaksa X, yang dimiliki oleh Musk, untuk segera menjelaskan dan memperbaiki sistem keamanan mereka.

Komisi Eropa dan regulator Inggris menjadi pihak terdepan yang menekan perusahaan teknologi tersebut. Mereka menekankan bahwa kegagalan sistem AI dalam memoderasi konten sensitif merupakan pelanggaran serius terhadap undang-undang perlindungan pengguna digital.

Kecaman Keras Komisi Eropa Terkait Tanggung Jawab Elon Musk AI

Komisi Eropa secara tegas menyatakan bahwa hasil gambar yang dibagikan melalui X adalah ilegal dan sangat mengerikan. Mereka secara spesifik menyoroti fungsi yang sebelumnya dijuluki sebagai spicy mode, yang ternyata tidak memiliki tempat di Benua Biru.

Juru bicara Komisi Eropa, Thomas Regnier, tidak segan melontarkan kritik tajam terhadap fitur yang dianggap meresahkan tersebut. Regnier menegaskan bahwa konten yang dihasilkan Grok melampaui batas yang dapat diterima.

“Ini bukan pedas. Ini ilegal. Ini mengerikan. Ini menjijikan. Ini cara kami melihatnya dan tidak ada tempat di Eropa,” tegas Regnier, dikutip dari laporan Reuters. Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya pandangan regulator Eropa terhadap kegagalan perangkat lunak milik Elon Musk.

Regulator Inggris Menuntut Penjelasan Grok

Tekanan serupa juga datang dari regulator Ofcom di Inggris, yang meminta X segera memberikan penjelasan rinci. Ofcom secara khusus mempertanyakan bagaimana Grok bisa menghasilkan gambar eksplisit, termasuk yang menampilkan orang telanjang dan anak-anak dalam konteks seksual.

Regulator Inggris khawatir X telah gagal memenuhi kewajiban hukum mereka untuk melindungi pengguna, terutama yang berusia muda. Mereka menuntut klarifikasi apakah perusahaan tersebut telah melanggar aturan perlindungan pengguna yang ketat.

Juru bicara Ofcom menyatakan bahwa mereka telah melakukan kontak mendesak dengan X dan xAI untuk memahami langkah-langkah yang diambil. Tujuannya adalah memastikan kepatuhan penuh terhadap kewajiban hukum mereka dalam menjaga keamanan pengguna di Inggris.

Gelombang Regulasi Konten AI X Meluas ke Asia

Fenomena penyebaran konten eksplisit ini bukan hanya masalah Eropa, tetapi telah menjadi perhatian global yang mendesak Regulasi Konten AI X. Beberapa negara di Asia dan Eropa lainnya, seperti Malaysia, Perancis, dan India, telah mengambil sikap tegas terkait insiden ini.

Otoritas di negara-negara tersebut telah memulai penyidikan resmi dan bahkan mengeluarkan perintah pembatasan terhadap X. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas internasional menuntut standar etika yang jauh lebih tinggi dari platform AI yang dikembangkan Musk.

Lini masa X sendiri sempat diramaikan oleh protes pengguna terkait permintaan untuk mengubah gambar perempuan dan anak menjadi vulgar. Banyak pengguna, termasuk dari Indonesia, menyuarakan kekhawatiran serupa mengenai potensi penyalahgunaan teknologi ini.

Grok akhirnya menyampaikan permintaan maaf resmi melalui akun media sosialnya, namun pengakuan tersebut hanya merujuk pada insiden spesifik di akhir tahun 2025. Permintaan maaf itu mengakui adanya kesalahan fatal dalam perangkat keselamatan sistem AI.

“Saya sangat menyesali insiden pada 28 Desember 2025 yaitu ketika saya menciptakan dan membagikan gambar AI dua anak perempuan [usia 12-16 tahun] dengan pakaian seksi berdasarkan perintah pengguna,” tulis pernyataan Grok. Pernyataan tersebut menutup dengan pengakuan, “Ini adalah kesalahan dalam perangkat keselamatan. Saya minta maaf,” menyoroti celah besar dalam moderasi perintah pengguna yang berpotensi merusak.