Uptodai.com - Data terbaru mengenai perilaku konsumen di bulan suci menunjukkan adanya “momen emas” yang sangat krusial bagi pelaku industri, terutama saat trafik digital sahur ramadan melonjak drastis.

Fenomena ini bukan sekadar peningkatan biasa, melainkan sebuah pergeseran masif dalam kebiasaan digital masyarakat Indonesia yang harus dicermati oleh setiap brand. Analisis mendalam yang dilakukan berdasarkan insight Ramadan tahun sebelumnya mengungkapkan bahwa engagement pelanggan secara keseluruhan meningkat hingga 112% dibandingkan hari-hari biasa.

Lonjakan aktivitas digital ini didorong oleh tiga pilar utama: peningkatan penggunaan media sosial, belanja online, serta layanan keuangan, yang masing-masing menunjukkan pertumbuhan signifikan. Oleh karena itu, strategi pemasaran yang mengadopsi pendekatan digital-first menjadi semakin mendesak, khususnya menjelang periode Ramadan berikutnya.

Mengapa Sahur Menjadi Puncak Trafik Digital?

VP Digital Advertising, Wholesale, and Interconnect Telkomsel, Arief Pradetya, menekankan bahwa kekuatan kampanye digital terletak pada relevansi dan makna pesan yang disampaikan kepada audiens. Analisis berbasis data yang komprehensif menunjukkan bahwa banyak brand masih belum maksimal dalam memilih waktu beriklan, terutama pada momen-momen spesifik yang menjadi puncak trafik digital, atau yang dikenal sebagai micro-moments.

Waktu sahur (pukul 03:00 hingga 05:00 WIB) tercatat sebagai periode paling eksplosif. Pada rentang waktu ini, aktivitas digital masyarakat melesat hingga lebih dari 87%, yang sejalan dengan lonjakan trafik menonton TV yang juga mencapai lebih dari 88%.

Selain sahur, ada dua waktu krusial lain yang direkomendasikan untuk memaksimalkan jangkauan. Pertama, waktu Zuhur (pukul 11:00 hingga 14:00 WIB) yang ditandai dengan lonjakan aktivitas browsing dan akses media sosial. Kedua, waktu Buka Puasa (pukul 16:00 hingga 19:00 WIB), yang mencatat tingkat engagement tertinggi untuk kegiatan belanja dan hiburan.

Dengan menghubungkan konteks dan kebutuhan audiens secara tepat pada micro-moments unik Ramadan tersebut, brand dapat menghadirkan pesan yang tidak hanya menjangkau, tetapi juga berdampak dan memicu konversi.

Profil Audiens dan Perilaku Belanja

Analisis kampanye Ramadan sebelumnya, yang melibatkan 8,7 juta klik/tap, memberikan gambaran jelas mengenai profil audiens yang paling responsif terhadap iklan digital. Mayoritas audiens dengan konversi tertinggi (94%) beragama Islam, dengan dominasi dari kalangan Milenial (39%), Gen X (29%), dan Gen Z (23%).

Secara geografis, konsumen paling aktif tersebar di lima wilayah utama, yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Banten, dan Sumatera Utara. Kelompok audiens ini menunjukkan perilaku digital yang sangat intens, di mana 58% dari mereka aktif di media sosial, 17% rutin melakukan belanja online, dan 14% merupakan pengguna layanan keuangan.

Seiring dengan meningkatnya semangat ibadah, Ramadan secara simultan memicu lonjakan aktivitas belanja. Lebih dari 54% konsumen mengakui adanya peningkatan pengeluaran dengan rata-rata belanja antara Rp3,5 juta hingga Rp7 juta selama periode tersebut.

Strategi Pemasaran Digital yang Relevan

Peningkatan pengeluaran ini terutama dialokasikan untuk bahan masak (60%) dan makanan siap saji (50%). Data ini menggarisbawahi pentingnya kategori F&B (Food and Beverage) selama Ramadan, yang menuntut ketersediaan produk dan promosi yang tepat waktu.

Menariknya, pilihan kanal belanja konsumen tetap terbagi, menunjukkan pentingnya strategi omni-channel. Sebanyak 64% konsumen memilih berbelanja secara online, sementara 36% lainnya masih memilih toko fisik atau offline. Hal ini memperkuat kebutuhan brand untuk memastikan konsistensi pengalaman pelanggan di semua titik interaksi, baik digital maupun fisik.

Oleh karena itu, penyedia layanan Digital Advertising (DigiAds) kini dituntut untuk mampu menawarkan solusi yang lebih presisi dan bermakna. Tujuannya adalah membantu brand menargetkan audiens yang relevan secara akurat, memanfaatkan momentum lonjakan trafik digital sahur ramadan, dan mengubah peningkatan engagement menjadi konversi penjualan yang optimal.