Uptodai.com - Kisah Uber di Asia Tenggara, terutama Indonesia, berakhir pada tahun 2018 ketika operasionalnya diakuisisi oleh Grab. Jauh sebelumnya, di pasar Tiongkok daratan, layanan ride-hailing raksasa asal Amerika Serikat ini juga menyerah pada 2016, menjual bisnisnya kepada Didi Global. Namun, setelah hampir satu dekade absen dari pasar-pasar utama tersebut, Uber kembali ekspansi Asia dengan langkah strategis yang mengejutkan.

Ekspansi terbaru ini menandai upaya Uber untuk menancapkan kembali kuku bisnisnya di wilayah Asia Pasifik. Kawasan Makau menjadi titik awal kembalinya layanan ini, meskipun dengan model bisnis yang lebih spesifik dan berbeda dari layanan ojek online atau taksi biasa yang dikenal di Jakarta atau Beijing.

Strategi Baru: Layanan Limusin di Makau dan Hong Kong

Berbeda dengan layanan ride-hailing massal yang pernah mereka tawarkan, Uber kini memilih jalur premium untuk masuk kembali ke Makau. Perusahaan tersebut baru saja meluncurkan layanan pemesanan limusin yang menghubungkan Makau dengan Hong Kong.

Layanan ini bersifat eksklusif, di mana pengguna diwajibkan melakukan pemesanan setidaknya 24 jam sebelum jadwal keberangkatan. Model ini menunjukkan pendekatan yang lebih hati-hati dan terfokus pada segmen pasar perjalanan lintas batas yang lebih mewah.

Uber tetap mempertahankan layanan pemesanan dan pembayaran dalam aplikasi untuk Makau, meskipun operasional taksi di sana sebagian besar dilakukan melalui kemitraan dengan perusahaan lokal. Mereka tidak merinci berapa banyak armada taksi yang terdaftar, namun penawaran ini didukung oleh berbagai bonus perjalanan yang agresif selama bulan pertama peluncurannya.

Keputusan untuk kembali ke Makau, yang sempat mereka tinggalkan sembilan tahun lalu, menunjukkan bahwa Uber melihat potensi besar pada konektivitas antara pusat-pusat keuangan dan pariwisata di Tiongkok Selatan. Sementara itu, Uber masih mempertahankan kehadirannya di beberapa negara Asia lain, termasuk India, Jepang, dan Korea Selatan, yang tidak terpengaruh oleh akuisisi Grab di Asia Tenggara.

Ambisi Robotaxi dan Pasar Global 2026

Di sisi lain, ekspansi Uber di Asia tidak hanya terbatas pada layanan limusin premium. Perusahaan yang dipimpin oleh CEO Dara Khosrowshahi ini juga tengah gencar mengembangkan teknologi taksi otonom atau yang dikenal sebagai robotaxi.

Pengembangan taksi otonom ini menjadi fokus utama Uber untuk pertumbuhan jangka panjang. Mereka berencana mengoperasikan layanan Robotaxi Uber 2026 di lebih dari 10 pasar global hingga akhir tahun 2026 mendatang. Ini adalah lompatan besar dalam strategi perusahaan menuju mobilitas tanpa pengemudi.

Dara Khosrowshahi secara spesifik menyebutkan bahwa dua lokasi potensial yang akan menjadi basis operasional robotaxi ini adalah Hong Kong dan Jepang. Kedua wilayah ini dipilih karena infrastruktur teknologi yang canggih serta regulasi yang dianggap lebih terbuka terhadap inovasi kendaraan otonom.

Langkah ini mengindikasikan bahwa Uber tidak hanya ingin kembali ke Asia, tetapi juga ingin memimpin revolusi transportasi masa depan di kawasan tersebut. Dengan fokus pada teknologi canggih seperti AI dan kendaraan otonom, Uber berupaya membangun fondasi bisnis yang jauh lebih kuat dan tahan banting dibandingkan strategi burning money yang mereka lakukan satu dekade lalu.

Masa Depan Uber di Tengah Persaingan Lokal

Kembalinya Uber ke Asia melalui Makau dan Hong Kong, serta rencana ambisius robotaxi, menunjukkan perubahan strategi yang signifikan. Mereka tidak lagi mencoba bersaing langsung dalam perang harga di pasar ride-hailing yang didominasi Didi di Tiongkok dan Grab di Asia Tenggara.

Sebaliknya, Uber memilih untuk berfokus pada layanan premium dan teknologi mutakhir yang menawarkan nilai tambah unik. Strategi ini diharapkan mampu memposisikan Uber sebagai pemain kunci dalam industri teknologi mobilitas, bukan sekadar penyedia jasa transportasi konvensional.