Cara Bedakan Asam Urat dan Rematik Agar Tidak Salah Obati
Uptodai.com - Memahami cara bedakan asam urat dan rematik menjadi hal yang sangat krusial bagi siapa saja yang sering mengalami gangguan pada persendian. Banyak orang sering kali menyamaratakan kedua kondisi ini hanya karena sama-sama menimbulkan rasa nyeri yang mengganggu aktivitas. Padahal, mekanisme terjadinya kedua penyakit ini sangat bertolak belakang sehingga membutuhkan penanganan medis yang berbeda pula.
Kesalahan dalam mengenali jenis penyakit ini bukan merupakan perkara sepele bagi pasien. Dalam praktik medis, asam urat dan rematik memang sama-sama menyerang area persendian melalui proses peradangan. Namun, pemicu utama di balik pembengkakan dan rasa kaku tersebut berasal dari sistem tubuh yang tidak sama.
Mengutip data dari WebMD, artritis reumatoid atau rematik dan asam urat termasuk dalam rumpun penyakit artritis. Keduanya mampu menyebabkan pembengkakan, nyeri hebat, hingga kekakuan yang membatasi gerak tubuh. Meskipun memiliki kemiripan gejala pada permukaan, perbedaan utamanya terletak pada akar penyebab masalah tersebut.
Mengenal Mekanisme Penyakit Autoimun dan Kristal Darah
Rematik pada dasarnya merupakan sebuah penyakit autoimun yang menyerang sistem pertahanan tubuh manusia. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh justru berbalik menyerang jaringan sehat yang melapisi persendian. Akibatnya, muncul peradangan kronis yang bisa memicu kerusakan permanen pada struktur tulang rawan.
Karena berkaitan erat dengan sistem imun, dampak rematik tidak hanya berhenti pada sendi saja. Penyakit ini memiliki sifat sistemik yang berarti bisa memengaruhi organ tubuh lainnya secara luas. Pasien rematik sering kali mengalami gangguan pada jaringan kulit, kesehatan mata, hingga fungsi jantung dalam jangka panjang.
Sementara itu, asam urat muncul akibat adanya penumpukan zat asam urat yang berlebihan di dalam aliran darah. Tubuh manusia secara alami membentuk zat ini saat memecah purin yang terkandung dalam makanan tertentu. Mengonsumsi daging merah atau jeroan secara berlebihan sering kali menjadi pemicu utama lonjakan kadar tersebut.
Dalam kondisi normal, ginjal akan membuang sisa asam urat melalui urine agar tidak menumpuk. Namun, jika kadarnya terlalu tinggi, zat ini akan mengkristal dan membentuk struktur tajam menyerupai jarum. Kristal-kristal inilah yang menumpuk di sela-sela sendi dan memicu rasa nyeri yang luar biasa saat penderita bergerak.
Cara Bedakan Asam Urat dan Rematik dari Pola Gejala
Meskipun sama-sama memicu gejala nyeri sendi, pola kemunculan rasa sakit pada kedua penyakit ini memiliki ciri khas tersendiri. Rematik biasanya mulai menunjukkan tanda-tandanya dari persendian kecil seperti pada area tangan dan kaki. Rasa nyeri ini umumnya bersifat simetris, yang berarti menyerang kedua sisi tubuh secara bersamaan.
Sendi yang terkena rematik akan terasa hangat saat disentuh, tampak bengkak, dan terasa sangat kaku. Seiring berjalannya waktu, peradangan ini dapat menyebar ke sendi yang lebih besar seperti siku, bahu, hingga lutut. Penderita rematik juga sering mengeluhkan rasa lelah yang berlebihan serta demam ringan yang tidak kunjung reda.
Kekakuan sendi pada penderita rematik biasanya mencapai puncaknya di pagi hari setelah bangun tidur. Rasa kaku ini umumnya berlangsung cukup lama, sering kali lebih dari satu jam, sebelum akhirnya membaik setelah melakukan aktivitas. Hal ini berbeda dengan nyeri sendi biasa yang mungkin hilang lebih cepat dengan peregangan ringan.
Ciri Khas Serangan Asam Urat yang Mendadak
Berbeda dengan rematik yang berkembang perlahan, asam urat sering kali datang secara tiba-tiba tanpa peringatan sebelumnya. Penderita biasanya merasakan nyeri yang sangat intens, bahkan sering kali digambarkan seperti sensasi terbakar pada sendi. Serangan ini paling sering terjadi pada malam hari atau menjelang subuh saat suhu tubuh menurun.
Lokasi serangan asam urat juga cenderung lebih spesifik dan biasanya hanya menyerang satu titik sendi saja. Jempol kaki merupakan area yang paling sering menjadi sasaran utama kristal asam urat tersebut. Meski demikian, peradangan tetap bisa muncul pada bagian pergelangan kaki, lutut, hingga pergelangan tangan jika kadar asam urat tidak terkendali.
Area sendi yang terkena asam urat akan terlihat sangat merah, mengilap, dan membengkak secara signifikan. Sentuhan ringan sekalipun, seperti terkena selimut, bisa memicu rasa sakit yang tak tertahankan bagi penderitanya. Durasi serangannya bisa berlangsung selama beberapa hari hingga satu minggu jika tidak segera mendapatkan pengobatan tepat.
Langkah Diagnosis dan Penanganan yang Tepat
Mengingat adanya perbedaan mendasar ini, melakukan pemeriksaan laboratorium menjadi langkah yang sangat bijak. Dokter biasanya akan menyarankan tes darah untuk melihat kadar asam urat atau keberadaan faktor reumatoid dalam tubuh. Hasil tes ini akan menentukan apakah pasien membutuhkan obat penurun asam urat atau obat penekan sistem imun.
Mengabaikan perbedaan ini dapat memperburuk kondisi kesehatan pasien di masa depan. Rematik yang tidak tertangani dengan benar dapat menyebabkan deformitas atau perubahan bentuk sendi yang permanen. Di sisi lain, kadar asam urat yang terus dibiarkan tinggi berisiko memicu terbentuknya batu ginjal yang berbahaya.
Menjaga pola makan dan gaya hidup sehat tetap menjadi kunci utama dalam mengelola kedua kondisi ini. Bagi penderita asam urat, membatasi asupan makanan tinggi purin dan memperbanyak minum air putih sangatlah membantu. Sementara bagi penderita rematik, olahraga ringan secara rutin dapat membantu menjaga kelenturan sendi dan kekuatan otot di sekitarnya.